Sumber Daya Alam adalah Kutukan

Resource Curse adalah sebuah teori dimana kekayaan malah membuat semakin miskin atau bisa disebut dengan Paradox of Plenty. Kejadian ini dimana sebuah negara yang memiliki kekayaan dari sumber daya alam yang tak bisa diperbaharui (non-renewable resources) melimpah. Namun sumber daya manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengelolanya sehingga tingkat ekonomi negara tersebut sangat stagnan. 
Indonesia adalah salah satu contohnya, menurutku. Setelah empat tahun saya menjadi seorang anak kelautan semakin banyak realita yang saya sadari bahwa negara ini butuh pertolongan. Bukan dengan menambah utang negara dari bank dunia. Kurangnya kesadaran untuk mengelola sumber daya alam malah semakin membuat kita terpuruk. 
Banyaknya orang yang seakan tidak peduli dengan keadaan lingkungan di negara kita. Dengan mudahnya mereka membuang sampah di sungai, laut dan tidak merasa bersalah. Mereka tidak paham jika sampah yang mereka buang akan merugikan banyak pihak. Ikan-ikan akan tercemar, ia juga akan memakan plastik-plastik yang dibuang manusia. Tak salah jika hewan-hewan konsumsi dan yang dilindungi mati karena makan plastik. Seakan manusia tidak peduli dengan keadaan ini. Mereka menutup mata dan terus menebang pohon, membuang plastik, menyia-nyiakan air bersih, dan hal-hal lainnya. 
Mungkin bahasa sederhananya adalah “Jika kita terlalu banyak punya sumber daya alam, maka kita akan semakin malas”. Karena semuanya bisa didapatkan dengan mudah. Air bersih melimpah, pohon-pohon tumbuh dengan baik. Ingat dengan lagunya Koes Plus tentang mudahnya menanam, air dimana-mana? Tapi saya rasa jika kita tidak mengendalikan penggunaan sumber daya alam, maka lagu tersebut akan menjadi sebuah lagu tanpa fakta.

Belum lagi kekayaan khazanah budaya kita yang lahir dari kekayaan sumber daya sudah mulai hilang. Tak diketahui rimbanya. Ditelan bumi kembali. Misalnya tari-tarian menanam padi, menangkap ikan, dan lainnya. Budaya-budaya ini seiring kehancuran sumber daya juga ikut rusak dan hilang.

Menyedihkan. Tapi inilah kenyataan bahwa negara kaya semakin lupa bahwa kekayaan ada batasnya. 

*IRONI besar dan kita hidup dengan ironi..
Identitas, 17 November 2013

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *