Telusuri Tuna yang Kamu Makan!

#Mendukung Hari Nelayan yang jatuh pada tanggal 6 April 2015
 
Maraknya berita mengenai illegal fishing, trawling, perbudakan dan juga pengemboman untuk mendapatkan ikan tuna di laut membuat masyarakat dunia lebih waspada untuk membeli produk perikanan. Ada beberapa cara yang paling mungkin dilakukan oleh konsumen. Misalnya memilih ikan yang jelas asalnya, bagaimana cara menangkapnya, apakah mereka menggunakan anak-anak dalam proses penangkapan ikan tuna, apakah pembeli ikan tuna dari nelayan sudah memberikan harga yang sesuai? Pertanyaan inilah yang sering menjadi indikator utama untuk melihat ikan yang mendukung keberlanjutan. Dengan pertanyaan ini, bisa menjadi salah satu bentuk kepedulian masyarakat terhadap keberlanjutan perikanan tuna di dunia.
Menilik tingkat konsumsi tuna di dunia yang sangat tinggi, membuat konsumen harus lebih selektif. Setiap tahunnya ada lebih dari tiga juta ton ikan tuna sirip kuning (yellowfin tuna) ditangkap di seluruh dunia. Indonesia sebagai salah satu top producer yellow fin tuna atau sekitar 13% dari total tuna di seluruh dunia. Dan Maluku merupakan salah satu lumbung ikan nasional yang menjadi produsen ikan tuna. 
Di Maluku,  Harta Samudra sebagai salah satu processor tuna yang memiliki keinginan untuk mendukung program berkelanjutan (Sustainable Tuna Fisheries), menyeleksi sumber ikan tuna. Processor yang sudah berdiri sejak tahun 1998 ini hanya membeli ikan dari nelayan yang menggunakan alat pancing tradisional (handline artisanal). Hal ini membuat Harta Samudra melangkah mantap untuk berkontribusi dalam program Fair Trade dan  Improving Fisheries Information and Traceability for Tuna(IFITT) Program yang digagas oleh Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI). 
Saat ini sudah ada 8 desa yang terletak di Pulau Ambon dan Pulau Buru, Maluku yang masuk dalam program Fair Trade dan IFITT. Kesembilan desa tersebut adalah Assilulu, Waepure, Wamlana, Air Buaya, Pasir Putih, Leksula, Waprea dan Waelihang.  Namun per 7 April, desa Waplau akan bergabung, sehingga total 8 desa yang menjadi pilot project. Setiap desa memiliki kelompok tuna yang berkomitmen untuk menjaga kelestarian ikan tuna. Selain itu mereka menggunakan standar yang telah tersertifikasi oleh Fair Trade dunia. 
Setiap kelompok nelayan akan mendapatkan kode unik dari pihak ketiga yaitu ThisFish.info untuk memetakan daerah tangkap mereka. Kode unik tersebut ada di plastik tuna yang telah tersedia di pasar Amerika Serikat saat ini. Pembeli bisa menelusuri kode unik tersebut setelah masuk ke dalam website ThisFish.info. Informasi yang bisa didapatkan oleh pembeli adalah siapa yang menangkap tuna tersebut, dimana daerah tangkapan, siapa yang memproses ikan tuna hingga sampai ada di dapur anda. 
Jadi, siapkah ikut berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan perikanan tuna di dunia?
tulisan ini merupakan artikel di MDPI.or.id tapi dalam Bahasa Indonesia. hahah. 
7:01 PM, 6 April 2015

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *