Yuk Gunakan Publik Transportasi Demi Asian Games 2018

Bulan Agustus menjelang, Asian Games pun tak terasa sudah di depan mata. Banyak hal yang harus dipersiapkan oleh Indonesia, lebih tepatnya Jakarta dan Palembang sebagai tempat bertanding nantinya. Namun ternyata banyak hal yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah melakukan pengaturan lalu lintas di Jakarta yang menjadi tempat mencari nafkah bagi 5.461 orang setiap harinya. Sehingga mengatur lalu lintas Jakarta sungguh bukannya pekerjaaan mudah dan sebentar. Publik transportasi bisa jadi salah satu solusi yang terjadi…

Meniru Konsep di Bogota untuk Transportasi Jakarta

sumber : Humas BPTJ, Kemenhub RI

Transportasi menjadi masalah yang dihadapi ibukota sangat kompleks sehingga pembenahan lalu lintas bukanlah masalah parsial. Artinya, kebijakan pembenahan harus melibatkan berbagai sektor bukan hanya Kementerian Perhubungan sebagai penanggung jawab, namun juga lembaga lain seperti Kementerian PU sebagai pembangun infrastruktur, Kementerian Lingkungan Hidup yang konsen terhadap lingkungan dan tentu saja Kepolisian sebagai pengatur lalu lintas.  Setiap negara punya caranya sendiri dalam membenahi lalu lintas. Kita harus banyak dari berbagai negara berkembang yang tingkat perekonomiannya yang relatif sama dengan Indonesia. Salah satunya TransJakarta yang mencontoh metode sama yang diterapkan di Bogota, Colombia. Di Kolombia, namanya adalah TransMilenio. Awalnya hanya ada beberapa bis, namun sekarang mencapai lebih dari dua juta penggunanya setiap hari. Dengan beberapa akar masalah seperti keterbatasan lahan, anggaran, serta tingginya volume kendaraan pribadi membuat muncul ide membuat TransMilenio. Terobosan inilah yang kurang lebih 12 tahun lalu ditiru oleh Jakarta dan menjadi TransJakarta. Walaupun awalnya muncul kontra dimana-mana, kini harus diakui, TransJakarta telah menjadi salah satu moda transportasi andalan di Jakarta. Bahkan menjadi salah satu transportasi favorit saya selama tinggal di Jakarta. Harganya yang murah dan bisa menjangkau banyak tempat. Hoho. Anaknya suka yang murah..

Pendekatan pembenahan transportasi tidak saja dengan menerbitkan regulasi, namun perlu dibarengi dengan edukasi yang kontinu. Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) sebagai lembaga setingkat Direktorat Jenderal di Kementerian Perhubungan secara konsisten melalukan berbagai program edukasi. Pendekatan lain adalah melalui event-event nasional dimana transportasi berperan penting di dalamnya. Asian Games 2018 dianggap merupakan momen yang tepat untuk merekayasa lalu lintas Jakarta secara lebih masif.

Rekayasa Lalu Lintas

Kenapa bisa dikatakan Asian Games 2018 merupakan hal yang sangat tepat untuk melakukan rekayasa lalu lintas di Jakarta? Jadi begini ceritanya, hampir seluruh negara yang menghelat event-event internasional khususnya olahraga melakukan rekayasa lalu lintas. Apa itu rekayasa lalu lintas atau dalam bahasa inggris disebut Traffic Engineering?

Menurut Homburger & Kell[1] adalah suatu penanganan yang berkaitan dengan perencanaan, perancangan geometrik dan operasi lalu lintas jalan serta jaringannya, terminal, penggunaan lahan serta keterkaitan dengan moda transportasi lainnya.

Jika diartikan lebih mendalam lagi, bisa dikatakan bahwa rekayasa lalu lintas berguna untuk mengalirkan lalu lintas orang dan barang secara aman dan effisien dengan cara merencanakan, membangun dan mengoperasikan geometrik jalan, dan dilengkapi dengan rambu lalu lintas, marka jalan serta alat pemberi isyarat lalu lintas. Jadi proses ini lah yang dinamakan rekayasa lalu lintas.

sumber : Humas BPTJ, Kemenhub RI
sumber : Humas BPTJ, Kemenhub RI

Pertanyaan selanjutnya muncul adalah kenapa harus rekayasa lalu lintas saat Asian Games 2018? Ada dua alasan yang menjadi latar belakang pembuatan rekayasa lalu lintas. Pertama, kemacetan masih jadi masalah krusial di Ibukota dan sekitarnya. Jakarta juga tengah gencar membangun infrastruktur di hampir setiap sudutnya, yang mempengaruhi arus lalu lintas. Kedua, ada standar internasional pihak OCA (Olympic Council of Asia) yang menerapkan syarat waktu tempuh atlet ke venue sekitar 30 menit dan kualitas udara yang baik, setidaknya  mengikuti baku mutu harian menurut PP Nomor 41 Tahun 1999 adalah 65 mikrogram per meter kubik atau  baku mutu  menurut WHO adalah 25 mikrogram per meter kubik.

Contoh dari Olympiade Beijing 2012

Kedua alasan ini cukup kuat untuk pembenahan di Kota Jakarta dan karena itulah sejak 2 Juli 2018 lalu dilakukan ujicoba rekayasa lalu lintas Jabodetabek. BPTJ meluncurkan 3 paket kebijakan transportasi untuk menjamin pelaksanaan Asian Games lancar. Ketiga paket kebijakan tersebut  yaitu Manajemen Rekayasa Lalu Lintas (MRLL), Penyediaan Angkutan Umum serta kebijakan Pembatasan Lalu Lintas Angkutan Barang (golongan III, IV, dan V). Selain untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan Asian games.

Jika program ini berlangsung dengan baik, besar kemungkinan Jakarta akan menerapkannya setelah Asian Games 2018 berlangsung. Salah satu bukti keberhasil rekayasa lalu lintas pernah dirasakan oleh China. Sebagai tempat penyelanggara Olympiade Beijing 2012 lalu. Beijing sebagai ibukota China raksasa baru perekonomian, mengalami masalah lalu lintas yang hampir dialami oleh semua negara berkembang, yaitu macet. Jika di Jakarta pengaturan hanya sebatas plat ganjil genap, Beijing lebih ekstrim pengaturan benar-benar berdasarkan nomer plat mobil. Misal angka 1 dan 2 hanya bisa melintas di Senin dan Rabu, angka 3 dan 4 hanya bisa Kamis dan Jumat, dan seterusnya. TIdak main-main, pelajaran dari Olympiade ini diimplementasikan bahkan setelah pekan olahraga dunia tersebut berakhir.

sumber : Humas BPTJ, Kemenhub RI

Harapannya macet bisa berkurang dengan drastis untuk di Jakarta. Karena riset membuktikan lebih dr Rp 100 triliun hilang setiap tahun akibat kemacetan di Jabodetabek. Sebuah artikel lain menyebutkan satu mobil pribadi menghasilkan 250 kg emisi CO2 per penumpang per 1000 km, sementara bus hanya menghasilkan 50 kg emisi CO2 per penumpang per 1000 km. Artinya dengan naik kendaraan umum, kita secara tidak langsung juga sudah menjaga lingkungan.

Beralih ke Transportasi Publik

Karena adanya rekayasa lalu lintas dengan implementasi ganjil genap pada plat mobil pribadi. Hal ini membuat masyarakat diajak untuk menggunakan transportasi publik Jakarta, terutama bagi mereka yang terbiasa dengan kendaraan pribadi. Tapi gak perlu khawatir atau takut jika menggunakan publik transportasi di Jakarta. Saat ini Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) bekerja sama dengan berbagai operator kendaraan umum menambah armada bis-bis di Ibukota. Kebijakan ini meliputi penambahan armada bus Transjakarta ke venue sebanyak 76 unit dari kondisi existing 294 unit, penyediaan 57 unit bus dari Hotel/Mall ke Venue, penyediaan 204 bus khusus untuk wilayah-wilayah yang terdampak perluasan kebijakan ganjil-genap, serta penyediaan 10 unit bus guna keperluan non pertandingan (wisata). Menariknya, semua bus dengan trayek menuju venue akan digratiskan untuk masyarakat umum. Yeayyy.. Asik banget kan bisa menyelam sambil minum air. Siapa tau bisa ketemu dengan atlet ganteng dari negara lain. Upss..

sumber : Humas BPTJ, Kemenhub RI

Gak sampai disitu inovasi yang dilakukan oleh BPTJ, mereka juga menggandeng Google Indonesia untuk merilis update aplikasi Google Map yang dapat mendeteksi rute ganjil genap. Aplikasi  ini akan memberikan informasi mengenai rute  mana yang harus dilalui jika menggunakan kendaraan pribadi agar tidak melanggar jalur ganjil genap. Pengguna juga akan mendapatkan informasi waktu tempuh yang dibutuhkan jika melalui jalur alternatif. Nah tambah mudah kan?

Moovit, Aplikasi Publik Transportasi

Buat teman-teman yang masih agak awam dengan jadwal kendaraan umum bisa mengunduh aplikasi Moovit. Aplikasi ini membantu para calon penumpang transportasi publik seperti jadwal kereta bahkan angkot secara real time. Wiiii. asik banget kan? Tak hanya itu, kita juga bisa cek waktu kedatangan, notifikasi tujuan dan rute detail di dalam maps, sehingga kita bisa dengan mudah menemukan rute di Jakarta dengan cara paling efisien dan efektif. Tidak tanggung-tanggung untuk Asian Games, bahkan sudah diperbaharui hingga ke lokasi dan rute masing-masing cabang olahraga. Apalagi yang harus dipermasalahkan? Semuanya sudah mencoba sistem integrasi di dalam sektor transportasi.

Walaupun Asian Games hanya berlangsung selama kurang lebih tiga minggu, kita semua berharap dapat belajar memahami kondisi jalanan Ibukota dengan lebih baik. Ya, perubahan memang butuh waktu, dan juga butuh kontribusi semua pihak. Termasuk kamu.. Iya kamu.. Tidak ada yang dapat membuat semuanya menjadi lebih baik, jika kita tidak turut serta berpartisipasi. Naik kendaraan umum tidak mungkin senyaman kendaraan pribadi, tapi naik bus itu banyak manfaat sosial. Membantu mengurangi macet, mengurangi polusi dan membuat hidup kita pun makin berkualitas.

Yuk dukung Asian Games 2018 dan dukung perubahan transportasi Ibukota menjadi lebih baik.

 

ditulis ulang di Forum Wageningen University

12.30 CET Monday 6 Agustus 2018

setelah ujian Globalization and Food Production

You may also like

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.