Sehari ‘Mengeliling Indonesia’ Naik Sepeda

Karena masih dalam masa Lebaran 1437 H, saya Atrasina Adlina memohon maaf jika ada salah selama ini. Entah karena postingan saya atau kata-kata yang menyinggung teman-teman semua. Maafkan saya. 

Setelah liburan seminggu dan silaturahmi bersama keluarga, akhirnya saya harus kembali ke rutinitas di Jakarta. Tapi ketika kembali ke Jakarta saya mengajak adik bungsu untuk menikmati Jakarta. Kami memiliki rencana untuk ‘mengeliling Indonesia’. Awalnya dia yang masih kelas 6 SD bingung, “kok kita mau keliling Indonesia sih mbak?” ujarnya polos. Oia, namanya Maulana Abdurahim. Tapi biasa kami panggil Dede atau Maul. Anak yang paling sering disuruh-suruh dimintai tolong sama kelima kakaknya. Thank you Maul. 
Akhirnya kami memutuskan untuk pergi mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah yang terletak di Jakarta Selatan. Saya berjanji untuk menjemputnya di Stasiun Bojonggede karena saya sedang menyelesaikan tugas di Jakarta Selatan. Sehingga ini menjadi perjalanan Maulana pertama kali menggunakan angkot ke stasiun Bojonggede sendirian. Awalnya saya deg-degan apakah Maulana bisa tiba di Stasiun Bojonggede dengan selamat. Karena muka dia kayak anak ilang sih, takutnya nanti dia dibawa sama Tante-tante karena ditawarin sekotak es krim. Hehe. Tapi alhamdulillah Maulana tiba dengan selamat. Kami pun singgah di rumah makan padang untuk mengisi perut terlebih dahulu. 
Saya segera mencari rute untuk menuju Taman Mini Indonesia Indah menggunakan transportasi publik. Cara termudah menuju TMII, jika menggunakan Commuter Line, turun di Tanjung Barat. Dari sana kita bisa menggunakan Angkot KWK S 15 A yang berwarna merah. Tapi karena kita buru-buru, akhirnya kita memilih untuk naik Grabbike hingga tiba di Pintu Utama TMII. Tarif yang tertera di layar handphone adalah 11 ribu, lumayan lah untuk naik berdua. 
Setibanya di gerbang TMII kami segera membeli tiket. FYI, Maul membayar semuanya sendiri. Mulai dari makan siang, tiket kereta, tiket masuk TMII. Anak kecil yang hebat! Dia sampe sempet nawarin “Mbak, biar aku aja yang beli tiket kereta buat mbak,” ujarnya sambil mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu. Entah siapa yang kasih uang sebanyak itu buat dia.. btw, adek gue itu ketua geng di kampung gue! Ahaha.
Tiket masuk ke TMII sebenarnya Rp. 10,000, tapi karena sedang peak season, maka tiket pun naik menjadi Rp. 15.000 hingga tanggal 17 Juli 2016. Setelah masuk ke TMII, kami pun berdiskusi untuk naik sepeda atau memilih naik bis wisata. Tarif sepeda tandem Rp. 25.000 per jam, sedangkan bis wisata Rp. 10.000 per orang. Maul lebih memilih naik sepeda karena dia emang suka banget sama sepeda. Lah kalau saya? Panas-panas begini males banget naik sepeda. Tapi karena hari ini adalah hari Maul, yasudah saya mengalah dan kami menuju counter penyewaan sepeda.  
di depan rumah Gadang
Untuk meminjam sepeda hanya perlu menitipkan KTP atau SIM dan kita sudah mendapatkan sepeda tandem! Yeah! Kami pun memulai perjalanan ke Keong Mas. Pengennya sih mau nonton, tapi apalah daya harga tiketnya mahal banget. Rp. 60.000 coy! Bisa untuk makan di Warung Padang 3 kali pake rendang atau ayam. Kami pun hanya berfoto di depan Teater Keong Mas. Dan segera melanjutkan perjalanan ke Museum Olahraga Nasional yang terletak dekat dengan pintu 3. Awalnya kami kesini karena Maul suka banget sama olahraga Sepakbola. Doi pendukung setia Persib padahal dulu dia dukung Persija dan kacaunya doi tinggal di Bogor, harusnya kan dukung Persikabo. Haha. Tapi udah ak iming-imingin untuk dukung PSM ke depannya. Siapa tau mau masuk Unhas juga. #eh Balik lagi ke Museum Olahraga Nasional. Museum ini didirikan oleh Presiden Soeharto dan berdiri dengan gagah hingga saat ini. Sejarah atlet kenamaan yang dimiliki oleh Indonesia terpampang disini. Semuanya hebat-hebat! Tapi Maul kecewa karena gak ada sejarah Persib di dalam museum. Wkwk. Oia, harga tiket masuk ke dalam museum untuk orang dewasa Rp 5.000 sedangkan anak-anak dibawah 15 tahun Rp. 2.000. 
di depan Keong Mas
Segera setelahnya kami segera melanjutkan perjalanan. Titik yang kami singgahi adalah rumah adat Sumatera Selatan. Maulan belajar mengenai hewan bernama Tapir. Sepertinya hewan ini sudah jarang ditemukan di hutan karena pembalakan hutan secara liar dan masif di pulau Sumatera. Sedih rasanya jika anak-anak Indonesia tidak bisa mengenal hewan-hewan secara langsung nanti. Mereka hanya mendengar nama dan melihat gambar saja. Hiks. Sesudah itu kami melanjutkan perjalanan ke rumah adat Gadang milik Sumatera Barat. Rumah Datuk di kampung halaman Datuk di Sulit Air masih berupa Rumah Gadang seperti ini. Jadi kita menyempatkan diri untuk foto-foto di depan rumah Gadang. Ciiiieee, Maul udh ke Padang.. haha
Perjalanan dilanjutkan dan kami singgah di rumah adat Kalimantan Barat, Maul mencoba menaiki rumah Betang. Dia ketakutan gitu dan gak mau sampai di atas. Haha. Lucu juga. Akhirnya kami segera mencari rumah adat lain dan Sulawesi Selatan menjadi tujuan kami. Kenapa? Karena Maul sering dengar kata Makassar jadi dia pun penasaran. Setibanya di rumah adat Sulawesi Selatan ternyata ada beberapa jenis rumah yaitu rumah adat Toraja, rumah adat Gowa serta rumah ada Makassar. Sayangnya langit sudah mulai menggelap. Kami pun segera mengayuh sepeda menuju rumah adat di Nusa Tenggara Timur. Disana kami hanya foto-foto dan segera memacu sepeda menuju rumah adat Jawa. Kami memilih singgah di rumah ada Jawa Tengah untuk melihat replika Candi Borobudur dan Prambanan. Maul terlihat sangat senang dengan kegiatan hari ini. Walaupun kita sempat kehujanan dan tidak mendapatkan tempat berteduh tapi kita benar-benar senang hari ini. Sudah lama gak gila-gilaan kayak gini. Hehe. 
Semoga Maul bisa menjelajah Indonesia suatu saat. Ia bermimpi menjadi seorang pilot di masa depan. Mari doakan.. 🙂
Ditulis di Kantor DFW-Indonesia
19:07 WIB 15 July 2016
Sambil menyesap kopi Mandailing Tanah Karo yang wangi.

 

You may also like

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *