Sumberdaya alam kutukan atau berkah??

Seperti yang telah kita ketahui bersama, negeri ini (baca Indonesia) merupakan negara maritim  dan tercatat sebagai negara kepulauan. Banyaknya pulau di Indonesia sekitar 18.108 buah yang dikelilingi oleh garis pantai sepanjang 81.000 Km dan luas laut  sekitar 5,8 juta kilometer persegi dengan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)  seluas 2.78 juta Km2 membuat kita menjadi bangsa yang beruntung.
Jika kita telisik lebih lanjut, sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia dalam bidang ekonomi sangat menguntungkan. Bayangkan saja, negeri ini menjadi titik strategis di interseksi pusat-pusat produsen dan konsumen utama. Selain itu, 40 % pelayaran di dunia berupa >50.000 kapal dagang semuanya melewati perairan negara ini. 
Dalam bidang fisik-biologis saja, kepulauan ini terluas di muka bumi. Sekitar 18.108 pulau terhampar dari Sabang-Merauke. Itu pun belum cukup, Indonesia dilimpahi kekayaan terbesar dalam bidang perikanan, karena pertukaran air antara Lautan Pasifik dan Hindia terjadi di Indonesia. Karena itulah laut Indonesia kaya akan supply plankton dan nutrient, sehingga banyak ikan. Bukan hanya itu saja, migrasi ikan pun melewati perairan Indonesia. 
Tidak hanya bidang perikanan saja, tapi masih banyak bidang lain seperti taman laut yang terindah di dunia. Sebut saja, Kepulauan Wakatobi yang banyak ditaksir oleh turis local maupun mancanegara.
Pertanyaannya sekarang adalah kenapa rakyat Indonesia masih miskin di tengah kekayaan alam yang sangat melimpah?? 
Padahal jika dioptimalkan, Indonesia bisa mendapatkan keuntungan dari perikanan tangkap sekitar US$ 31, 93 milyar/tahun, untuk sumber daya pesisir sekitar 56 US$ milyar/tahun, untuk bioteknologi laut bisa mendapatkan 40US$ milyar/tahun, itu belum bidang lainnya seperti bidang pariwisata. Bayangkan, berapa keuntungan yang bisa di dapatkan negeri ini untuk menghidupi bangsanya?
Tapi faktanya adalah masyarakat miskin banyak berasal dari kampung nelayan atau daerah pesisir. Dari data Badan Pengelola Statistik (BPS), diketahui bahwa sekitar 8.090 desa masih tergolong miskin. Jika dilakukan kalkulasi data penduduk, sekitar 5.242.400 juta penduduk yang masih dikatakan kurang mampu. Ini adalah sebuah ironi masyakarat pesisir. Kemisikinan di tengah kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah.
Sebagai perbandingan, kota Cairns salah satu kota di benua Australia. Diawali sebagai kota pertanian akhirnya berkembang menjadi kota agroindustri. Awalnya mereka mengekspor pisang yang memiliki keuntungan 200 jt/ tahun, hingga akhirnya mereka mencoba memperbaiki infrastruktur dan lain sebagainya untuk menuju kota agroindustri. Akhirnya mereka bisa meraup keuntungan sekitar 1 milyar/tahun untuk wisata bahari.
Ya, salah satu agar negara memiliki keuntungan yang besar adalah mengoptimalkan wisata baharinya. Sebenarnya apa saja yang dicari oleh turis ketika ingin berwisata? Pertama, turis menginginkan atraksi atau sumber daya alam yang masih terjaga. Kedua, adanya akses dan fasilitas pendukung. Ketiga, adanya pelayanan dan kenyamanan pada tempat wisata tersebut. dan yang paling penting adalah keamanan daerah tersebut.
Untuk poin pertama, harus banyak evaluasi yang dilakukan oleh negara ini. karena faktor kemiskinan yang sudah dijabarkan, banyak masyarakat yang melakukan apapun untuk makan. Misalnya saja, mengebom terumbu karang untuk mendapatkan ikan. Atau menebar racun sianida untuk mengambil ikan hias. 
Dan yang mereka tidak mengerti ketika melakukan hal itu adalah kerugian besar yang akan diderita oleh rakyat Indonesia kedepannya. Karena keuntungan pribadi atau segelintir orang, negara ini mengalami defisit. Faktor penentu keunggulan suatu negara adalah 40 % inovasi, 30% network, 20% teknologi yang tercakup dalam SDM. Sedangkan untuk sumberdaya alam sendiri harus dimiliki sekitar 10%.
Karena itulah, hal yang paling penting selain memiliki sumber daya alam adalah bagaimana mengelolanya. Jadi, Indonesia membutuhkan sumberdaya manusia yang bisa menjaga dan mengelola sumberdayanya dengan optimal menuju Indonesia yang lebih baik.
Atrasina Adlina
Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin
Artikel ini terbit di Identitas edisi April 2009

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *