Alasan Kenapa Harus Bersepeda Setiap Hari

“kamu gag capek naik sepeda dari rumah sampe kampus?” 
“banyak debu, nanti gampang sakit!”
“ih, tahanmu deh kena sinar matahari, nanti tambah ma’lotong ko!”
atau beragam pertanyaan lainnya ketika saya mulai bertekad untuk membeli sebuah sepeda pada awal tahun 2010. Sebuah sepeda hijau dengan merk Polygon. Kali itu, Tante Inti memberikannya sebagai hadiah ulang tahun ke 19. Senang sekali, setelah sekian tahun tak bersepeda di Bogor, di kota ini saya diberikan kesempatan untuk menjadi seorang biker! 😀 
Setiap hari, saya menggayuh sepeda dari rumah tante Elmi di Perum Dosen Tamalanrea ke Kampus Merah. Membutuhkan waktu sekitar 10 menit hingga sampai di kampus. Ketika perkuliahan dimulai sepeda dititip di Kantin Bambu (Mone’). Kenapa dititip di kantin? Karena di kantin banyak mahasiswa yang selalu lalu-lalang dan tahu siapa pemilik sepeda kecil berwarna hijau itu.Namun, bulan Desember, sepeda itu pindah ke tangan orang lain karena dicuri. Semoga sepeda itu bisa dimanfaatkan dengan baik. #amin ya rabbal alamin.
Oke, itu adalah masa lalu. Sekarang belajar menatap masa depan. #tssaahh..
Sepeda yang menemani saya kali ini adalah sebuah sepeda dengan gear yang bisa diubah-ubah kecepatannya. Impian untuk memiliki sepeda ini dimulai sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Tapi pada saat itu, sepeda dengan jenis seperti ini masih sangat mahal. Kondisi ekonomi keluarga saya tak akan mampu membelinya. Karena itu, saya dibelikan sepeda dengan merk Mustang yang beratnya minta ampun. Warnanya merah dan rantainya berkarat. Maklum saja, ayah membelinya dalam kondisi setengah baik. Beliau berusaha menyenangkan anak-anaknya. #terima kasih Ayah dan Bunda
City bike adalah jenis sepeda ini. Biasa dipakai di medan jalan raya, karena itu rodanya sangat tipis. Rangkanya juga sangat ringan, sehingga mudah diangkat-angkat. Sama ketika saya mengangkatnya dari Rektorat hingga ke Identitas. Semua orang akan menatap aneh kepada saya, karena seorang berkerudung angkat-angkat sepeda. Tapi, begitulah faktanya. Saya sering mengangkat sepeda. Bahkan seorang teman Kak Upi (Kelautan 2007), menegur dan berkata “kamu yang sering angkat-angkat sepeda di Rektorat kan?”. Hahaha. Ternyata saya jadi terkenal gara-gara angkat sepeda. 😀

Sepeda gue saat ini. #alhamdulillah

Oke, kembali ke masalah. Menurut saya, bersepeda itu sangat menyehatkan. Bayangkan saja, berat badan saya turun dari 65 kg jadi 60 kg dalam waktu dua minggu. Setelah rutin menjalani olahraga rutin dari Perum Budidaya Permai sampai di Unhas. Itu hanya efek sampingnya, efek utamanya adalah badan yang lebih bugar. Karena selalu berolahraga secara rutin. 

Namun menjadi pesepeda aktif ternyata banyak hambatannya. Yah, banyak hal terkadang membuat saya jadi kendur untuk bersepeda di Kota Makassar. Pertama, jalur sepeda belum ada. Jadi, sebagai pesepeda kita harus memutar otak dan mencari jalur tersendiri. Karena pengguna kendaraan bermotor di kota ini sangat “ugal-ugalan”. Wajar saja kalau kita harus ekstra berhati-hati. 
Kedua, lampu penerangan di kampus belum sepenuhnya menyala ketika malam hari. Saya adalah pengguna kacamata minus 3 aktif. Tanpa cahaya lampu, jalanan berlubang tidak akan saya lihat ketika malam menjelang. Karena itu, saya harus meningkatkan kewaspadaan terhadap lubang-lubang yang tercipta karena musim hujan. 
Ketiga, sparepart ataupun kelengkapan sepeda yang sangat mahal untuk ukuran mahasiswa. Helm sepeda merk Polygon yang diberikan Bunda harganya mencapai 260 ribu. Belum lagi masker anti debu yang dipatok 150 ribu per pieces. Harga sparepart bahkan lebih mahal lagi, mencapai ratusan ribu. Jadi, kalau punya sepeda, harus siap merogoh kocek bulanan demi perawatan sepeda dan kelengkapannya. Hehehe.
Selain itu, sindiran teman-teman kalau saya akan tambah Lotong’ kalau naik sepeda terkadang membuat saya males naik sepeda. Tapi setelah melihat bukti secara nyata bahwa sepeda membuat saya turun berat badan, teman-teman perempuan mulai banyak yang rajin bersepeda setiap sore. Hahaha. 
#tularkan virus bersepeda kepada setiap mahasiswa Unhas dan sekitarnya

You may also like

2 Comments

  1. Yah, bersepeda memang begitu, ada senangnya ada dongkolnya juga…
    Senangnya karena menyenangkan, menyehatkan, juga ikut berperan menjaga lingkungan (No Pollution)…
    Dongkolnya karena gampang d maling ama harga spare partnya yg bikin pusying…

  2. iya, bener banget. saya pernah kemalingan sepeda pada tahun 2011 dan mengalami "turun mesin" untuk sepeda kedua saya. Waah, ada susahnya juga jadi pesepeda. Tapi itu yang membuatnya seru.. hehehe.

    Thanks udah mampir. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *