Wae Merkuri di Pulau Buru

Semua mengenal Pulau Buru sebagai tempat pengasingan para tahanan politik di masa Orde Baru. Pulau ini menjadi tempat yang digunakan oleh pemimpin rezim untuk menyingkirkan lawan politiknya. Banyak orang yang dibuang begitu saja kesana. Di tahun 1969, ratusan orang menembus rimba di Buru. Tepat tanggal 17 Agustus, di hari kemerdekaan.

Banyak tahanan politik yang dipenjara tanpa proses pengadilan, diasingkan di pulau yang terpencil, dan meninggalkan keluarga di pulau Jawa. Mak tak heran jika di masa kini, banyak turunan Jawa yang berasal dari tahanan politik dan mereka masih bertahan disana.

Pulau Buru memiliki banyak sungai yang mengalir di seluruh pulau. Menurut catatan, sungai-sungai tersebut berasal dari Danau Rana. Hampir semua daerah di Pulau Buru diawali dengan nama Wae. Wae berarti sungai. Sebut saja Waepure, Waenibe, Waeapo, Waemlana, dan wae lainnya. Sungai-sungai mengalir hingga ke laut. Dengan berkah sungai yang sangat panjang, banyak buaya-buaya yang hidup di aliran sungai tersebut. dulu, pernah ada seekor buaya besar yang memangsa nelayan-nelayan ataupun anak nelayan yang siap untuk melaut. Buaya itu meresahkan masyarakat dan akhirnya dibunuh dan jasadnya masih bisa kita lihat saat ini di Museum SiwaLima, Ambon. Panjang buaya itu mencapai puluham meter dengan berat ratusan kilogram. Itu adalah gambaran betapa sungai di Pulau Buru termasuk besar hingga bisa menyembunyikan ‘monster’ tersebut bertahun-tahun.

Sungai-sungai ini mulai menyusut ketika marak kegiatan penambangan. Sejak tahun 2010, ketika seorang transmigran menemukan kandungan emas di tanah di Gunung Botak, informasi ini tersebar dari mulut ke mulut. Hingga datanglah berduyun-duyun semua orang dari berbagai daerah untuk mengadu nasib di tambang emas ilegal. Tiada pengaturan yang dilakukan oleh pemerintah membuat penambang liar semakin tak terkendali. Selain di Gunung Botak, lokasi emas pun ditemukan di Gunung Gogorea. Walaupun katanya kadar emas yang dihasilkan masih lebih tinggi yang ada di Gunung Botak.

Sungai Tercemar Karena Merkuri

Hutan rimba di sekitar pegunungan terkikis sedikit demi sedikit. Manusia mulai melakukan banyak hal untuk mengeruk keuntungan yang besar. Laporan dari masyarakat yang hidup di sekitar lokasi penambangan dan di sekitar aliran sungai, seperti Sungai Suket, Sungai Waetina, Sungai Kayeli, Sungai Anhony dan Sungai Wailata, sungai-sungai tersebut dijadikan sebagai tempat pembungan limbah berbahaya (mercury/air raksa). Para pekerja, menggunakan mesin tromol untuk memisahkan logam mulai dari material pasir dan batuan dengan menggunakan air raksa. Penambang membuat drum penampungan limbah air raksa (Hg) yang disebarkan di beberapa lokasi tepi sungai agar memudahkan mencuci hasil tambang. Nah drum penampungan limbah ini terhubung oleh pipa yang disambungkan dari mesin tromol dan nantinya dialirkan langsung ke sungai-sungai.

keadaan di penambangan  https://kumparan.com/anggi-kusumadewi/emas-dan-racun-perak-yang-mengubah-wajah-pulau-buru

Karena tidak adanya pengawasan, merkuri yang dibuang langsung ke sungai secara otomatis ikut mencemari laut. Di teluk Kayeli saja misalnya, beberapa penelitian menyebutkan bahwa ambang batas merkuri di sedimen sudah mencapai 9 miligram (mg) per 1 kilogram (kg) lumpur. Padahal ambang batas merkuri pada sedimen tidak boleh lebih dari 1 mg per 1 kg lumpur. Betapa berbahayanya tingkat merkuri yang ada disana. Hal ini pun berdampak pula pada biota-biota yang hidup di Teluk Kayeli. Beberapa jenis bahan makanan seperti ikan, udang, kepiting, dan kerang-kerangan, sudah ikut tercemar oleh merkuri.

Hal ini pun membuat masyarakat Pulau Buru di sekitar lokasi tambang yang biasanya melakukan kegiatan bertani atau melaut, berganti profesi menjadi penambang emas juga. Walaupun pemerintah telah memberikan peringatan beberapa kali agar lokasi tambang ditinggalkan, toh selalu saja ada penambang liar yang datang lagi kesana.

#15harimenulis

Ditulis di rumah Falma, di Salemba

23:50 WIB 14 Juni 2017

Setelah rapat persiapan sesuatu

 

Hari kelima #15harimenulis : AIR

1. Maruf M Noor https://sajakantigalau.wordpress.com/2017/06/14/menakar-air-tawar-di-pulau-balikukup/
2. Acitra Pratiwi  http://www.acitrapratiwi.com/2017/06/molekul-air-di-jemuran.html?m=1
3. Andi Arifayani  http://www.andiarifayani.com/cerita-air-dan-ibu/
4. Cecein https://cecein.wordpress.com/2017/06/14/air-mata-dan-hujan/
5. Hasymi http://matamatamakna.blogspot.co.id/2017/06/betapa-menyedihkannya-tidak-mahir.html?m=1
6. Muhammad Sultan Arief https://muhammadsultanariefmunandars.wordpress.com/2017/06/15/keruh-vs-bening/ 
7. Atrasina Adlina http://adlienerz.com/wae-merkuri-di-pulau-buru/

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *