Dahlan Iskan, sebuah inspirasi

Sebuah inspirasi itulah yang tepat kukatakan. Sebuah cerita yang mengalir dari seorang Dahlan Iskan tentang masa dan pasca operasi transplantasi liver. Masa yang sungguh sangat mengharukan, cerita masa kecil hingga ia menjabat sebagai Dirut PLN. Sebuah kisah yang menggetarkan hati dan membuat orang berkaca tentang apa yang dijalani saat ini.

Ya, saya adalah salah satu orang yang bukan hanya terkesima namun terhipnotis oleh semangat Pak Dahlan. Semangat yang membangun, sebuah spirit untuk maju dan bergerak. Melalui bukunya Ganti Hati yang baru kemarin saya beli di Gramedia, saya membuka mata. Bahwa dunia tak mudah bagi orang-orang yang berkemauan keras. Sama kerasnya ketika Pak Dahlan bersikeras untuk membangun PLTU di Kaltim. Goncangan sana sini tidak membuatnya surut, tapi ia bekerja lebih keras lagi. Padahal saat itu, ia tengah mengidap sirosis yang sudah membuat varises di esofagusnya. Ia tengah sekarat, namun orang-orang dekatnya tak tahu. Bahkan kaget ketika mereka diberi kabar, Pak Dahlan akan dioperasi.
Buku yang dibagi dalam 32 tulisan yang kesemuanya terbit di koran Jawa Pos, membuat saya menjadi bergidik. Beginikah kehidupan seorang Dahlan Iskan? Ayahnya seorang petani, namun menjadi buruh tani ketika ibunya meninggal. Sawahnya dijual demi pengobatan, namun ibunya tetap wafat pada umur 42 tahun. Kedua kakak perempuannya yang membanting tulang demi kelanjutan hidup mereka di kampung. Lalu Pak Dahlan yang tak selesai kuliah, ia menjadi wartawan di Tempo. Keadaan hidupnya serba kekurangan pada saat itu. Rumahnya masih menyewa di satu gang sempit di belakang pasar Kertajaya, Surabaya. Rumah separo tembok dan separo kayu. 
Akhirnya posisinya naik menjadi Direktur tatkala grup Jawa Pos hampir kolaps. Lalu ia dipanggil untuk mengemban amanah sebagai Dirut PLN. Dan pada akhir tahun 2011, ia menjadi Menteri BUMN. Tapi ceritanya tak sesingkat tulisan yang aku tulis disini. Cerita hidupnya penuh dengan lembah dan gunung. Terlalu sulit mendeskripsikannya, saya tidak terlalu jago menulis seperti beliau. 
Cerita hidupnya berhasil ia paparkan dengan baik. Suka dukanya ketika ia kecil tercampur kisah ketika ia sedang di operasi. Atau keinginannya memiliki sepatu, terbahasakan ketika ia sedang dalam pasca operasi. Luka yang ia alami semasa operasi berhasil ia tahan, karena pengalamannya yang pernah terluka. Misalnya saja terluka oleh cangkul saat beliau ikut menanam. Cangkul yang tidak sengaja terpeleset dan mengenai kakinya. Berdarah! Tapi ia dengan sabar menutupnya dengan kain yang telah disiram minyak tanah. 
Pak Dahlan, jikalau bapak membaca tulisan ini, saya akan mengatakan bahwa saya bangga telah menjadi anak Indonesia. Walau mimpi saya tidak besar, tapi saya akan merubah bangsa ini. Mungkin dengan pandangan bapak “Kaya Bermartabat, Miskin Bermanfaat” suatu saat akan lahir pemuda-pemudi yang merubah bangsa!
Akhir kata, saya doakan, agar Bapak Dahlan diberikan kesehatan dan umur panjang. Walau saya tidak akan memanjatkan doa pada Allah SWT. “Toh, terserah Engkau ya Allah, baik dan buruk, Engkau yang menentukan!” —
Dibuat di kamar yang dekat dengan standar kenyamanan, sebuah kipas angin, lantai ubin, kertas-kertas baru, dan sebuah meja kayu kecil pada hari Selasa setelah hujan.  
1 Januari 2013

You may also like

2 Comments

  1. Terharuka baca postinganta kak.
    Ternyata perjalan hidup Seorang Dahlan Iskan tak seperti yang ada dipikiranku..
    ada bnyak pelajaran yg bisa saya ambil dari perjalan seorang Dahlan Iskan.
    Moga Beliu diberi kesehatan dan umur yg panjang serta dapat membawa perubahan bagi bangsa kita ini Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *