Antara iklan dan wanita yang tak terpisahkan


Pernah merasa aneh ketika di dalam iklan yang bersifat maskulin seperti parfum pria, cat tembok, mie goreng, mobil atau odol menunjukkan wanita yang sangat menggoda? Atau hanya saya saja yang berpikir demikian? Menurut saya aneh saja, di dalam sebuah iklan cat tembok, ada seorang wanita yang berkeliling ruangan sambil memegang cat tembok. Dan tiba-tiba ruangan berwarna cerah tanpa melakukan pengecatan pada tembok. MAGIC! 😀
 

model dengan iklan sepeda. tertarik beli sepeda ini?? hahaha.

Belum lagi iklan tentang parfum pria yang mengajak cowok-cowok untuk terbang ke luar angkasa. Tapi yang ngajak itu cewek-cewek dengan pakaian ketat. Saya kok berpikiran lain-lain ya? Wkwkwkw. Atau beragam iklan lainnya yang menggunakan segi seksisme pada durasinya. 
Saya menyebutnya beribu iklan yang tak bisa dipisahkan dari wanita. Entah karena tubuh atau kecantikan sang wanita tersebut. Mungkin iklan pada saat ini sudah menjual tubuh wanita sebagai pemancing “teaser” terbaik bagi setiap produk. Tak ayal jika kita melihat penjualan rokok, mobil, atau apapun yang menggunakan wanita sebagai senjata terbesar.
Tapi trend menggunakan wanita sebagai pemancing dalam sebuah iklan memang sudah digunakan sejak akhir tahun 1980-an (Miranti Abidin, 2000, 45). Hal ini ditengarai bahwa industri ini cenderung feminin. Perempuan banyak menduduki jabatan-jabatan strategis dan pucuk-pucuk pimpinan dalam industri periklanan, baik bidang kreatif, media maupun client service
Saat ini perempuan memiliki tiga posisi strategis, yaitu, pertama sebagai pelaku industri perikalanan atau biasa disebut dengan praktisi, kedua sebagai pembawa pesan iklan melalui perannya sebagai model atau bintang iklan dan endorser (kayaknya lebih banyak perempuan dalam posisi ini) sebagai konsumen target market atau iklan itu sendiri.
Dalam konteks citra wanita dalam iklan, budaya gender tersebut dibangun dengan memanipulasi tubuh wanita sebagai tanda dari simbol-simbol tertentu yang secara stereotif melekat pada diri wanita, seperti keanggunan, kelembuatan, kelincahan, keibuan, kemanjaan dan lain-lain. Iklan-iklan tersebut berupaya untuk mempresentasikan kenyataan yang hidup dalam masyarakat melalui tanda-tanda tertentu (Rumyeni). Hal inilah yang menghidupkan impresi dalam benak konsumen bahwa citra produk yang ditampilkan adalah juga bagian dari kesadaran budayanya, meskipun yang terjadi hanya ilusi belaka. 
Karena itulah banyak produk wanita yang dijual agar para wanita terlihat putih, cantik, singset atau beragam khasiat lainnya. Padahal belum tentu produk tersebut membuat putih atau menghiilangkan jerawat. Tapi karena para perempuan pada posisi ketiga ini, terlalu tergiur dengan iming-iming produk yang diperagakan pada model yang menggunakan produk ini, padahal hal ini hanya ilusi belaka. 
Pernahkah kalian melihat tulisan kecil dibawah iklan yang mengatakan bahwa iklan ini mengatakan bahwa keindahan rambut yang dimiliki sang model sebatas visualisasi? Atau iklan pemutih yang ditayangkan, selalu ada catatan kecil di pinggir televisi. Tapi toh konsumen banyak yang tak memperhatikan hal ini, karena terlalu fokus dengan iming-iming ilusi yang ditawarkan oleh sang produk.   
Sebagai salah satu media produksi tanda-tanda untuk sarana komunikasi, iklan dipandang berhasil apabila mampu menarik minat pembaca untuk terlibat memahami pesan yang disampaikan dalam iklan tersebut (Tamagola, 1990). 
Dan voila, iklan-iklan tersebut berhasil menarik para konsumen untuk menjadi lebih “cantik”, “keren”, “indah” dan stereotif lainnya.
.
Ditulis di kamar kost berantakan kayak kapal pecah, 5 November 2013
Daftar Pustaka 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *