Terima Kasih Beribu Kali Untukmu yang Berumur 52

nulis di pinggir pantai Waeplau

Pagi ini, dipinggir pantai Waeplau saya tertegun sebentar. Mengingat hari yang berbahagia bagi seorang spesial dalam hidupku. Selamat Ulang Tahun ke 52, Bunda. Pelita dalam hidupku. Penerang dalam gelapnya hari-hariku. Orang yang mengajarkan bersabar dalam segala hal. “Selalu mengingat Allah, dlien. Allah tidak akan memberikan cobaan yang lebih berat dibandingkan yang bisa dipikul oleh hamba-Nya,” ujarnya suatu saat. Ketika aku sudah merasa gelap dan ingin menyerah menjalani sesuatu.

Seseorang yang selalu memanggil dirinya sendiri dengan sebutan “Entit” yang terkadang lucu didengar. Bahkan olehku dan adik-adik. Entah darimana kata itu muncul, aku selalu lupa ceritanya. Yang pasti, bundaku ini adalah mahluk ciptaan Allah SWT yang unik. Lebih unik daripada diriku. Jadi, jangan salah, jika bertemu dengan bundaku akan merasakan auraku didalamnya. 
Sosok yang kusebut Bunda selalu berhasil yang mendamaikan hati kita di kala sedang gundah. Walaupun saya sudah berkata kasar bahkan berucap “ah” berkali-kali. Masih lekat dalam ingatan ketika terburu-buru berangkat ke sekolah, beliau menyuapi saya dengan sabar. “Kalau tidak mau makan, jangan lupa minum susu,” ujarnya. Bahkan ketika saya sudah marah-marah karena jam sudah menunjukkan pukul 6.20 Wib. Beliau tetap sabar menghadapi segudang masalah emosi anak-anaknya. 
Seseorang yang mampu tersenyum manis dan terus menyemangati saat nilai tak sempurna. Kadang beliau juga merasa tidak sabar. Misalnya saja ketika saya belum sarjana, padahal saya sudah menempuh pendidikan selama lima tahun. Tapi beliau tetap memberikanku suntikan semangat di saat lemah. Tak cuman itu pula, saya selalu merindukan ciuman dari jauhnya yang memberikan energi.

Tak sulit untuk menggambarkan sosok Bunda di dalam keluarga. Seorang pahlawan bagi putra dan putrinya. Seorang koki dengan segudang resep makanan enak. Seorang peneduh dan penyejuk hati seluruh anggota keluarga. Hakim yang bijak disaat anak-anak bertengkar karena sepotong cokelat. Dokter yang cekatan saat ada yang sakit. Perawat yang tahu semua jenis obat dan mengerti cara penangannya. Guru matematika dan bahasa inggris yang handal. Bahkan penyedia cinta yang tak akan pernah habis.
Bunda. Terima kasih telah menjadi bidadari sempurna untuk hidupku. Setiap kasih dan sayang yang engkau berikan sungguh tak terbalaskan. Saya baru menyadarinya ketika saya dewasa. Ketika saya sudah mulai mengerti betapa mulia dan sulitnya menjadi seorang ibu.
Bunda. Terima kasih telah menjadi matahari yang menyinari keluarga kita. Sebuah keluarga yang tak akan lengkap tanpa kehadiranmu. Sebuah keluarga yang terus membutuhkanmu. Terima kasih telah mengajarkanku cinta. Terima kasih telah memberikanku pelajaran tentang makna kehidupan. Terima kasih, bun…

[right] my lovely bunda [left] my lovely grandmother 
Kado tulisan untuk Bunda Tercinta,
Ditulis di pinggir pantai Pulau Buru, 24 September 2014
Sambil denger lagu Song for Mama dari Boyz 2 Men
Mama, you’re the queen of my heart

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *