The Hunger Games : Antara Cinta, Pengorbanan dan Kematian

Ah, kurasa judulnya sangat alay. Atau mungkin sangat tepat menggambarkan buku novel trilogi The Hunger Games. Novel yang diampu oleh Suzanne Collins, berhasil membuat saya bedebar hingga akhir buku ini.

Novel pertama, The Hunger Games bercerita tentang sebuah kota kecil, lebih tepatnya bernama Distrik 12. Sebuah kota yang memasok batubara kepada Capitol. Capitol memiliki kekusaan untuk membuat semua distrik tunduk kepadanya. Apalagi setelah Masa Kegelapan yang pernah melanda mereka 74 tahun yang lalu. Ketika Distrik 13 memberontak dan akhirnya dibumihanguskan oleh Capitol pada saat itu.
Setelah Masa Kegelapan berakhir, Capitol memberlakukan peraturan ketat. Semua distrik wajib menyerahkan anak perempuan dan laki-laki mereka untuk mengikuti sebuah permainan. Hunger Games. Permainan yang hanya akan menyisakan satu pemenang dari 24 peserta. Semua sisanya harus mati di arena pertempuran.
Katniss Everdeen, seorang remaja berumur 16 tahun. Ayahnya seorang penambang batubara dan meninggal di dalam tambang. Sedangkan ibunya, yang cinta mati, akhirnya merasa hilang. Dan seakan tak peduli pada keadaan Katniss dan adiknya, Primrose. Akhirnya Katniss pun berjuang seorang diri untuk menghidupi ibu dan adiknya. 
Ia berburu di hutan dan belajar memanah. Keahlian lainnya, ia memiliki pengetahuan untuk hidup di hutan. Hingga pada suatu saat ia bertemu dengan Gale. Lelaki tampan yang memiliki banyak penggemar di Distrik 12. Dan masa indah-indah itu berakhir..
Hunger Games ke 74 dimulai, Effie Trinket mengundi nama yang akan keluar sebagai peserta Hunger Games. Semua berdebar. Tak berkutik. Dan nama Katniss tak keluar. tapi Primrose Everdeen. 
Katniss tak rela, ia pun mendaftarkan diri sebagai peserta. Untuk peserta laki-laki, Peeta Mellark terpilih. Seorang tukang roti. Seseorang yang pernah hidup di ingatan Katniss. Seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya satu kali. Seseorang yang memberikan roti nyaris basi kepanya. Dan memberikan kehidupan bagi dirinya dan keluarganya. Sebuah nyawa. Dan itu tidak bisa dibayar oleh Katniss. Dan sekarang, mereka akan bertarung bersama untuk mempertahankan hidup.
Perjalanan menuju Hunger Games dimulai…
Di dalam kereta api menuju Capitol, Katniss memikirkan kemungkinan Peeta akan membunuh dirinya pertama kali. Dan mereka mendapatkan seorang mentor, pemenang Hunger Games dari Distrik 12. Haymitch, laki-laki setengah baya yang gemar minum alkohol. Baunya memuakkan.
Peeta dan Katniss harus mengikuti peraturan yang dibuat oleh Haymitch. Mereka harus menurutinya atau mereka tidak akan dapat sponsor. Mereka pun menyetujuinya dan mulai untuk memasuki persiapan pertarungan Hunger Games. 
Di Capitol, mereka dielukan, laiknya seorang pejantan. Padahal mereka akan dikorbankan demi kejayaan Capitol. Sesuatu yang biasa bagi orang Capitol, tapi tidak demikian bagi orang di semua distrik. Hunger Games hanya akan menimbulkan korban jiwa. Tapi, Capitol akan memberikan hadiah bagi pemenang. Dan menyisakan duka bagi lainnya. 
Katniss dan Peeta memasuki arena perkenalan dengan cara yang tak biasa. Mereka mendapatkan kostum seperti api yang terbakar. Karena itu, Katniss mendapatkan julukan “Gadis yang Terbakar”. Setelah itu, mereka melakukan wawancara. Katniss tetap menjadi perhatian. Apalagi ketika Peeta secara terang-terangan mengungkapkan rasa cintanya kepada Katniss.
Haymitch pun punya rencana, ia akan “menjodohkan” mereka berdua. Agar sponsor berbelas kasih kepada mereka dan mengirimkan sesuatu yang mereka butuhkan. Katniss awalnya menolak. Tapi demi keuntungan berdua, ia pun menerima tawaran itu. Walau ia tau, Gale akan tersakiti. 
Hunger Games dimulai..
Hunger Games dimulai. Sebuah permainan mematikan akan memiliki satu pemenang. Nun jauh di Corcunopia, ke-24 peserta akan memperebutkan ransel dan apapun yang dibutuhkan oleh peserta. Tapi disana akan jadi pertempuran. Ada 11 peserta yang tewas di Corcunopia. Katniss berhasil mengambil tas oranye cerah. Peeta entah kemana.
Pada awal Hunger Games ia tidak membunuh peserta yang lain. Ia hanya fokus untuk mencari air. Karena ia dehidrasi berat. Dan ketika dalam pencarian air, ia bertemu dengan kelompok Karier (kelompok yang bersekutu untuk membunuh). Ia kaget ketika tahu bahwa Peeta berada bersama mereka. Berlari dan memanjat adalah cara yang baik untuk menghindar dari mereka. Dan sampailah ia di atas pohon. Kelompok Karier tak memiliki kemampuan untuk memanjat seperti Katniss. Ia pun selamat untuk sementara.

Otaknya berputar. Ia harus mencari cara untuk membuat mereka jauh dari sini. Seorang peserta, Rue dari Distrik 11 menunjukkan sebuah sarang tawon penjejak. Hewan mutan yang bisa membunuh manusia dalam beberapa kali sengatan. Katniss pun menjatuhkannya di atas kepala mereka. dua dari mereka pun tewas seketika.

Ia kabur dan akhirnya bersekutu dengan Rue. Mereka membagi tugas, Rue mengalihkan perhatian kelompok musuh dan ia menghancurkan persediaan makanan kelompok karier. Ketika ia berhasil menemukan Rue, ia tersadar bahwa Rue mati ditangan seorang penombak. Ia pun kalap dan membunuh dari Distrik 1. Kehilangan Rue seakan ia kehilangan Prim, ia menangis sejadi-jadinya. Dan menyanyikan jasad Rue serta menempelkan tiga jari kemulut dan mengangkatnya kelangit. Itulah tanda penghormatan dari Distrik 12. 
Pertarungan sempat terhenti ketika Ketua Juri Pertarungan membacakan peraturan baru. Dua orang bisa jadi pemenang, jika berasal dari distrik yang sama. Katniss pun mencari Peeta. dan menemukan Peeta dalam keadaan lemah, sedang berkamuflase menjadi lumpur. Katniss membawanya kedalam sebuah gua. Disana ia merawat lukanya.
Cerita di dalam gua sangat menyentuh. Penulis berhasil membawa pembaca melihat kilas balik kehidupan mereka berdua. Entah kenapa, adegan jatuh cinta bohongan menjadi kenyataan. Katniss tak ingin kehilangan Peeta, ia merasa berutang padanya. Dan ia pun menjadi kalap ketika Juri Pertarungan menyatakan bahwa ada obat-obatan di Corcunopia. Ia pun mendapatkan obat tidur dan bisa menidurkan Peeta untuk sementara. Dan ia pergi bertarung untuk mendapatkan tas kecil berisi obat-obatan.

Di Corcunopia, ia beradu dengan Clove dari Distrik 2. Namun ketika pisau Clove hampir mencungkil mata Katniss, Thresh dari Distrik 11 memukulnya. Ia marah karena C
love telah membunuh Rue, Rue adalah teman dari Distrik 11. Thresh merasa berutang budi pada Katniss yang telah memperlakukan Rue sebagai sekutunya. Karena itu Thresh tidak membunuhnya. Dan Katniss pergi tepat ketika Cato datang.

Ia pun kembali ke gua dan mengobati Peeta. Ah, indah banget. Saya merasakan cerita semakin seru dan menegangkan. Ketika mereka berdua harus pergi untuk menghabisi peserta terakhir, Cato. Dan mereka tergiring ke Corcunopia. Karena mutt (mutan serigala) menyerang mereka membabi buta. Seakan ingin memakan habis mereka, Cato pun berusaha menyingkirkan Peeta. Namun Katniss dan Peeta saling melindungi. Tak lama, mutt menghabisi Cato tanpa sisa.

Dan tiba-tiba pengumuman bergema “Pemenang hanya boleh satu orang saja!”. Mereka berdua kaget. Dan sama-sama tak bisa membunuh satu sama lain. Katniss pun memiliki ide untuk memakan berry beracun, nightlock. Ketika berry sudah dimakan, pengumuman bergema “Mereka adalah pemenang untuk Hunger Games ke 74″…

Siksaan mental di Hunger Games pun berakhir. Keduanya dinobatkan menjadi pemenang dan bisa kembali ke distriknya. Tapi, ketika di kereta api. Ternyata Katniss tak bisa mengungkapkan perasaan aman ketika bersama Peeta. Dan mereka pun berpisah dan tak saling bicara. Mereka sibuk ke kehidupan masing-masing di Desa Pemenang.

Ceritanya mantap. Sayang saya tak bisa meceritakannya dengan baik. Jadi, buku The Hunger Games akan menjadi bacaan cocok untuk menghabiskan akhir minggu dengan berdebar-debar. Dan tak sabar untuk melanjutkan buku kedua Catching Fire.

Ow, satu kalimat Katniss yang saya rasa sangat manis :
“Aku tidak mau kehilangan anak lelaki yang memberiku roti”. Hal. 327

😀

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *