Suatu Senja di Pulau Serangan

Menikmati Senja di Pulau Serangan
Setelah berkutat dengan kepenatan aktivitas harian di Bali, seorang kakak, Mas Teguh namanya, mengajak saya untuk berjalan-jalan (22/01). Ia mengajak pergi ke Serangan, hunting foto katanya. Saya dengan senang hati mengikuti ajakannya. 

Kami pun menyusuri jalan bypass Ngurah Rai untuk menuju Pulau Serangan. Saya sudah membayangkan akan menaiki kapal kecil untuk tiba di pulau tersebut. Ternyata saya salah, kami hanya melewati sebuah jembatan panjang. Di sisi kiri kita bisa melihat mangrove jenis Rhizophora tumbuh subur. Di samping kiri, ada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang menguarkan bau busuk. Hiks. 

di tempat penangkaran

Mas Teguh berencana membawa saya ke tempat penangkaran penyu di Pulau Serangan. Sesampainya di ujung jembatan, kami diminta membayar 10.000 rupiah untuk memasuki tempat penangkaran penyu.  Tempatnya agak tersembunyi, di depan tempat penangkaran kalian bisa melihat hamparan mangrove menghijau.  
Kami disambut oleh patung penyu hijau berukuran 1 meter. Ia terpampang di depan hatchery penyu. Pak Made Karsa, founder Turtle Conservation and Education Centre menyambut kami. Karena beliau dengan Mas Teguh memang sudah kenal. Menurut Mas Teguh, WWF-Indonesia ikut aktif dan berkontribusi terhadap penyu di tempat ini. 
Kura-kura
Saya pun langsung menuju hatchery penyu-penyu. Memasuki pintu gerbang, saya langsung disuguhkan oleh kolam-kolam kecil yang berisi tukik (anak penyu.red). Jenis penyu yang ada di hatchery ini mulai dari penyu hijau, penyu lekang dan penyu sisik. Saat ini status penyu sudah masuk dalam kondisi terancam punah, misalnya saja penyu hijau, penyu tempayan dan penyu lekang masuk dalam kategori terancam punah. 
Tukik ini dibeli dari nelayan yang mendapatkan telur-telur di pinggir pantai. Telur dibeli dari nelayan seharga 4 ribu per butir. Menurut salah satu penjaga, pada zaman dulu, penyu pernah digunakan sebagai salah satu bagian dari sebuah Upakare (upacara keagamaan) di Bali. Namun saat ini penggunaan penyu sebagai odalan sudah jarang dilakukan. Biasanya diganti dengan babi, ayam, sapi dan lain sebagainya. 
Tempat Penetasan Telur Penyu
Tempat ini biasa dikunjungi oleh anak-anak dari berbagai sekolah. Disini anak-anak diajarkan mengenai jenis-jenis penyu yang ada di Indonesia. mereka pun diperbolehkan untuk memegang tukik dan penyu yang ada. Namun tidak boleh terlalu lama, jika penyu dipegang terlalu lama, maka ia akan stress dan akhirnya tidak mau makan. 
Di hatchery ini ada penyu yang sedang dalam kondisi tidak baik. Menurut Mas Teguh, untuk bisa membedakan penyu yang sehat dan tidak bisa dilihat dari cara berenangnya. Jika penyu terapung di permukaan air tanpa melakukan apapun, hal itu menandakan penyu sedang sakit. Berbeda dengan penyu yang bergerak aktif kesana-kemari dan tidak terapung, menandakan penyu dalam keadaan sehat. Selain itu ada juga penyu yang terluka dikarenakan manusia. Disini ada penyu yang karapasnya hancur terkena baling-baling kapal, atau lengannya sudah putus karena tersangkut jaring.
Pak Made dan kawan-kawan merawat penyu-penyu ini hingga dewasa dan jika memungkinkan akan dilepas ke laut. Selain penyu dewasa, mereka juga melepas tukik-tukik ke laut pada bulan-bulan tertentu. Hal ini menjadi salah satu strategi pencarian dana bagi tempat ini untuk bertahan. Dengan adanya bayaran dari pengunjung, ataupun orang yang mencoba melepaskan penyu di laut, mereka mendapatkan biaya bagi perawatan penyu yang lain. Selain itu, mereka juga mendapatkan dana CSR dari hotel yang menawarkan paket wisata bagi wisatawan di tempat tersebut. 
Sore itu, saya semakin menyadari bahwa penting bagi kita untuk terus memperhatikan dan mengawasi keberlanjutan spesies lain selain Homo sapiens. πŸ˜€

Vihara terbesar di Denpasar, Bali
Ditulis di Kantor Fishing Living Denpasar, Bali
23 Januari 2014 13:04 Wita

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *