Selamat Bertambah Mesra, Yah Bun!

Seharusnya kado ini Ananda berikan ketika tanggal 28 Januari 2015 kemarin, tepat dimana kalian berdua merayakan ulang tahun pernikahan perak.
Ayah Bunda, sadarkah ini surat pertama yang dibuat oleh anak pertama kalian? Belum pernah sepucuk surat pun ananda buat untuk kalian berdua. Tapi mungkin memang selembar surat tidak pernah cukup untuk menjabarkan rasa sayang yang telah kalian berdua berikan pada Adlina. Mungkin dibutuhkan sebuah kitab panjang yang bisa menceritakan kisah hidup keluarga kita dan ucapan terima kasih yang tak putus-putus.
Ayah Bunda, ketika anak pertama ini sedang menulis surat pertamanya, Adlina sedang berada dalam keadaan sehat wal afiat, namun merasa berdosa. Apa pasal? Adlina merasa menjadi anak durhaka, bayangkan, Adlina hanya bisa mengubungi Ayah dan Bunda pada hari minggu. Itupun terkadang hanya 1 jam. Tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan 167 jam lainnya. Terkadang satu jam pun sering Adlina percepat karena janji-janji yang Adlina buat untuk memenuhi hasrat dan nafsu Adlina. Selalu ingin berpergian ke sebuah tempat. Maaf..
Ayah, Bunda, usia pernikahan kalian sudah memasuki umur 25, bagi Adlina, itu adalah usia yang cukup matang dalam menempuh setiap lika-liku kehidupan. Ayah, Bunda, masih ingatkah bagaimana cara keluarga kita melewati kehidupan? Melewati masa suka dan duka bersama-sama. Adlina tidak bisa berbicara mengenai duka terlalu banyak karena memang suka lebih sering mewarnai kisah hidup keluarga kecil kita. 
Baiklah, kita coba merunut kehidupan yang telah diberikan Allah SWT kepada keluarga kita. Ini sekedar ingatan normatif seorang anak (pihak ketiga) yang melihat dari sudut pandang cinta kalian berdua. ๐Ÿ˜€
Ayah Bunda, cerita tentang pernikahan kalian yang selalu dikisahkan berulang-ulang oleh keluarga besar sepertinya menjadi awal permulaan kisah keluarga kita. Kalian dipertemukan karena masih memiliki hubungan keluarga. Namun cerita romantis yang Adlina lihat di buku harian Bunda rasa-rasanya sudah menjelaskan kenapa Bunda bisa tergila-gila dengan Ayah. Sosok tampan yang jago main gitar, suara bass yang merdu, gaul dan juga memiliki jiwa pemimpin. Dan pesona lugu Bunda yang mampu meluluhkan hati Ayah yang seringkali dingin.  
Ayah Bunda, kalian pun melangsungkan ikatan janji suci itu pada tanggal 28 Januari 1990. Terlihat rona bahagia Ayah dan Bunda lewat berlembar-lembar foto. Namun Bunda terlihat letih, sepertinya suntiangโ€™ (hiasan kepala untuk pernikahan adat Padang) itu sangat berat. Senyum sumringah Ayah terlihat mengembang lebar. Sepertinya Ayah terlihat lebih bahagia telah mendapatkan Bunda. ๐Ÿ˜€ Heheh. 
Ayah Bunda, kehidupan kalian di tahun pertama pasti sangat menyenangkan. Karena toh, anak pertama yang diidamkan akhirnya hadir di muka bumi setahun kemudian. Menjelma menjadi seorang putri yang cantik dan disayangi semua orang. Karena anak tersebut tergolong cucu pertama di kedua belah pihak. Tak heran kelahirannya menjadi dinantikan. 
Ayah Bunda, kalau ingat nama yang pertama diberikan oleh Ayah Bunda, Adlien selalu ingin tertawa. Nur Adlina Nubla? Namanya indah, tapi kalau berada di komunitas Sunda, sudah pasti nama itu akan berubah menjadi Nublek (jatuh terjerembab). Ah sudahlah, yang pasti anak itu saat ini bernama Atrasina Adlina.  
Ayah Bunda, entah bagaimana cerita kalian ketika memasuki masa bahagia pernikahan di usia-usia awal. Adlien selalu membayangkan argumentasi-argumentasi kecil kalian ketika ingin makan malam romantis untuk mengenang ulang tahun pernikahan kalian. Atau mungkin kalian tidak pernah melakukan selebrasi kecil setiap tahunnya. Tapi yang pasti jangan lupakan kecupan-kecupan di kening, ketika kalian berdua saling mengingatkan. Selalu lucu rasanya melihat Bunda yang terlihat geli ketika dicium keningnya oleh Ayah di depan anak-anak. Adlien selalu mengingat momen tersebut di dalam pikiran. Kelak, seorang laki-laki akan memberikan kecupan di kening Adlien. Semoga. 
 
Ayah Bunda, masih ingatkah kalian berdua dengan teriakan dan tangis kami berenam ketika saling bertengkar. Ketika itu setiap hari selalu ada pecah di dalam rumah, entah itu gelas, kaca jendela bahkan pintu kamar. Seringkali Bunda melerai pertengkaran Adlina dan Milzam hingga seringkali ikut terluka. Sedangkan Ayah lebih memilih duduk diam dan terlihat menikmati proses kami untuk bertengkar. Entah apa yang ada di dalam pikiran Ayah saat itu, tapi yang pasti proses bertengkar itu menjadi sebuah fase pendewasaan diri.  Mulai saat ini, Adlina dan adik-adik menjamin, tidak akan ada lagi pertengkaran fisik seperti yang kerap kami lakukan 10 tahun yang lalu.
Ayah Bunda, ingatan kolektif Adlien juga selalu senang melihat ketika Ayah dengan gagah mengambil alih tugas memasak di rumah. Saat itu Bunda sangat lelah oleh pekerjaan kantor dan sulitnya perjalanan yang harus ditempuh. Dengan terampil, ayah akan memasak apapun yang ada di dalam kulkas. Entah itu tahu goreng, ikan goreng, tempe goreng dan juga sayur. Adlina tidak akan pernah lupa sambal colo-colo yang selalu ayah buat jika sedang memasak ikan. Bahan berupa kecap, bawang merah, dan cabai yang dicincang kasar kemudian dicampur air. Hmmm. Masakan sederhana namun mengenyangkan keluarga kita. < /div>

Ayah Bunda, Adlina juga selalu mengingat ketika kita makan bersama di dalam satu wadah. Cara makan ala Rasulullah SAW , Istima’i yang seringkali kita lakukan bersama. Biasanya Milzam akan menyisakan nasinya. Kemudian Ayah dan Bunda akan menghabiskannya. Karena itulah Ayah dan Bunda selalu mendapat julukan tempat sampah. Heheh. Karena kalian berdua mau menghabiskan sisa makanan anak-anaknya. Tapi dari hal ini, Adlina belajar untuk selalu menghabiskan makanan yang tersedia di piring. 
 
Ayah Bunda, apakah Bunda dan Ayah ingat ketika keluarga kita pertama kalinya bisa pergi foto keluarga bersama? Kita memilih tempat yang murah untuk sekedar mendapatkan kenangan indah tentang sebuah keluarga. Kita juga menghabiskan waktu bersama. Itu adalah 4 jam yang bahagia untuk keluarga kita. Setelah sekian lama, akhirnya kita punya foto keluarga lengkap yang terpampang di ruang keluarga. 
Ayah Bunda, apakah Bunda dan Ayah masih ingat ketika kita mengisi motor dengan 5 orang? Hany di depan, kemudian ayah, Adlien, Milzam dan kemudian Bunda? Hihi. Kehidupan ini mengajarkan Adlina untuk saling berbagi. Inshaa Allah, Adlina akan mencoba menjadi kakak yang bertanggung jawab kepada adik-adik. Aamin ya rabbal alamin
Terima kasih ya Ayah Bunda. Inshaa Allah  tulisan ini adalah pengingat bahwa Adlina sudah memasuki tahap dewasa dan siap menjadi kakak yang lebih baik. Selamat bertambah mesra, kecup jauh dari anak sulung kalian… :-*
With love,
Anak pertama kalian yang selalu ganteng eh keren deh. ๐Ÿ˜€
Atrasina Adlina  
Tulisan ini ditulis sambil denger lagu One Last Cry
di Harta Samudra, 11 Maret 2015, 6:28 PM

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *