Ubud, Kintamani, Tegalalang dan Kita..


di pintu masuk sacred monkey in Ubud

Pagi ini saya sangat bersemangat. Karena menurut rencana kemarin, kami akan menjelajahi satu bagian kecil dari Bali. Awalnya kami berniat ke Bedugul untuk mencicipi udara dingin dan melihat salah satu Pura besar yang ada di Bali. Namun, kami lebih memilih untuk pergi ke Ubud, tempat yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya seniman-seniman handal. 
Tim kali ini terdiri dari saya, Bang Lalu, Kak Nilma, Bang Firman, Kak Ma’ruf dan juga Bli Ketut sebagai driver kami. Perjalanan dimulai pukul 08.34 Wita, padahal Bli Ketut sudah menunggu sejak pukul 08.00 Wita. Maafkan kami, Bli.
Kami pun menaiki Avanza hitam dan pergi menjemput Kak Nilma di bilangan Tukad Babakan. Dan setelah tim lengkap, kami pun pergi ke Ubud. Lokasi pertama yang akan kami kunjungi adalah Ubud Monkey Forest. Hanya saya dan Kak Ma’aruf yang masuk ke dalam dan membeli tiket seharga 20 ribu rupiah. Kak Nilma pergi menikmati message, sedangkan Bang Lalu dan Bang Firman duduk di depan pintu masuk. Entah, mungkin mereka menunggu bule yang lewat. 😀
me and monkey
Tempat ini adalah tempat sakral di Ubud. Sesuai dengan namanya, kawasan pura ini dihuni oleh monyet-monyet hutan dengan nama latin Macaca fasciculari. Mereka tidak bergerombol dan kadang-kadang bisa sangat agresif. Pengunjung tidak disarankan untuk mengerjai atau mempermainkan monyet-monyet ini. Karena bisa dijamin anda akan dikejar bahkan digigit. 
Seorang pegawai menawarkan jika saya ingin bersentuhan langsung dengan primata tersebut. Saya pun mengiyakan, dan pegawai tersebut meletakkan makanan di bahu saya. Si monyet pun menaiki bahu saya dengan agresif. Sumpah, bulu kuduk gue merinding. Karena monyet disini dipercaya sebagai monyet-monyet sakral jelmaan dewa Hanuman. Setelah puas bermain dengan monyet, kami menjelajah beberapa pura di dalam kawasan ini. Disini ada juga kolam permintaan yang berisi banyak ikan mas. Setelah puas menjelajah, kami pun melanjutkan perjalanan kembali. 
Kali ini tujuan kami adalah Tegalalang, daerah yang terkenal dengan Terasering Paddy Field. Jadi lahan padi para petani berada di bukit-bukit dan sawahnya bertingkat-tingkat. Looks so cool dari jauh. Tapi padahal hal ini sangat berbahaya lho. Bayangkan saja jika di bukit-bukti sudah dirubah menjadi sawah dan tidak ada pohon yang menahan air dari atas. Kami hanya berfoto disini dan kemudian pergi menuju Kintamani. 
terasering paddy rice field at Tegalalang
Perjalanan menuju Kintamani saya lebih banyak berbicara dengan Bli Ketut soal budaya di Bali. Saya agak penasaran dengan mitos bahwa perempuan Bali bekerja lebih keras dibandingkan laki-laki Bali yang suka berjudi dan sabung ayam. Bli Ketut pun menerangkan bahwa laki-laki Bali memiliki warisan keluarganya. Sedangkan perempuan tidak memiliki warisan sama sekali dari keluarganya. Jadi perempuan harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadi jangan heran jika kalian melihat perempuan yang mengangkut kayu dan ikut bekerja membangun sebuah hotel. 
Selain bercerita soal budaya, Bli Ketut juga menjelaskan mengenai kehidupan masyarakat di Kuta yang menurutnya sudah sangat jauh dari budaya Bali. Ia merasa kesal dan marah dengan keadaan bahwa Kuta sudah sangat “asing” bagi dirinya. ia menyayangkan bahwa Kuta sudah sedemikian berubah. Namun ia hanya masyarakat kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Terlalu banyak masyarakat Bali yang menggantungkan hidupnya di Kuta. Ia cukup mengelus dada dan berharap Bali tak berubah seluruhnya. 
Perjalanan ke Kintamani, kami menyusuri kebun-kebun kopi. Para pengusaha kopi Bali membuat usahanya terlihat menarik. Sama seperti Dole Plantation di Hawaii, mereka membuka kebun kopinya sebagai tempat rekreasi. Di dalamnya kalian bisa menikmati seduhan kopi langsung dari kebunnya, melihat proses pembuatan kopi luwak dan beragam hal mengenai kopi. 
Kami pun tiba di Kintamani, namun saat ini cuaca sedang tidak baik. Sangat berkabut, jarak pandang hanya sekitar 3 meter. Padahal di daerah ini kita bisa melihat Gunung dan Danau Agung. Hiks. Karena itu, kami hanya menikmati minuman di resto pinggir danau. Saya dan Bang Lalu memesan teh jahe madu hangat. Maknyess. Sedangkan Kak Maaruf dan Kak Nilma memesan kopi dan susu hangat. Setelah puas, kami pun pergi ke tempat lain lagi. 
Museum Mancawarna
Kali ini tujuannya ke Goa Gajah, sebuah pura zaman dulu yang masih terawat hingga kini. Goa Gajah terletak di Kabupaten Gianyar. Harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Kintamani ke Gianyar. Sebelum ke Goa Gajah, kami sempat singgah di Museum Soekarno. Hanya berfoto dan melihat salah seorang pejabat keluar dari area museum. 
Setibanya di Goa Gajah kami langsung membeli tiket masuk seharga 15.000 rupiah. Kami pun dipersilahkan untuk menggunakan sarung berwarna cerah di pintu masuk. Menurut guide, jika memakai celana pendek harus menggunakan sarung. Sedangkan saya tetap menggunakan sarung walaupun menggunakan celana panjang. Hahaha. Biar keliatan keren. 😛
Disini kami dihidangkan pemandangan sebuah goa yang telah diukir dengan gambar kepala sebuah hewan mitos, entah naga, singa atau jangan-jangan siluman. I dont know. 😛 ketika memasuki goa tersebut, saya merasa pening. Karena tidak ada sirkulasi udara selain itu bau dupa yang menguar dari lubang-lubang di goa membuat saya angkat kaki dari goa tersebut. Puas melihat goa dan pemandian, kami pun menaiki tangga untuk melihat pura di atas bukit. 
Namun ternyata pura tersebut sudah berbeda manajemen dengan pura Goa Gajah. Jika kami ingin masuk, kami diharuskan membayar lagi. Hhh. Karena langit sudah sangat gelap, kami pun memutuskan untuk pulang ke hotel. Benar-benar perjalanan yang keren. 😀

Ditulis di Kamar Kost, Wuring, Kab. Maumere, NTT
29 Januari 2014 22 : 18 Wita

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *