Setelah Sarjana, Apa Lagi?

Setiap mahasiswa, (bahkan saya) beriming-iming akan menjadi sarjana sesuai cita-citanya. Setelah sarjana, apakah itu berarti perjuangan dan perjalanan panjang yang cukup melelahkan menjadi mahasiswa sudah selesai? Jawabnya tentu “TIDAK”, tantangan baru pasti menghadang langkah anda setelah meraih gelar sarjana. Tantangan yang tidak kalah hebatnya disaat masih kuliah, tantangan yang menuntut kesiapan intelektual yang tinggi dan bermental baja. Bagaimana tidak, sebab di situlah anda nantinya diperhadapkan dengan tanggung jawab yang cukup besar. Di situlah nantinya anda mengaplikasikan atau mengamalkan ilmu yang diperoleh sejak di bangku kuliah dan sekaligus membuktikan kemurnian hasil IPK yang diperoleh dengan memperlihatkan kualitas sebagai sarjana terhadap masyarakat. Nah, siapkah anda untuk menghadapi dan menghalau tantangan baru itu?
Sudah pasti, nikmat berbaur bangga terasa tatkala tiba saat di wisuda, dan hal ini akan turut dirasakan oleh kedua orang tua dan handai taulan lainnya. Kenikmatan dan kebanggaan tersebut biasanya akan mencapai puncak klimaksnya setelah berlalu sampai satu minggu lamanya. Setelah itu manakala belum ada bayangan akan jadi apa nantinya, maka kenikmatan dan kebanggaan itu surut dan berganti dengan kecemasan dan kegelisahan yang berkepanjangan. Hal ini terjadi karena sang sarjana tersebut memasuki babak kebingungan dengan kecemasan, di saat itu ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri “Jadi apakah saya ini nantinya? Mampukah saya bersaing diantara beribu-ribu pencari kerja, dan kalau tidak lolos dalam suatu seleksi di pasaran kerja mau dikemanakan diri ini?”. Itu hanya satu pertanyaan, belum lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang mulai menggeogoti pikirannya, yang akhirnya membawa dia jadi pesimis menyosong masa depan.
Menyandang gelar sarjana bukanlah hal yang ringan, sebab di mata masyarakat seorang sarjana berarti manusia yang mempunyai nilai lebih dari manusia lainnya. Otomatis, persepsi masyarakat terhadapnya bahwa sarjana ini mampu berbuat yang berguna untuk pribadinya, bangsa dan negara. Tapi pada kenyataannya sekarang, tidak sedikit penyandang gelar sarjana tidak mampu berbuat lebih banyak sesuai dengan harapan masyarakat, bahkan tidak sedikit yang sama sekali belum mampu berbuat apa-apa. 
Mengapa demikian? Jawabannya tentu beraneka ragam : faktor kesempatan, faktor gengsi, faktor psikologis, dan lain-lain faktor yang dianggap berpengaruh. Sementara untuk masyarakat awam terlalu sulit untuk menerima dan memaklumi alasan-alasan yang biasa dikemukakan dan bahkan tanpa segan memberikan tanggapan yang memojokkan penyandang gelar sarjana yang belum bisa apa-apa. Di titik inilah beratnya menjadi seorang penyandang gelar sarjana. 
Untuk mendapatkan lapangan pekerjaan bagi seorang sarjana baru tidaklah semudah membalik telapak tangan, hal ini disebabkan karena membengkaknya jumlah sarjana tiap tahunnya. Untuk periode Maret 2013, tercatat 1.200 sarjana untuk Universitas Hasanuddin. Belum tercatat angka sarjana di seluruh nusantara. Hal ini tidak diimbangi dengan lapangan kerja yang tersedia. Sehingga persaingan di pasaran kerja semakin ketat. Bagi mereka yang beruntung terjaring dalam suatu pasaran kerja tidaklah jadi soal, tapi bagi mereka yang kurang beruntung bagaimana? Mampukah mereka mengambil alternatif lain ataukah mereka itu hanya memilih diam dalam kepasrahan sambil menunggu datangnya keberuntungan, dan sampai kapankah mereka itu harus menunggu?
Dalam kondisi yang tidak menentu atau tidak pasti bagi dirinya, seorang sarjana dituntut untuk bisa mengambil alternatif lain dalam hal kerja guna menghindari sorotan negatif dari masyarakat guna menyangkal pengangguran intelek. Namun, adakah kesiapan baginya untuk itu? Dalam hal seperti ini, di sinilah perlunya jauh-jauh sebelum sarjana membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan lain di luar dari ruang lingkup kesarjanaan anda. Sebagai cadangan terhadap segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Dan tidak ada jeleknya memiliki beraneka ragam pengetahuan dan keterampilan lain, justru sebaliknya malah semakin baik sebagai penunjang untuk meraih sukses di masa mendatang. Misalnya saja mencoba menjadi pengusaha kecil-kecilan ketika masa mahasiswa bisa mengasah kemampuan menggaet konsumen. Keterampilan yang bisa digunakan nantinya.

