Sunrise View from Tatanggo Hills, Namlea

 

Sedari pagi kami berusaha menyelesaikan tugas sebelum beranjak dari penginapan. Karena pagi ini adalah pagi terakhir, saya berusaha menghabiskannya untuk menjelajah. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.15 WIT. Sebenarnya sudah agak terlambat untuk melihat sunrise, tapi kami berdua tetap memaksa untuk menuju Bukit Tatanggo. Bukit ini masuk dalam daftar wisata andalan Pulau Buru, menurut website resmi Kabupaten Buru. 
Perjalanan ke Bukit Tatanggo tidak membutuhkan waktu lama. Dari daerah Simpang Lima jika menggunakan sepeda motor hanya menghabiskan waktu sekitar 5 menit. Kami memberhentikan ojek di depan BNI Namlea, langit sudah berwarna pink saat itu. Kami bergegas. Semoga masih sempat melihat mentari merangkak naik. Tukang ojek pun segera meningkatkan kecepatan. 

Ketika kami tiba, mentari sudah mulai menunjukkan warna jingga. Kami segera memacu langkah kaki agar lebih cepat tiba di puncak bukit. Karena masih belum banyak mobil yang berlalu-lalang, suara burung-burung khas Maluku mencuit-cuit. Suaranya bersahut-sahutan. Saya sampai merekam momen itu karena saya sangat suka dengan bebunyian burung. 

 

matahari mulai merangkak naik

 

 

Pemandangan ke arah Teluk Namlea benar-benar priceless. Langit berwarna pink teduh menjadi favorit saya. Untuk menuju ke atas bukit juga tidak terlalu membingungkan, karena bukit tersebut jadi salah satu tempat pengambilan daun kayu putih. Ada beberapa ketel di Namlea yang menggunakan daun kayu putih dari Bukit Tatanggo. Jika beruntung bisa bertemu para pencari daun kayu putih sudah mulai menaiki bukit mulai pukul 7 pagi. Mereka membuat jalur di bukit Tatanggo untuk memudahkan pencarian daun kayu putih. 
Jalur yang digunakan juga tak terlalu curam, cukup membantu untuk para pendaki pemula seperti saya yang sangat suka jalur rendah. Hahah. Kabut masih menyelimuti Kota Namlea pagi itu, tapi kamera tak mampu menangkap keindahan itu. Saya hanya lebih sering menatap pemandangan tersebut. Gabungan antara panorama Gunung Batabual dan dipadu dengan Teluk Namlea, menjadi pemandangan yang tak akan pernah saya lupakan. Mungkin sunrise di Tatanggo Hills one of my favourite. Sampai sempat kepikiran untuk beli tanah disini dan membangun rumah singgah nantinya. Hahah. 
pemandangan yang tak akan saya lupakan
Selain pemandangan ke arah Gunung Batabual, pemandangan di belakang Bukit Tatanggo juga tak kalah menarik. Deretan bukit yang berbentuk seperti bukit-bukit di dunia Teletubbies. Bukit-bukit memiliki celah-celah yang terbilang mengagumkan. Saya sampai berkali-kali mengambil gambar di bukit ini tanpa henti. Entah sudah berapa frame yang saya ambil disini. 
Jika datang ke sunrise ini saya sarankan sudah mulai mendaki pukul 5.30 WIT, karena matahari sudah mulai menampakkan cahayanya sejak pukul 6.07 WIT. Bawa jaket jika tidak tahan dingin, tapi buat saya udara pagi itu sangat sejuk. Jangan lupa bawa air minum ataupun kompor gas kecil jika ingin menikmati kopi atau teh hangat di atas bukit. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 WIT, matahari mulai menyengat. Kami berdua memilih jalur belakang untuk mencari jalan baru. Ternyata malah jalur yang curam, Sri sempat terjatuh karena menginjak batu yang rapuh. 
Karena masih lumayan pagi, kami pun berencana untuk jalan kaki menuju Kota Namlea. Tapi ada angkot yang berasal dari Unit dan siap menampung kami. Biaya angkot satu orang dari Bukit Tatanggo ke Simpang Lima hanya Rp5.000. Menurut saya Bukit Tatanggo memiliki potensi untuk menjadi wisata andalan jika dipromosikan dengan baik. Semoga nantinya ada jalur khusus untuk para pelancong yang ingin menikmati sunrise ataupun senja di bukit ini. 
Ditulis di Kafe Sibu-sibu, Kota Ambon
20:32 WIT Kamis, 19 Januari 2017
Sambil dengar lagu Ambon yang dinyanyikan oleh seorang wanita di panggung  

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *