Cerita tentang Bekal dan Tanda Cinta

cerita tentang bekal

Tulisan ini kepikiran karena menjawab thread seseorang di Twitter yang bertanya soal apakah masak sendiri lebih murah? #masaksendiripangkalkaya . Dan Yes, kami sudah menerapkannya selama tiga tahun meniqah walaupun masih suka bolong-bolong. wkwkw

Bekal Setiap Pagi

Ketika kami tinggal di rumah petakan di Depok, Arif selalu berangkat kerja pukul 7 pagi. Sebelum itu saya sudah pergi ke warung untuk beli sayur-sayuran, tempe dan telur. Sayurnya pun tidak banyak variasinya. Arif punya Gastroesophageal reflux disease atau bisa disingkat sebagai GERD, sehingga ada beberapa jenis sayuran yang menjadi pantangannya. Sehingga saya biasanya cuman beli toge, caisim, wortel, labu siam, kacang panjang, buncis, dan jagung. Tempe dan tahu selalu masuk dalam daftar belanja. Kalau telur, saya selalu menyediakan satu kilogram di dalam dapur. Dia selalu suka telur ceplok mata sapi setengah matang ditambah kecap manis.

Setiap pagi, saya selalu membuat tumis sayur, tempe goreng, atau telur goreng sebagai bekal. Arif trauma juga jajan di kantin dekat kantor. Pernah satu kali, saya males masak. Haha. (maafkan saya, by). Dia jajan lah di dekat kantor. Nasi pecel ayam dan gak pedas. Sepulangnya itu dia demam, muntah, dan lemas tak berdaya. Esoknya kami langsung ke RS, dia ternyata keracunan makanan dan juga tipes. Sejak saat itu, saya janji mau masakin dia terus.

Berangkat ke Belanda

Di Belanda ada sebuah hal yang paling saya suka. Hampir semua mahasiswa membawa bekal mereka ke kampus. Jadi jangan heran saat makan siang, semua mahasiswa membuka kotak bekal mereka. Makannya pun beramai-ramai di kantin kampus. Ada kantin yang terbuka di setiap gedung di Helix, Forum, Leeuwenborch, Atlas.

baca juga : 17 hal yang dilakukan orang Indonesia di Wageningen

makan beka;
makan bekal

Kebanyakan dari mahasiswa Belanda membawa bekal roti ataupun salad. Hmmm. Gak menggairahkan bagi kami mahasiswa Indonesia. Haha. Biasanya kami (mahasiswa Indonesia) janjian makan siang di Forum dengan kotak bekal masing-masing.

Seru sih, kadang kita tukeran isi makan siang. Ada yang bawa bakwan, ada yang punya ayam lada hitam, opor, bahkan ada yang masak rendang. Hahah. Biasanya kita saling mengabari satu sama lain di dalam grup Whatsapp. Kalau ada ajakan makan siang, ya langsung ngumpul di satu tempat.

Bekal, Sebuah Tanda Cinta

Masih lekat dalam ingatan, saat saya sedang di kampus, Arif datang dengan dua kotak makanan. Isinya beragam. Kadang nasi dengan ayam. Kadang nasi dengan ikan. Kadang buah-buahan.

Ia selalu membuatkan makan siang dan membawanya ke kampus untuk dimakan berdua. Atau kadang dimakan bertiga, berempat dan beramai-ramai. Karena memang kebiasaan membawa bekal bukan hanya dilakukan oleh kami berdua. Hampir semua mahasiswa di Wageningen memiliki kebiasaan membawa bekal ke kampus. Hal ini dikarenakan harga makanan di kampus yang lumayan mahal.

Mari kita hitung, jika sekali makan di kantin Forum sekitar 7 euro, maka tujuh kali makan siang selama seminggu sekitar 49 euro. Itu melebihi jatah uang belanja seminggu. Arif sudah terbiasa mengalokasikan dana belanja mingguan kami. 20 euro per minggu. Boleh lebih jika memang keadaannya mendesak atau aku tantrum minta jajan, Hahah.

Pasti ada yang kepikiran, emang uang 20 euro cukup untuk seminggu? Cukup! Dengan catatan keras : Kalau si Adlien ini gak jajan di luar. Hahah. Saya ini paling suka jajan cemilan di Jumbo ataupun Albert Heijn. Biasanya sih cemilan semacam cokelat, roti, dan snack yang paling saya sukai. Cemilan ini jadi dalih sebagai dopping saya kalau lagi stress sama ujian dan tugas. Kalau lagi musim ujian, saya sudah nyetok cemilan banyak di dalam kulkas. HAHAHA!

Kalau si Arif gak suka nyemil. Dia lebih memilih untuk masak makanan berat. Beda banget lah. Karena itulah, dia yang memiliki tugas untuk berbelanja di saat hari pasar. Saat hari pasar, harga-harga bisa sangat-sangat murah. Buah sekotak hanya 2 euro. Arif paling suka beli buah yang bisa dimakan berkali-kali, misalnya melon atau semangka. Dua buah itu paling sering ada di dalam kulkas. Haha. Kalau saya suka buah pisang. Saya bisa beli pisang sampai 2 kali seminggu.

Manfaat Bawa Bekal

Sama seperti tiga tahun lalu saat kami tinggal di Depok, sekarang tinggal di Bogor pun Arif masih membawa bekal. Sempat vakum karena saya mengurus anak pertama kami, Ayyashy. Dan mas Arif mengeluh kambuh GERD dan muntah-muntah setelah makan nasi pecel ayam di dekat kantor.

Sehabis itu ia merajuk kepadaku agar mau memasak lagi. Dan akhirnya saya pun mulai lagi membeli bahan makanan. Karena sekarang saya memasak sekaligus untuk keluarga besar, jadilah saya belanja mingguan. Biasanya saya sudah menyetok dada ayam beku, ayam cincang beku, ikan beku, dan bakso. Nantinya saya akan mulai memasak tergantung makanan yang diinginkan oleh Arif.

Ada beberapa manfaat bawa bekal yang menurutku sangat berguna banget untuk kehidupan keluarga berumah tangga :

  1. Hemat! yess, ini bener banget. #MasakSendiriPangkalKaya. Sejak bawa bekal ke kantor, uang jajan mas Arif bisa dipotong. Biasanya untuk makan siang dan ngemil sore habis sekitar 50 ribu, sekarang jadi nol rupiah. Saya selalu bawakan dua kotak bekal. Satu nasi dan lauk-lauknya. Kotak kedua isi cemilan buah ataupun biskuit.
  2. Lebih bersih. Karena kita bisa melihat sendiri bagaimana sebuah bahan diolah menjadi masakan. Sehingga gak perlu khawatir kena penyakit tipes yang biasanya menyerang makanan yang belum diolah dengan baik atau kotor.
  3. Makanannya lebih sehat, soalnya kita bisa menentukan bahan makanan yang akan disiapkan. Pastinya kita akan memilih bahan-bahan makanan yang segar serta tanpa pengawet.
  4. Tanda cinta. Haha. Saya merasa di setiap bekal yang saya bawakan untuk mas Arif merupakan bentuk kasih sayang, rasa syukur dan tanda cinta. Pas masukkin makanan ke kotak bekal saya selalu memberinya mantra cinta agar dia selalu sehat dan bertenaga setelah memakan masakan saya. Hehe.

Penutup

Yaaa, begitulah curhatan emak-emak baru yang suka memasak buat suami. Masih amatir sih, tapi semoga bisa istiqomah untuk masak terus buat suami. 🙂

 

ditulis di Tajurhalang

23:24 WIB, Sabtu 22 Februari 2020

sambil mendengarkan bunyi jangkrik yang bersahut-sahutan

 

You may also like

5 Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.