Kendala yang kebanyakan melanda penyandang gelar sarjana adalah adanya gengsi tinggi yang dimilikinya. Karena gengsi, mereka tidak ingin bekerja sembarangan, mereka ingin mendapatkan lapangan pekerjaan yang sepadan dengan tingkat kesarjanaannya, mereka ingin langsung mendapatkan kedudukan terhormat tanpa harus meniti karier dari bawah. Tanpa itu, kebanyakan mereka lebih baik memilih mengungkung diri dalam rumah sembari merenungi nasib dan bermimpi tentang masa depan yang indah. “Ah, suatu impian belaka yang rasanya tak mungkin tergapai tanpa dibarengi dengan usaha dan kerja keras”.
Kasus tersebut di atas tak jarang dialami oleh penyandang gelar sarjana baru dan ini sekaligus membuktikan bahwa menyandang gelar sarjana itu tidaklah selamanya menyenangkan. Gelar tersebut menuntut untuk bisa dipertanggungjawabkan baik terhadap diri sendiri, keluarga, maupun kepada masyarakat. Terkadangan akan menjadi bumerang bagi sipenyandang gelar manakala tidak mampu untuk mewujudkan impiannya, karena pasti jadi beban jiwa dan pikiran. Bila memperhatikan di sekitar anda, anda akan menjumpai beberapa penyandang sarjana yang mempunyai nasib tidak mujur alias belum mendapatkan kesempatana kerja. Dan tentunya hal ini akan menjadi trauma bagi adik-adinya yang sementara berjuang di bangku kuliah, ia akan dihantui bayangan dan pikiran jangan sampai akan mengalami nasib serupa dengan kakaknya yang berstatus penganggur intelek. Sehingga dengan demikian, maka tidaklah menutup kemungkinan adanya segelintir mahasiswa yang sengaja mengulur-ulur waktu wisudanya hanya karena takut menghadapi kenyataan seperti itu, ia menghindari pertanyaan “kerja dimana?” tanpa bisa memberi jawaban yang diharapkan. Tindakan semacam ini bukannya menyelesaikan masalah, tapi menunda masalah yang mau tak mau menuntutu untuk diselesaikan. Sifat semacam tersebut mencerminkan rasa kurang percaya pada diri sendiri dan ini adalah semacam penyakit kejiwaan. 
Sarjana jebolan zaman sekarang memang semakin besar tantangan yang harus dihadapi. Gelar sarjana sekarang bukan lagi merupakan jurus pamungkas seperti
pada tempoe doloe. Realitanya gelar sarjana terbukti tidak lagi memberikan jaminan seratus persen untuk bisa mewujudkan impan dan harapan akan masa depan yang cemerlang. Misalnya Pak Dahlan Iskan yang berhenti kuliah, toh nyatanya beliau menjadi Menteri BUMN saat ini. 
Dibalik kenyataan pahit yang sudah dijabarkan diatas, masih ada kok penyandang gelar sarjana yang bernasib baik tanpa harus bingung dan cemas menghadapi masa depannya. Begitu selesai, pekerjaan sudah menanti, bahkan diantaranya ada yang langsung ditawari pekerjaan bergaji tinggi. Sungguh bahagia bagi mereka yang mengalami demikian. (Semoga saya salah satunya, nanti.. Amin ya rabbal alamin).
Tapi ingat! Kenyataan semacam itu akan dialami oleh mereka yang memiliki prestasi yang gemilang selama duduk di bangku kuliah, dan meraih prestasi yang gemilang adalah suatu hasil usaha dengan perjuangan yang tak mudah. Ia menuntut keuletan, ketekunan, dan ketabahan. Adakah anda memiliki yang demikian itu? Karena itu marilah kita mengintrospeksi diri sudah sejauh mana anda telah memiliki kualitas sebagai seorang sarjana maupun bibit-bibit penyandang gelar sarjana kelak. Bagi yang sementara berjuang di arena ilmu berpikirlah selangkah lebih maju dan bekalilah diri sebanyak mungkin dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan sebelum datangnya gelar sarjana, biar anda (bahkan saya) tidak tergolong orang bingung dan cemas nantinya. Akhirnya, mari meniti hari-hari bersama keyakinan!
#salam buat Laskar Sebatik dan Mezeight. Kita memilih Sarjana karena merasa siap menyosong masa depan bukan untuk merasa takut!!

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *