7 Destinasi Menarik di Ambon Manise

@adliencoolz
Berawal ingin mengenal keluarga lebih baik, saya nekat pergi ke Ambon. Sebuah daerah yang terletak di bagian timur Indonesia. Entah, tapi saya jatuh cinta dengan Ambon. Saya jatuh cinta dengan keindahan kota yang memiliki pemandangan ke Teluk Ambon. Ah, aku cinta. Cinta dengan jalanan yang turun naik. Atau jalanan dengan tikungan besar. Atau jalanan yang penuh dengan orang menyebrang tanpa liat kanan-kiri. Atau jalanan yang bersebelahan dengan pantai. Alasan terakhir adalah alasan yang paling aku suka. Sepanjang perjalanan, anda akan terkagum-kagum dengan warna air yang sangat biru. Sebagai anak gunung (tempat tinggal saya tidak memiliki laut), saya sangat suka melihat air. Warna biru adalah warna favorit sejak kecil. Power Ranger Biru adalah idola saya. #eh. 
Selama di Ambon, saya disuguhkan pemandangan yang memanjakan mata. Saya sampai dibuat terkagum-kagum dengan kecantikan alamnya. Saya merekomendasikan Ambon sebagai tempat honeymoon. Hahaha. Tapi ini berdasarkan kenyataan.. Ambon memiliki destinasi wisata menarik. Saya akan menjabarkannya untuk anda. πŸ˜€

1. Pantai Hunimua
Sebenarnya pantai ini nyaris sama dengan pantai lainnya. Tapi karena tekstur pasir yang lebih kasar dan berwarna putih, saya sangat senang dengan pantai ini. Selain itu pantai ini sangat rindang. Banyak pohon-pohon di pinggir pantai, jadi terasa sejuk setelah seharian berpanas-panasan. Selain itu disediakan beragam olahraga air. Misalnya saja Banana boat atau jetski. Hmmm. Saya berkesempatan untuk mencoba naik banana boat. Belum lagi jajanan disini yang enak. Pisang goreng hangat dan sambalnya. Yummy…

Untuk masuk ke pantai ini kita harus merogoh kocek sekitar 5 ribu. Tidak terlalu mahal saya rasa untuk menikmati keindahan alam. Tapi yang agak menggangu saya adalah dekatnya pelabuhan rakyat dengan titik wisata. Jadi disini anda tidak akan menemukan terumbu karang yang cantik. Karena perahu besar menuju Masohi atau daerah lainnya selalu datang dan pergi dari pelabuhan Hunimua.

Letak pantai ini dekat dengan pangkalan TNI AL, menurut rumor, sedang ada masalah lahan di daerah ini. Karena TNI AL mengklaim bahwa tanah ini adalah milik negara bukan milik masyarakat setempat. Saya juga tidak menelusuri hal ini lebih lanjut. Tujuan awal saya kemari untuk menikmati keindahan yang ditawarkan oleh Ambon. #apatissementara

2. Pantai Natsepa
Sebenarnya garis pantai yang kunjungi Natsepa tidak terlalu besar, hanya di pinggir jalan. Yaaaa, Natsepa sangat indah. Bahkan jika dari jalan utama, anda bisa melihat keindahan yang ditawarkan oleh Natsepa. Di daerah ini berdiri Hotel Aston. Hmmm. Merusak saja.. πŸ˜›

Yang paling saya sukai adalah menikmati es kelapa langsung dari kelapanya. Harganya lumayan merogoh kantong, tapi rasanya enak. Benar-benar segar. Karena air kelapa asli, bukan campuran dengan air seperti yang selama ini saya beli di kota-kota besar. Selain itu kelapa-kelapa disini adalah kelapa sasi. Sasi adalah sebuah hukum adat di Ambon yang tidak memperbolehkan kelapa diambil seenaknya saja. Jadi ada waktu tertentu yang membuat keberlangsung hidup kelapa tetap terjamin. Hukum ini berlaku juga untuk bidang perikanan. πŸ˜€


3. Air Panas Batu Kuda
Sumber air panas di Batu Kuda
Disini saya teriak-teriak dan kegirangan setengah mati. Kenapa? Karena saya baru pertama kali melihat sumber mata air panas di pinggir laut. Benar-benar dekat dengan pantai. Airnya panas dan bisa untuk mandi. Biasanya masyarakat membawa gayung sendiri untuk mandi disini. Subhanallah! Keren sangat! Selain itu pemandangan yang disuguhkan disini sangat luar biasa indah. Hamparan batu karang di bibir pantai membuat saya takjub dan terkagum-kagum.

Menurut tetua di desa Tulehu, tempat ini dulunya memiliki struktur batu karang yang seperti kuda. Karena itulah tempat ini dinamakan Batu Kuda. Katanya Kak Roy, seorang pengawas KKP di Tulehu, pantai disini juga terkenal dengan arus bawahnya yang kuat (under stream). Sama dengan kontur pantai di Jawa yang bisa menarik perenang hingga ke laut. Karena itulah ada legenda Nyi Roro Kidul yang mengatakan bahwa perenang akan ditarik ke laut seakan-akan Nyi Roro Kidul akan menangkapnya dan menjadikannya suami. πŸ˜€

Tapi soal keindahan bawah lautnya jangan ditanyakan lagi. Banyak ikan besar bahkan ikan hiu juga hidup disini. So pasti terumbu karang juga hidup dengan aman dan nyaman. Lebih baik cerita-cerita seram tentang laut dipertahankan, jadi keindahan bawah laut juga tetap aman πŸ˜€

4. Waelatu

Namanya Waelatu atau pemandian raja-raja Tulehu dulu. Terletak di Negeri Tulehu (desa), pemandian ini dikenal tidak akan pernah kering. Disini kita bisa melihat belut-belut besar yang jinak. Kalau berani sila pegang-pegang belut tersebut. Kalau saya agak takut melihat belut tersebut, karena ukurannya yang sangat jumbo. Siapa tau mereka memakan jari saya. Wkwkwk. #phobiabelut
Waelatu
Selain itu hidup juga ikan-ikan air tawar dengan ukuran besar. Saya saja sampai bergidik ngeri melihatnya. Saya membayangkan berapa orang yang sanggup menghabisi ikan tersebut jika disajikan di meja makan. Tapi jangan coba-coba untuk menangkap ikan di dalam pemandian tersebut. Karena orang disana sudah menganggap mereka bagian yang tak terpisahkan dari kolam pemandian tersebut. 
Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di pemandian ini. Benar-benar tak membosankan. Berenang bersama anak-anak kecil disini. Mereka sangat mahir. Saya sempat berlomba dengan anak-anak tersebut. Saya sudah mengerahkan usaha yang paling kuat untuk mengalahkan mereka. Tapi mereka menang. Parahnya mereka bukan berenang dengan gaya biasa, namun berenang di kolom air. Para penyelam menyebutnya teknik Upnea. Hasil akhirnya seperti yang bisa diduga, mereka menang dan saya ngos-ngosan.

5. Pemandian Air Panas Hatuasa
Pemandiannya penuh dengan orang dan pohon. Ketika memasuki pemandian ini, kita disajikan pohon-pohon besar disekeliling kolam. Untuk bisa menikmati air panas disini cukup membayar 5 ribu rupiah per orang. Saya pun masuk dan langsung menikmati hangatnya air kolam. Namun belum berapa lama saya sudah pusing dan merasa mabuk. 
Entah karena saya sangat sok keren sekali langsung masuk ke dalam kolam kedua. Jadi, di pemandian ini ada tiga tingkat. Air panas sekali yang langsung dari sumbernya, air panas sedang karena sudah tercampur dengan air sungai atau air yang hangat karena dibuat dangkal. Saya hanya berendam sekitar 15 menit dan sudah ingin pulang. #saya menyesal hingga saat ini.

6. Air Besar

Memang pada dasarnya saya suka dengan air. Saya pun mandi dengan cara alami yaitu di sungai. Di sungai ini punya 7 tingkat. Namun karena perjalanan yang cukup jauh, saya dan Dana hanya mencapai tingkat ketiga. Itupun sudah segar, apalagi kalau sampai ke air terjunnya. Pasti lebih keren lagi. #masih mau mandi di sungai

Di sungai ini jika hari libur maka jangan heran banyak ibu-ibu membawa karung-karung besar. Selain itu sebuah kantong berisi sabun cuci disimpan di tangan kanannya. Yak, betul sekali, ibu-ibu tersebut akan mencuci berjamaah. Bahkan anak muda disini ikut mencuci sambil lirik-lirik pemuda-pemuda yang bermain air. Hahaha. Pacaran sambil nyuci baju kayaknya marak di daerah ini.

7. Gong Perdamaian dan Lapangan Merdeka
Kalau datang ke Kota Ambon jangan lupa untuk datang ke Gong Perdamaian. Merogoh kocek 5 ribu anda bisa foto-foto di depan gong yang besarnya sekitar 2 meter ini. Monumen yang diresmikan pada tahun 2012 oleh Pak SBY ini menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi. Setelah itu, beralih lah ke tulisan A-M-B-O-N M-A-N-I-S-E yang ada di Lapangan Merdeka. Seperti yang biasa saya lihat di kota Makassar. Namun ini terbuat dari batu, jadi ga takut rusak. Sayang, di batu-batu ini kita akan melihat coretan usil anak-anak alay. Hindari kebiasaan alay untuk menulis nama di tempat wisata ya. Selain alay tingkat tinggi, hal ini juga menurunkan kualitas tempat wisata tersebut. 

Oke, itu adalah beberapa destinasi yang bisa dikunjungi jika anda berkunjung di Ambon. Sebuah kota yang menawarkan keindahan. Dan saya adalah salah satu “korban” keindahan kota Ambon. Semoga saya bisa kembali kesana kembali dan mandi di sungai lagi. πŸ˜€

ditulis di Identitas, 2 November 2013

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *