Surat yang Terlambat untuk Menteri Pariwisata

Dear Bapak Menteri Pariwisata
Perkenalkan, nama saya Atrasina Adlina. Biasa dipanggil Adlien atau Adhie, tapi lebih suka kalau dipanggil makan, pak. Apalagi kalau dipanggil makan terus ditraktir. #eh. 
Saya mau bercerita sedikit tentang wilayah Indonesia yang telah saya datangi dan kunjungi selama beberapa tahun terakhir. Ada wajah kusam yang Indonesia miliki ketika berbicara tentang pariwisata. Banyak orang yang tidak sadar mengenai pariwisata yang ada di Indonesia. 
Saya tidak akan berbicara data yang sudah kita ketahui, bahwa Indonesia memiliki panjang garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Atau potensi pulau-pulau yang ada sekitar 13.000 ribu tersebar dari Sabang hingga Merauke. Saya tidak akan berbicara soal itu pak. Saya hanya ingin berbicara mengenai kejadian yang saya alami di sebuah pulau kecil nan indah, Pulau Banda. 
Banyak potensi kelautan yang tersebar di seluruh Indonesia, tapi masalah besarnya adalah belum banyak orang yang menyadari potensi ini. Memang ini bukan tugas dari Kementrian Pariwisata semata, namun tugas orang-orang lokal. Salah satunya adalah masalah sampah. Sudah ada berapa kali orang asing yang datang dan menganggap bahwa Indonesia sangat dekat dengan masalah kebersihan. Kurangnya tempat sampah di sebuah tempat wisata dan tidak adanya pengelolaan sampah yang baik menjadi salah satu fokus utama untuk pariwisata di Indonesia
Sustainable Tourism harusnya sudah dicoba sejak sebuah tempat mulai diperkenalkan. Sehingga tidak ada kekagetan dalam mengelola pariwisata di sebuah daerah. Kacaunya pengelolaan wisata banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Pulau Banda misalnya, disana banyak nilai sejarah yang ada, namun terlihat tidak terawat. Banyak hal yang seharusnya bisa dieksplore dan diperkenalkan disana, namun yang saya lihat hanyalah bangunan-bangunan yang tidak terawat dan tidak terurus.

Padahal bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi harusnya diperlakukan lebih baik. Saya juga merasa lucu ketika mendengar bahwa Gunung Api akan dikenakan biaya masuk. Padahal disana tidak ada jalur pendakian yang menyenangkan. Jalanan kecil tertutup oleh tumbuhan rambat yang sesekali membuat tersandung dan jatuh. Belum lagi ada lubang menganga bekas aliran air dari puncak gunung yang bisa membuat terkilir. 

Selain itu Gunung Api Banda bisa menjadi salah satu tujuan wisata favorit. Apalagi dengan adanya tujuan menarik lainnya. Banda memiliki potensi kekayaan sejarah, pantai, gunung dan juga kota tua. Saya yakin semua orang yang telah datang ke Banda memiliki persepsi yang sama. Namun kiranya sampah menjadi pengelolaan yang baik. Karena selama ini pengelolaan sampah di pulau2 belum dilakukan secara maksimal. 
Bagaimana masyarakat lokal dan pengunjung lokal mampu menanggulangi masalah sampah. Dengan dibantunya dengan adanya undang-undang dari pihak pariwisata untuk menjadi setiap sitewarisan budaya.  
Tourism Promotion

Saya sempat membaca tulisan dari teman-teman Travel BloggersIndonesia lainnya. Mereka membandingkan bagaimana brand Indonesia masih kalah jauh dengan brand Malaysia. Saya juga menyadari hal itu, setiap kali menonton berita, selalu muncul iklan Malaysia, Truly Asia. Saya yakin bapak juga pernah mendengar hal itu. 
Saya yakin bahwa Indonesia memiliki semuanya, tapi dibutuhkan pengelolaan manajemen yang baik agar bisa mendapatkan hasil dari keindahan alam tersebut. Banyak sekali tempat indah di Indonesia yang tidak memiliki manajemen yang baik. Terkadang uang tiket masuk diambil untuk keuntungan sebuah pihak semata tanpa memperhatikan keindahan lokasi tersebut. Padahal seharusnya uang yang masuk ke lokasi wisata bisa digunakan untuk mengembangkan lokasi tersebut. 

Melihat perkembangan pariwisata di Indonesia masih sangat menyedihkan. Tidak adanya informasi mengenai lokasi tempat tersebut dan akses transportasi yang sangat sangat sulit. padahal tempat tersebut menjadi salah satu lokasi paling penting di seluruh dunia. Sebut saja Rammang-rammang di Sulawesi Selatan atau Gunung Padang di Cianjur. Keduanya memiliki nilai sejarah yang sangat penting di dunia. Namun, tidak ada perawatan yang memadai bagi kedua sejarah tersebut. 
Nilai sejarah yang berserak di sekujur tubuh Nusantara bisa memiliki nilai jual. Namun kurangnya promosi dan juga perawatan membuat tempat-tempat tersebut tak terjamah. Sangat jarang bisa menemukan informasi yang memadai. Saya merasa informasi yang tersedia di dalam blog-blog teman-teman traveller malah lebih menarik daripada website pemerintahan. 
Hal inilah yang harus jadi  perhatian pemerintah. Mungkin dengan adanya gathering yang telah dilakukan oleh teman-teman Travel Blogger Indonesia, bisa membuka kolaborasi yang menguntungkan bagi pariwisata Indonesia. 😀
Semoga! 
ditulis
di rumah tercinta sejak 2 Januari, tapi baru diupload sekarang. hahah.
Ini adalah surat untuk menteri pariwisata yang digagas oleh teman-teman Travel Blogger Indonesia. silahkan kunjungi surat yang lain di :
Indri Juwono – Peduli Budaya Lokal Untuk Pariwisata Indonesia 
Lenny Lim – Surat Untuk Menteri Pariwisata
Wira Nurmansyah – Sepucuk Surat untuk Menteri Pariwisata
Vika Octavia – Pariwisata Indonesia : Telur dulu atau Ayam dulu?
Farchan Noor Rachman – Surat Terbuka untuk Menteri Pariwisata
Rijal Fahmi – Pariwisata Indonesia dan Segala Problematikanya
Titi Akmar – Secercah asa untuk Pariwisata Indonesia
Parahita Satiti – Surat untuk Pak Arief Yahya
Yofangga Rayson – Pak Menteri, Padamu Kutitipkan Wisata Negeri
Indri Juwono – Peduli Budaya Lokal untuk Pariwisata Indonesia
Matius Nugie – Merenda Asa untuk Pariwisata Kota Indonesia
Olive Bendon – Indonesia, Belajarlah pada Malaysia
Bobby Ertanto – Dear Menteri Pariwisata Indonesia
Danan Wahyu – Repackage Visit Indonesia Year
Firsta Yunida – Thought and Testimonial : Tourism in Indonesia
Felicia Lasmana – Target 1 Juta Wisman Per Bulan menurut seorang Biolog, Pejalan, dan Blogger

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *