Supporter Terbesar Saya, Bunda.

Dia akan menyembunyikan kesedihannya, tidak akan kita pahami sampai kita menjadi orang tua dan kamu menjadi seorang ibu dari anak-anak yang akan kamu pertahankan nyawanya. Menjadi seseorang yang mungkin akan menangis dan kamu terus berbohong bahwa tangisnya adalah tangis kebahagiaan.
Air mata yang melepas kepergian kita menuntut ilmu ke negeri seberang atau melepaskan kepergian kita menjadi milik orang lain, melepas kepergian kita di hari pernikahan. Air matanya itu tanda perasaan yang mungkin ia sendiri sulit untuk membahasakannya dan kita diminta tak usah menghiraukan. 
-Kurniawan Gunadi dalam buku Lautan Langit
Penggalan tulisan Kurniawan Gunadi di bukunya membuat saya teringat Bunda. Perempuan tangguh di umur 53, pejuang yang saya punya dalam hidup ini. Beliau yang melahirkan saya 24 tahun yang lalu. Dengan darah dan air mata, terlihat gurat keletihannya di selembar foto yang masih saya simpan saat ini. Ia yang terus mendoakan kelima anaknya, walaupun tanpa kami minta. Ia yang terus saja menyimpan kegundahannya sendirian. 
Berbicara tentang Hari Ibu, rasanya tidak cukup satu hari untuk mengucapkan teima kasih kepada Bunda. Perempuan terhebat yang pernah saya miliki. Saya seringkali iri dengan ketabahan Bunda dalam menjalankan hidupnya. Beliau bisa tahan menghadapi 6 anaknya dengan karakter yang sangat beragam. 
Saya sebagai anak pertama memiliki kepribadian ektrovert dan sangat aktif. Tapi tahukah kalian bahwa ketika saya masih menginjak bangku sekolah dasar, saya termasuk anak yang sangat pendiam. Sebagai korban bully, saya pernah nyaris tidak naik kelas. Ketika saya menerima raport pada kenaikan kelas 4 SD, wali kelas memanggil Ayah dan Bunda saya untuk berbicara serius. Ternyata saya bolos hingga 14 hari selama satu caturwulan (4 bulan). Hal ini tidak pernah ketauan oleh Ayah dan Bunda. Saya sangat pendiam saat itu. Untuk menceritakan masalah bully pun, saya tidak berani.
Pada saat itu, peran orangtua benar-benar terekam dalam benak saya. Bunda dan Ayah dengan segera memindahkan saya ke sekolah lain. Hal ini dikarenakan lingkungan sekolah yang memang sudah tidak kondusif bagi Adlien kecil. Ternyata kepindahan saya membuat perubahan besar bagi diri saya. Saya mempelajari hal baru, karena saya pindah ke rumah Mbah saya di Depok. Pengalaman merantau saya pun dimulai. Bunda adalah supporter terbesar saya. 
Kenangan saya dengan Bunda yang paling mendalam adalah ketika beliau mendukung saya untuk kuliah di Makassar. Di saat Ayah tidak menyetujuinya, Bunda mendorong saya habis-habisan. Saya berdiri di belakang badan Bunda untuk mendapatkan kata “iya” dari Ayah. Hingga akhirnya Ayah pun luluh. Saya berangkat ke Makassar pada tanggal 3 September 2008. 
Setelah 6 bulan kuliah, saya mendapatkan “kasus” berat di kampus dan dipulangkan secara paksa ke Bogor. Di saat semua orang menuduh saya, Bunda tetap percaya bahwa anaknya tidak melakukan hal yang salah. Sehingga beliau mendukung saya tetap kembali ke Makassar, walaupun Ayah sudah sangat tidak setuju. Saat itu, Ayah sudah mencarikan universitas lain di daerah Bogor. 
Tapi Bunda dengan sigap membelikan tiket kepergian saya ke Makassar, menggunakan sisa uang gaji yang dimilikinya pada bulan itu. Bunda membantu saya merapihkan barang-barang untuk dibawa. Tiket pesawat pukul 4 pagi karena itu yang paling murah. Bunda menyewa ojek untuk mengantar kami berdua ke Terminal Baranangsiang. Rekaman kejadian itu masih jelas di ingatan. Saya benar-benar berutang besar kepada Bunda atas kepercayaannya yang sangat besar. Di saat semua orang tidak percaya dengan saya, Bunda berdiri paling depan dan mendukung saya. 
Jikalau Bunda tidak percaya dengan apa yang saya lakukan, entah jalan hidup apa yang saya jalani saat ini. Mungkin saya berhenti sebagai mahasiswa Ilmu Kelautan di Universitas Hasanuddin, kemudian tercatat sebagai mahasiswa di kampus swasta lain. Ah, andai saja tidak ada Bunda saat itu. Terima kasih ya Allah, Engkau memberikan seorang Bunda yang sangat memercayai anaknya. 
Walaupun saya tahu, berat baginya melepas kepergian anaknya. Tapi beliau tetap tegar dan menyeka air matanya. 
Jika kalian ingin tahu kenapa saya terlihat kuat, itu karena keturunan dari Bunda saya. 😀
Ditulis di Hari Ibu, Terima Kasih Bunda. I love you, more and more.
Thursday, 31 December 2015
23:50 WIB -> detik2 menjelang 2016!
sebenernya tulisan ini mau dijadikan posting bareng geng Travel Blogger Indonesia (TBI) tapi gak selesai pada waktu yang tepat. hahah.  #HariIbu #Posbar #TBI  #PelukIbu #IbuJuara Travel Blogger Indonesia.

Boleh tengok tulisan teman-teman lain
Danan Wahyu – Dua Belas Kisah Bunda dan Buah Hati
Olive Bendon – Perempuan Pengutip Kerang
Parahita Satiti – Mama
Indri Juwono — Momen-momen Tetirah Mama
Fahmi Anhar – Traveling Bersama Ibu
Albert Ghana – Pulang ke Kampung Ibu

You may also like

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *