Air Sebening Kaca di Pantai Ora (Part 2 – end)

Subuh hari masih gelap, saya mengintip ke luar jendela. Tapi rasa penasaran saya menutupi rasa takut untuk keluar. Menenteng kamera kesayangan, saya pun berjalan-jalan di sekitar penginapan. Suara burung Nuri terasa sangat dekat. Karena di belakang penginapan adalah hutan yang masih alami, pohon-pohon besar sebagai habitat burung-burung masih dijaga keasriannya. Saya menikmati udara pagi dan mencelupkan kaki ke laut.
Ketika matahari mulai menyembul dari peraduannya, saya pun segera membidikkan lensa kamera ke segala arah. Termasuk ke arah saya sambil menggunakan tripod. Selagi yang lain masih terlelap, saya pun mencuri start untuk mengambil gambar. Hahah. Sorry ya. 😛

Pantai Ora terletak di Pulau Seram, dekat dengan Desa Sawai, Salemang. Banyak yang sudah datang kesini untuk membuktikan keindahan Maldives-nya Indonesia. Karena memiliki cottage di atas laut dangkal. Dibawahnya banyak terumbu karang yang cantik, menjadi rumah bagi ikan-ikan kecil. tak perlu berenang, cukup melihat dari atas dermaga, maka anda akan dibuat takjub dengan pemandangan indah yang tersedia disini.

Pagi hari, saya, Azhar dan Bang Rahmat menjelajah sekitaran bungalow. Suara burung-burung terdengar menenangkan. Rasanya saya mau duduk diam sambil minum teh berhari-hari disini. Kami menikmatinya dengan mengambil gambar berkali-kali. Saya memilih untuk memandangi keindahan yang ada. Rasanya tak perlu berenang untuk melihat ke dalam laut. Saking jernihnya, kita hanya perlu melongok ke bawah dan mengagumi keindahan akuarium buatan Tuhan.  😀

Tapi keindahan ini tak murah harganya. Untuk sewa penginapan saja, kita harus merogoh kocek dalam-dalam. Satu cottage dihargai 750 ribu per malam. Untuk cottage yang di atas laut, dihargai hingga 1 juta per malam. Itu belum termasuk dengan makan pagi, makan siang dan makan malam. Untuk paket makan satu hari, dibanderol dengan harga 250 ribu. Itu belum termasuk biaya penyewaan mobil, biaya transportasi dari Ambon ke Pulau Seram, biaya transportasi dari desa ke penginapan, dan lain sebagainya.

Oke, back to the topic. Karena sudah mulai siang, Bang Rahmat pun menawarkan untuk menyewa kapal kecil sehingga kita bisa berkeliling. Sang pengemudi kapal menawarkan harga 400 ribu untuk membawa kami ke tempat-tempat seru selain Pantai Ora. Karena Bang Rahmat yang mau bayar, saya pun ikut saja. Hahaha. 😀

Bang Arif tidak mau ikut bersama kami. Katanya ia ingin menikmati keindahan Pantai Ora sebelum kami pergi. Perahu pun berangkat. Saya dibuat terkagum-kagum dengan keindahan alam disini. Pak Riki, pengemudi perahu membawa kami melihat Tebing Hatu Pia. Sebuah tebing yang memiliki goa yang tersambung dengan laut berpasir putih. Bang Romi, Bang Rahmat dan Azhar menjajal keberanian mereka untuk berenang di goa tersebut. Namun baru beberapa menit, mereka terlihat seperti ketakutan. Usut punya usut, ternyata di dalam goa hidup seekor gurita yang besar. Karena itu mereka ketakutan. hahaha.

Tak hanya ke Tebing Hatu Pia, Pak Riki membawa kami melihat Desa Sawai. Sebuah desa yang banyak rumahnya berdiri di atas laut. Mungkin mereka punya keturunan Bajo atau Bugis, yang memiliki tipikal tempat tinggal seperti itu. Tapi kami tak lama disana, karena masih ada Pantai Belanda yang akan Pak Riki tunjukkan kepada kami.

Namanya terdengar aneh, kenapa harus Belanda? Ternyata menurut Pak Riki, asal nama Belanda karena dulunya orang Belanda menjadikan kawasan ini sebagai lokasi wisata. Orang-orang percaya bahwa karena orang Belanda yang datang, air di pantai ini menjadi dingin. Pertama kali memegang air di pantai ini memang terasa berbeda. Sangat segar dan dingin seperti air dari pegunungan. Kami pun menelusuri asal mula air dingin ini. Ternyata air dingin ini memiliki sumber mata air di dekat pantai dan mengalir langsung ke pantai. Hal inilah kenapa air di Pantai Belanda terasa menyejukkan.

Puas dengan keindahan disini, kami pun segera berkemas. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.20 Wit. Kami tak ingin, cerita kemarin terulang dan tidak mendapatkan kapal menuju Ambon. Karena kapal terakhir dari Pelabuhan Waipirit ke Pelabuhan Liang pukul 20.00 Wit. Perjalanan dari sini ke Pelabuhan Waipirit ditempuh dengan waktu perjalanan sekitar 4 jam.

Saya pun harus berpisah dengan keindahan disini. Rasanya saya masih mau tinggal disini lebih lama lagi. Sembari duduk membaca novel dan minum teh hangat. Tapi kondisi keuangan dan kerjaan tidak memungkinkan. Suatu saat, saya yakin, saya akan kembali.

Ditulis di Kantor Harta Samudra sambil absen pulang

Jumat, 24 Oktober 2014

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *