Bakar Damar, Persembahan Untuk Lautan


Setiap komunitas nelayan mempunyai caranya sendiri untuk mempersembahkan sesuatu kepada lautan. Mereka percaya bahwa ada sesuatu yang tinggal di laut dan membantu mereka. Seperti ritual Larung yang dilakukan oleh komunitas Bajo di Wuring. Ritual ini mempersembahkan sesuatu kepada “Hantu Laut” yang tinggal di laut. Nelayan percaya bahwa “sesuatu” di laut dalam membantu mereka untuk mendapatkan ikan dan menjaga keselamatan mereka. Sama juga dengan nelayan di Selatan Pulau Jawa yang  mempunyai ritual persembahan kepada Nyi Roro Kidul. 
Walaupun saya tidak percaya, namun kali ini saya menemukan sebuah ritual adat komunitas nelayan di Pulau Buru. Selama tinggal di Desa Waepure, saya diajak untuk mengenal komunitas nelayan disini. Saat ini harusnya sudah memasuki musim ikan tuna, tapi sudah sebulan ini nelayan hanya mendapatkan sedikit ikan tuna. Karena hasil tangkapan tidak sesuai yang diharapkan, mereka pun melakukan diskusi. Mereka meyimpulkan bahwa hal ini disebabkan belumnya dilakukan ritual adat “Bakar Damar”.
Saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti proses Bakar Damar dari awal hingga akhir. Mulai dari penentuan tanggal ritual, nelayan berdiskusi dengan pemangku adat di Desa Waepure. Sekedar informasi, bahasa lokal Pulau Buru sangat berbeda dengan bahasa Ambon. Mereka berdiskusi dengan bahasa Pulau Buru yang saya tidak mengerti. 
Setelah tanggal ditetapkan, nelayan pun mulai membeli perlengkapan ritual. Ibu-ibu mempersiapkan makanan untuk ritual, mulai dari nasi kuning, ayam goreng, telur dan uang receh. Mereka percaya bahwa setelah laut memberi mereka makan, mereka harus memberi makan kembali ke laut. Sedangkan bapak-bapak sibuk dengan proses pembuatan meja dan kapal dari styrofoam. Rencananya makanan tersebut akan diletakkan di atas kapal. 
Proses ritual ini biasanya dilakukan pada sore hari, namun karena saat ini sedang bulan puasa, proses Bakar Damar pun dilakukan pada malam hari setelah buka puasa. Bakar Damar adalah ritual untuk membakar getah pohon damar. Baunya menyerupai dupa yang dibakar. Suasana semakin menyeramkan, ditambah lagi suara debur ombak yang bertalu-talu. 
Para tetua adat membacakan doa-doa dalam bahasa Pulau Buru. Yang agak menyeramkan, ketika tetua membaca doa-doa yang tidak saya mengerti, tiba-tiba seorang nenek kesurupan. Ia berteriak-teriak dalam bahasa daerah. Menurut orang yang mengerti, nenek itu marah karena nelayan terlalu lama menyelenggarakan ritual adat. Ketika ikan tuna susah, mereka baru mengadakan ritual tersebut.
Tetua adat pun menjelaskan dan akhirnya nenek tersebut kembali sadar. Namun setelah nenek sadar, ada beberapa orang yang ikut kesurupan. Menyeramkan banget. Setelah selesai dengan ritual membakar damar, tetua adat pun mengangkat perahu styrofoam dengan seluruh isinya ke laut. Perahu pun mulai berlayar. Setelah perahu berlayar, semua orang pun berkumpul untuk mendengarkan pidato para tetua adat. 
Semua terlihat antusias mendengar semua pidato para tetua adat. Yang paling saya suka adalah kesimpulan yang disampaikan pada akhir acara oleh Pak Imam. Beliau berharap dengan adanya acara ini tidak serta merta melupakan kewajiban sebagai seorang muslim. “Shalat dan puasa jangan ditinggalkan, beta harap katong jangan hanya berharap pada yang ghaib tapi melupakan Allah SWT, pencipta katong,” ujarnya di akhir-akhir acara. Betul pak Imam! 100! 😀 😀
Semoga nelayan dapat mendapatkan hasil yang baik ke depannya tapi jangan sampe melupakan pencipta semua mahluk. 😀 😀
#ditulis di kantor Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) Site Pulau Buru
Senin, 14 July 2014 9:35 AM

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *