Tempat Berbagi Cerita di Rumah Kopi Om John, Tulehu

Rumah Kopi Om John πŸ˜€
Sejujurnya saya pecinta kopi seduh, yang biasanya tersedia di sachet dan tergantung di warung-warung. Kopi yang dianggap sebagian orang sangat murah. Karena dengan harga seribu, saya sudah bisa mencecap rasa kopi yang lebih penuh dengan gula dibandingkan kopi itu sendiri. Pernah ketika sedang sibuk-sibuknya dengan skripsi, saya biasa menenggak 5 gelas kopi sachet per hari. πŸ˜€ Hingga akhirnya, saya merasakan akibatnya. Saya akan mudah tertidur jika minum kopi sachet. πŸ˜€
Oke, kembali ke cerita. Saya paling suka menghabiskan akhir minggu di kampung kelahiran Nenek saya, alm. Hj. Maryam Lestaluhu di Tulehu #alfatihah. Sebuah kampung yang terkenal akan pemain sepak bolanya. Kampung yang menyimpan banyak cerita sejarah perjuangan. Kampung yang memiliki nafas keislaman dan tetap terjaga hingga saat ini. Saya belum pernah menuliskan satu tulisan tentang Tulehu itu sendiri, saya akan mencoba menuliskannya nanti. πŸ˜€
Jika sedang berlibur di Tulehu, saya beberapa kali singgah di rumah kopi Om John. Terletak di dekat pelabuhan penyebrangan ke Saparua atau Haruku, tempat ini sering dijadikan titik kumpul pengemudi speed boat. Tak hanya supir speed boat, para calon penumpang yang hendak menyebrang pun menyempatkan minum kopi atau makan roti selai buatan tangan khas Tulehu. Tak heran tempat ini seringkali penuh dan ramai.
Om John yang sedang membuat kopi untuk saya. πŸ˜€
Pemilik rumah kopi ini namanya Om John. Beliau adalah peranakan Padang asli. Ayahnya yang merupakan tentara pada zaman kemerdekaan, ditugaskan menjaga daerah Tulehu. Bersama ibu dan saudaranya, Om John pun ikut ke Tulehu. Ia besar di Tulehu dan fasih berbicara bahasa Tulehu. Menurutnya ia malah tidak tahu bahasa Padang, hanya beberapa kata saja. Pulang kampung ke Padang pun hanya 1 kali. Ketika dikabarkan ayahnya wafat disana, ia pun berangkat pada tahun 2012 lalu. Saat ini ia telah beristrikan orang Tulehu dan ternyata masih memiliki ikatan darah dengan saya. Hehe. Dunia terasa sempit. πŸ˜€ 
Om John adalah tipe orang yang senang diajak berbicara. Ia akan berbicara tentang apapun. Karena itu banyak pengunjungnya yang senang datang ke Rumah Kopi untuk sekedar berbincang dengan Om John. Padahal jika diamati, tak ada yang istimewa dari rumah kopi ini. Hanya beratapkan daun sagu dan beralaskan tanah. Tapi rumah kopi yang buka dari jam 7 pagi hingga jam 11 malam ini selalu ramai oleh pengunjung. 
Kopi yang disediakan adalah kopi hitam dari Kapal Api. Ditambah creamer dan sedikit gula. Kopi ini terasa sama dengan kopi yang ada di rumah. Mungkin inilah yang membuat orang-orang datang dan mencicipi kopinya. Di rumah kopi ini, Om John mengadakan β€œundian kecil-kecilan”, sekedar menjadi perekat antara pemilik dan pengunjung. πŸ˜€ 
DI Rumah Kopi ini, mayoritas adalah laki-laki. Sangat jarang perempuan datang disini. Mungkin tradisi minum kopi identik dengan kegiatan maskulin. Jika datang pagi-pagi, kita akan melihat aktivitas bapak-bapak yang sedang membaca koran pagi sambil menyesap kopi susu. Ini pun yang selalu dipertanyakan oleh Om John. β€œBeta seng tau, itu bapak-bapak datang pagi-pagi untuk minum kopi. Padahal di rumahnya disediakan kopi sama istrinya,” ujarnya sambil tertawa. 
Untuk harga segelas kopi susu dibanderol dengan harga 7000. Sedangkan roti selai dihargai 3000 per tangkup. Tapi anda bisa berlama-lama di dalam kafe sambil bercerita tentang ekonomi, politik, bahkan kejadian yang terjadi di Ambon. Rumah kopi ini menyediakan ruang bercerita bagi masyarakat di sekitar. 
daftar harga
Oia, ketika film β€œBeta Maluku” yang menceritakan tentang pemain sepak bola, Rumah Kopi ini digunakan sebagai salah satu lokasi syuting. Ini juga yang menjadi kebanggan Om John, ia akan menjelaskan bagaimana awalnya ia menolak untuk digunakan Rumah Kopinya sebagai lokasi. Namun atas permintaan istrinya, ia pun akhirnya mengiyakan. Dan hal ini yang terus diceritakan ketika ada orang yang datang ke Rumah Kopi nya. πŸ˜€
Jujur, saat ini saya merindukan kombinasi roti selai yang masih hangat dan segelas kopi. Dan setangkup roti . selain kopi dan roti, saya suka memandangi kegiatan di pelabuhan. Para supir yang mencari penumpang. Dan para penumpang yang menunggu teman dibelakang. Apalagi ketika matahari mulai tenggelam. Semburat jingga muncul di ufuk barat. 
Jika singgah di Tulehu jangan lupa mencoba kopi dan keramahan Om John. πŸ˜€
Oia, tolong sampaikan salamku pada Om John. Bilang dari Adlien yang keponakannya Om Maji. Hihihi. πŸ˜€ Siapa tau dapat roti selai gratis. πŸ˜€
Ditulis di mantan kamar sambil arrange ketemuan sama kru Identitas di Kafe Salihara nanti malam
Rabu, 5 Agustus 2015 14:44 PM

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *