Tenggelamnya Kapal van Der Wijck | Sedikit Cerita

Saya tertarik menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang ramai diperbincangkan di jejaring sosial, warung kopi bahkan di dalam ruang rapat. Saya pun pergi ke Makassar Town Square (M’Tos) bersama Arif, Sabtu (4/1). Kami langsung mengantri untuk membeli tiket. Tak kesulitan, kami langsung mendapatkan tempat duduk yang sangat strategis. Di bagian atas paling tengah. 😀 
 
Awal film saya deg-degan, apakah cerita ini berhasil memukau saya? Penuh dengan aksi atau akan penuh dengan airmata. Saya tertegun ketika adegan awal disuguhkan di Makassar tahun 1631. Penggambaran Makassar tak jelas. Ia seakan bukan di Makassar, mungkin sutradaranya sulit menemukan tempat indah di Makassar yang masih terjaga keasliannya. Hehehe
Tapi sang penulis naskah mencoba menggambarkan Makassar dari bahasa yang dituturkan oleh sang aktor. Bahwa ia berpamitan kepada ibunya untuk merantau ke tanah kelahiran ayahnya, Padang. Ia akan ke Batipuh, sebuah daerah di Sumatera Barat. 
Disanalah cerita bermulai. Mata sang aktor utama, Zainuddin (Herjunot Ali), bersibobrok dengan mata Hayati (Pevita Pearce). Saat si Hayati sedang naik delman. Di saat ini lagu Nidji – Sumpah Matiku terputar… #cie 
Setelah itu bisa dipastikan Zainuddin jatuh cinta kepada Hayati. Setelah itu, mereka bertemu di warung gorengan dan Zainuddin meminjamkan payung. Dari situlah awal mereka saling berkirim surat. Bahasanya bener-bener manis. Masih berima. Bahasa Indonesia asli, sebelum ia tercampur dengan bahasa asing lainnya. 😀
Kumis tipis
Zainuddin harus diusir dari Batipuh karena dianggap terlalu dekat dengan Hayati. Sebelum Zainuddin pergi, Hayati memberikannya sebuah kerudung. Tanda bahwa Hayati milik Zainuddin sepenuhnya. Saya terkesima oleh janji Hayati, saya berpikir, akhir cerita ini akan bahagia. Karena Hayati dan Zainuddin sama-sama mencinta. Mereka cinta mati. 
Dan Zainuddin pun pergi ke Padang Panjang untuk memperdalam agamanya. Hayati datang untuk berlibur ke Padang Panjang, bertemu dengan kawan lamanya. Kawannya ini yang punya kakak, namanya Aziz (Reza Rahardian). Aaaahh. Keren banget bang Reza. Kumis tipis nan manis. Hahah. 
Cerita pun bisa ditebak. Aziz yang punya banyak uang melamar Hayati. Di saat yang bersamaan Zainuddin juga melamar Hayati lewat surat. Akhirnya digelarlah rapat adat yang membahas masa depan Hayati. Disinilah saya melihat bahwa adat zaman dahulu sangat kuat. Tak boleh dilanggar. Para sesepuh membahasakan bahwa Zainuddin tak jelas adat, ia tak punya keturunan. Ia tak bisa mempersunting Hayati. Sedangkan Aziz sangat jelas adatnya. Ayahnya seorang bangsawan dan ia saat ini bekerja di pemerintahan. 
Hasil rapat keluar, Aziz yang diterima, Zainuddin dikirim surat. Surat permohonan maaf dari para sesepuh bahwa ia tak dapat menjadikan Hayati istrinya. Zainuddin remuk. Apalagi Hayati pun menulis surat secara langsung kepadanya. Suratnya mengatakan bahwa ini adalah pilihan Hayati sendiri. Ia tak bisa mengawini kemiskinan. Ia menyuruh Zainuddin mencari perempuan kaya. Selain itu, Hayati meminta Zainuddin menganggap dirinya sebagai seorang sahabat. Ckckckc. Pusing awak…
Surat Putus Cinta dari Hayati kepada Zainuddin

Tuan yang terhormat! Tak dapat saya sembunyikan kepada Tuan, malah saya akui terus terang bahwasanya seketika membaca surat-surat Tuan itu, saya menangis tersedu-sedu, karena tidak tahan hati saya.

Tetapi setelah reda gelora dan ombak hati yang dibangkitkan oleh surat Tuan itu, timbullah kembali keinsafan saya, bahwa tangis itu hanyalah tangis orang-orang yang putus asa, tangis orang yang maksudnya terhalang dan kehendaknya tidak tercapai.

Tangis dan kesedihan itu selamanya mesti reda juga, ibarat hujan; selebat-lebat hujan, akhirnya akan teduh jua. Kita akan sama-sama menangis buat sementara waktu, laksana tangis anak-anak yang baru keluar dari perut ibunya. Nanti bilama dia telah sampai ke dunia, dia akan insaf bahwa dia pindah dari alam yang sempit ke dalam alam yang lebih lebar.

Kelak Tuan akan merasai sendiri, bahwa hidup yang begini telah dipilihkan Allah buat kebahagiaan Tuan. Allah telah sediakan hidup yang lebih beruntung dan lebih murni untuk kemaslahatan Tuan di belakang hari.

Tuan kan tahu bahwa saya seorang gadis yang miskin dan Tuan pun hidup dalam melarat pula, tak mempunyai persediaan yang cukup untuk menegakkan rumah tangga.

Maka lebih baik kita singkirkan perasaan kita, kembali kepada pertimbangan. Lebih baik kita berpisah, dan kita turutkan perjalanan hidup masing-masing menurut timbangan kita, mana yang lebih bermanfaat buat di hari nanti.

Saya pun merasai sebagai yang Tuan rasakan, yaitu kesedihan menerima vonis itu. Tetapi Tuan harus insaf, sudah terlalu lama kita mengangan-angan barang yang mustahil, baik saya maupun Tuan.

Tuan pilih sajalah seorang istri yang lebih cantik dan lebih kaya dari pada saya, dan marilah kita tinggal bersahabat buat selamanya.

Kepada Aziz tak usah Tuan kecil hati, dia tak salah dalam perkara ini. Tetapi sayalah yang telah mengambil putusan yang tetap buat bersuami dia; lawan saya musyawarah ialah hati saya sendiri, sehingga saya terima tawaran ninik mamak saya.

Dan, saya harap Tuan lupakanlah segala hal yang telah berlalu, maafkan segala kesalahan dan keteledoran saya, sama kita pandang hal yang dahulu seakan-akan tidak ada saja.

Hayati
Pernikahan Hayati pun digelar mewah. Hayati resmi menjadi istri Aziz. Sedangkan Zainuddin nyaris gila. Hancur. Lebur. Zainuddin mengatakan pernikahan kecantikan dan harta semata. Hingga akhirnya Bang Muluk (Randy Nidji) menyadarkannya. Ia harus hidup. Tak mati. Akibat kekosongan cinta yang Hayati ciptakan untuknya. Ia diterima untuk menjadi penulis di Jakarta. Karyanya dinikmati seluruh masyarakat Tanah Air termasuk Sumatera Barat. Zainuddin membubuhkan nama pena Z yang jadi buah bibir. Ia menjadi seorang pujangga yang diidolakan wanita dari berbagai suku.
Awalnya hanya menyewa kamar kosong di pinggir Jakarta, ia berhasil menjadi pemimpin surat kabar di Surabaya. Sebuah kisah bahagia. Tapi ternyata hal ini tidak berlaku bagi Hayati. Setelah ia pindah ke Surabaya, Aziz yang suka berjudi, memiliki banyak utang. Ia dipecat dari pekerjaannya, barang-barang dan rumahnya disita. Hayati dan Aziz numpang hidup di rumah Zainuddin yang sangat megah.
Aziz pergi. Ia menitipkan Hayati pada Zainuddin. Ia pergi mencari kerja, ia tak ingin hidup menumpang. Namun ternyata ia bunuh diri. Ia tak kuat menanggung malu. Pada saat itulah Zainuddin menganggap Hayati sebagai sahabat. Ia kukuh memegang janjinya. Ia akan mengganggap Hayati seperti apa yang Hayati minta padanya. 
Hingga Hayati disuruh pergi ke Padang oleh Zainuddin, naik kapal Van Der Wijck. Sebuah perpisahan pada dunia. Dan seperti yang kalian bisa duga, kapal tenggelam, Zainuddin pun menyesal. Ia tak bisa kembali. 
Tapi dari situlah, Zainuddin mencipta buku. Hayati akan tetap hidup… 
Nah, tapi setiap film punya kekurangan dan butuh kritikan. Ini adalah beberapa kekonyolan yang muncul di dalam film tersebut. Berikut adalah review dari salah seorang blogger mengenai film tersebut. 😀 Sila dibaca sendiri… :

Konyol
Adegan konyol mulai terlihat saat pesta di rumah Zainoeddin di Soerabaia (Baca Surabaya). Adegan Zainoeddin mengenalkan Aziz dan Hajati kepada khalayak, tapi ucapan Zainoeddin tersebut tak diperhatikan khalayak alias dikacangin!! Adegan lain adalalah tarian di pesta tersebut. Terlalu modern di tahun 1938, demikian juga dengan kostumnya :mrgreen: .
Saat Hajati di Rumah Sakit menunggu ajal. Kata dokter, beberapa tulang rusuk hajati patah dan paru-parunya kemasukan banyak air. Tapi Hajati masih terlihat cantik, segar, tak terlihat raut pucat di wajahnya :P Kesalahan make up?
Adegan konyol lainnya adalah ciuman Zainoeddin kepada jasad Hajati. Apa-apaan ini? Sepanjang film kedua tokoh ini tak pernah bersentuhan, tapi kenapa tiba-tiba ada adegan ciuman segala? Apakah Zainoeddin hanya berani pegang-pegang mayat wanita, tapi tak berani dengan wanita hidup? Branding Zainoeddin langsung turun deh..
Konyolnya terus berlanjut ketika Zainoeddin pingsan setelah mencium Hajati. Mulut Hajati mungkin beracun.. Lucunya, Zainoeddin jatuh pingsan di sebelah perawat tapi perawat tersebut malah pergi! Dasar perawat tak bertanggung jawab!! :evil:
Mungkin film ini akan bagus jika berakhir sampai disitu, tapi kok ya konyolnya diterusin… :shock: .
Dua kekonyolan lagi menjelang film berakhir adalah nisan kubur Hajati tertulis Hayati, padahal di tiket kapal tertulis Hajati :mrgreen: . Pendirian Panti Asuhan Hayati juga terlalu maksa untuk happy ending. Di nisan tugu papan panti juga tertulis “Panti Asoehan Hayati”. Ingat-ingat ya.. pembuat film ini tidak teliti, tidak konsisten dengan edjaan lama.. #ngakakgulingguling. Harusnya Panti Asoehan Hajati :mrgreen: .

Oke, sekian saja review dan hasil resume film ini dari saya. Kayaknya sudah terlalu capek. 😛

Setelah nonton film Tenggelamnya Kapal van Der Wijck di Mtos sama Arif
ditulis lengkap di Laboratorium Toksikologi Laut
Senin, 6 Januari 2013

You may also like

2 Comments

  1. selalu begitu bang. novel selalu lebih bagus daripada filmnya. banyak sutradara yang gagal memahami maksud si penulis. heheh. terima kasih sudah mampir. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *