Benteng Amsterdam di Ambon, Tempat Rumphius Meneliti

ย  Benteng Amsterdam pernah jadi tempat tinggal dan juga lokasi penelitian bagi seorang Rumphius, ahli botani VOC yang banyak meneliti flora dan fauna di Maluku. Mendengar kata Amsterdam pikiran langsung terbayang dengan kota Amsterdam di Belanda. Sebuah benteng yang terletak di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, menjadi salah satu spot yang wajib dikunjungi saat pergi ke Ambon.

Sejarah Benteng Amsterdam

Sebuah benteng ini awalnya dibangun saat Portugis masih berkuasa di Indonesia sekitar tahun 1512. Benteng ini awalnya berbentuk sebuah loji.ย  Mereka menggunakan benteng ini sebagai salah satu tempat penyimpanan rempah-rempah yang diambil dari sekitar Pulau Ambon. Namun hal ini berubah ketika Belanda sudah mulai memasuki daerah Maluku. Loji ini pun diubah menjadi blokhuis atau rumah balok dari batu yang menjadi tempat pertahanan pada tahun 1637 saat Jaan Ottens berkuasa. Benteng Amsterdam ini pernah juga jadi pusat koordinasi milik VOC pada masa tersebut.

Lalu benteng ini pun mengalami beberapa kali perubahan hingga menjadi lebih besar seperti yang kita lihat saat ini.ย Tidak cukup banyak informasi yang tersedia di dalam benteng ini. Ketika masuk ke dalam area benteng, tidak telalu banyak pengunjung. Mungkin karena letaknya yang jauh dari pusat kota Ambon. Tapi sebetulnya tempat ini penuh dengan sejarah dunia biologi.

Benteng Amsterdam
pemandangan dari benteng
penanda Benteng Amsterdam, Ambon

Tempat Tinggal Rumphius

Di dalam area benteng yang berlantai tiga ini pernah menjadi tempat tinggal Georg Everhard Rumphius, seorang ahli botani Belanda yang melakukan penelitian di Maluku pada abad ke-17. Beliau juga menjadi salah satu pelopor ilmu arkeologi di Indonesia. Namun sayang karena usia, rumah yang pernah ditinggali oleh Rumphius sudah tak terlihat jelas. Hanya puing-puing pondasi yang masih bisa kita lihat saat ini.

Saya sempat melihat patung beliau yang sedang menulis di Museum Troppen, Belanda. Namun saat itu karena banyak display yang hanya menggunakan bahasa Belanda saya tak memahami semuanya. Ternyata setelah saya telisik ulang, Rumphius tinggal di dalam area Benteng Amsterdam. WOW!

penelitian milik Rumphius di Museum Troppen

Pada tahun 1660 beliau ditugaskan di Negeri Hila, menurut website milik Departemen Kebudayaan, Rumphius menempati sebuah rumah di dekat benteng. Dimana ia kemudian menikahi seorang gadis lokal yang bernama Susana dan hasil dari pernikahan tersebut dikarunia tiga anak. Selama hidupnya di Hila ia kembali menekuni kegiatan yang ia sukai yaitu meneliti. Ia meminta kepala VOC di Amsterdam yang saat itu menjabat untuk mendukung kegiatan penelitiannya.

Beliau berhasil membuat banyak buku dan mengumpulkan spesimen-spesimen flora dan fauna dari Maluku. Saat ini kita masih bisa melihat hasil kerjanya di beberapa museum di Belanda, misalnya saja Museum Troppen ataupun bukunya di Perpustakaan Universitas Leiden. Sayang saya gak sempet ke Perpustakaan tersebut. Hiks.

Kemalangan bagi Rumphius

Saat ini kondisi Benteng Amsterdam masih utuh dan menjadi salah satu cagar budaya. Namun hal itu tak terjadi dengan tempat tinggal Rumphius. Rumah yang ia tempati bersama anak istrinya hilang dan tak bersisa setelah tsunami yang menyapu Pulau Ambon pada 2 Juli 1674. Tsunami besar itu merenggut hampir 2000-an warga termasuk orang tercinta Rumphius, Susanna dan tiga anak mereka. Pada saat itu Rumphius selamat karena sedang berada di dalam Benteng Amsterdam tempat bekerjanya.

Rumphius, Ambon, Troppen Museum, Indonesia
Rumphius, in Troppen Museum, The Netherlands

Padahal 4 tahun sebelumnya, Rumphius menjadi buta total karena glukoma yang ia derita. Karena itulah ia dipindahkan ke Ambon karena dianggap sudah tidak mampu menjalankan tugasnya di Negeri Hila. Tapi hal itu tidak menyurutkan keinginannya untuk menyelesaikan buku-bukunya tentang Ambon yang masih bisa kita baca hingga saat ini. Dalam keterbatasan dan kemalangan yang menimpanya, ia tetap menerbitkan buku-buku tentang flora dan fauna Maluku.

Hingga pada tahun 1702, beliau menghembuskan nafas terakhir di usianya yang ke 75 tahun. Beliau akan dikenang sebagai ilmuwan dalam bidang biologi di Indonesia.

 

ditulis di Tajurhalang

23:37 WIB Sabtu, 6 Juni 2020

dibuat setelah melihat foto di Benteng Amsterdam dan mengorek-orek folder foto di Troppen Museum, Belanda.

 

 

sumber bacaan :

Mencari Jejak Rumphius – https://kumparan.com/ambonnesia/mencari-jejak-rumphius-sang-ilmuwan-buta-di-ambon-1545478751035835876/full

Studi Teknis Benteng Amsterdam – https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmalut/studi-teknis-benteng-amsterdam/

Benteng Amsterdam – https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmalut/benteng-amsterdam/

You may also like

2 Comments

  1. kasian juga istri dan anak2nya menjadi korban tsunami..

    jadi penasaran sama buku karya beliau, jadi pgn nyari.. btw namanya kenapa benteng amsterdam ya?? kalau di makassar, fort rotterdam karena si Speelman lahir di kota Rotterdam di Belanda, jadi dinamakan seperti itu..

    -traveler paruh waktu

  2. wah iya, pertanyaan bagus. Ak malah gak kepikiran sampai kesana. Iya juga ya. Kenapa namanya Amsterdam, kenapa bukan Benteng Hoorn. Kalau dari sumber ambon.go.id. penyelesaian benteng ini dilakukan oleh ARNOLD De VLAMING Van OUDS HOORN pada tahun 1649-1656 dan ia menamakannya Benteng Amsterdam.

    Padahal dia berasal dari Hoorn, tapi malah namainnya Amsterdam. Haha. Padahal JP. Coen itu berusaha mati-matian namain Batavia jadi Little Hoorn tapi ditolak mentah-mentah sama yang lain. Karena si JP Coen ini berasal dari Hoorn.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.