Kembali ke Masa Lalu di Museum Pos Bandung

Perjalanan saya ke Bandung bersama teman-teman PK-69 Balin Bahari dalam rangka melakukan kunjungan ke LIPI Bandung. Menumpang kereta Argo Parahayang yang berangkat pukul 08.30 WIB, saya, Raiza, Renita, Hendra dan Samson berjanji bertemu di Stasiun Gambir. 20 menit sebelum keberangkatan, ternyata kami masih belum bertemu. Sempat terbersit rasa khawatir karena ketinggalan kereta, tapi untungnya kami tak terlambat. Perjalanan menuju Bandung ditempuh dalam waktu 3 jam dan setibanya di Stasiun Bandung, kami dijemput oleh Ayahnya Raiza dan menuju Rumah Makan Ampera untuk santap siang.

Segera setelahnya kami menuju LIPI Bandung yang terletak di daerah Cisitu bertemu dengan Bang Furqon dan Kang Eril disana. Setelah itu langsung bertemu dengan pemilik paten Simbat, system pencadangan air. Kami memiliki pertanyaan mengenai skema pencadangan air yang diperkenalkan oleh LIPI Bandung. Belajar langsung kepada ahlinya, apakah sistem pencadangan air ini bisa dilakukan di berbagai lokasi. Setelah berdiskusi panjang, kami pun pamit dan menyusun strategi lanjutan dari pertemuan ini.
Makanan ala Sunda!
Kami menginap di mess pegawai Pajak. Kebetulan Bapaknya Raiza bekerja di Direktorat Pajak Bandung dan kami menginap disana. Keesokan paginya kami menentukan perjalanan kecil sebelum kami kembali ke Jakarta. Karena lokasi mess berada dekat dengan Gedung Sate, kami pun membuat rute perjalanan singkat. Titik pertama kami mulai dari Museum Pos yang terletak di Jalan Cilaki 73. Gedung museum masih didominasi arsitektur gaya Eropa yang memiliki jendela lebar dan pilar-pilar besar. Warna gedung putih dan hitam, membuat kesan klasik ketika memasuki pelataran parkir. Ada sebuah kotak pos (brievenbus) besar berwarna merah di sebelah tangga masuk. Brievenbus merupakan bahasa Belanda untuk kotak surat.
Merunut sejarah, Museum Pos Indonesia didirikan pada tahun 1931 dengan nama Museum Pos, Telepon Telegrap (PTT). Awalnya museum ini hanya menyajikan benda-benda koleksi sebatas perangko luar negeri maupun dalam negeri. Namun pada tanggal 27 September 1983 museum ini diresmikan dengan nama Museum Pos dan Giro. Benda koleksinya pun bertambah banyak seperti peralatan, visualisasi, diorama kegiatan layanan pos dan lain-lain. HIngga akhirnya semakin banyak orang yang mengetahui museum ini dan berubah menjadi Museum Pos Indonesia pada tanggal 20 Juni 1995.

Ruang pameran museum terdiri atas dua lantai. Untuk lantai pertama merupakan ruang edukasi bagi masyarakat mengenai praktek langsung pengiriman pos. Kami mendapatkan kartu pos secara cuma-cuma ketika kami bilang bahwa kami suka berkirim kartu pos. Segera setelahnya, saya mengirim kartu pos kepada Pimmie di Belanda. Harganya murah, hanya Rp. 8.000 per kali kirim. Tergantung Negara tujuannya. Saya masih suka mengirim kartu pos, karena punya daya Tarik tersendiri dibandingkan mengirim email. Rasanya lebih hangat dan akrab. Jika ingin bertukar kartu pos, banyak komunitas yang menyediakan jaringan ke luar negeri untuk bertukar kartu pos, misalnya CardtoPost.

Di dekat pintu masuk kita bisa melihat ribuan koleksi perangko dari zaman dulu hingga saat ini. Dulu, Bunda menggemari koleksi perangko. Namun saat ini saya sudah tidak tahu lagi dimana lokasi perangko-perangko tersebut. Ternyata koleksi perangko harus dirawat dengan benar, ada beberapa cara agar koleksi perangko tidak rusak dimakan usia. Karena itu di museum pos, setiap perangko dibagi-bagi per negara. Dari perangko kita bisa belajar sejarah, saya masih menemukan negara yang sudah tidak ada, seperti Jerman Barat dan Jerman Timur. Saya mengaggumi semua perangko yang ada disini, warnanya masih bagus dan lengkap.
bagian dalam Museum Pos
Kami melanjutkan perjalanan ke dalam museum dan melihat diorama-diorama pengiriman pos. Saya membayangkan semua orang di desa mengerubuti Pak Pos hanya untuk mencari tau apakah ada kiriman kartu pos dari kekasih di seberang sana. Saya masih mengingat seorang pegawai pos yang dulu pernah datang saat lebaran tiba. Dulu, orang senang sekali bertukar kartu pos ketika ada acara-acara besar seperti Lebaran dan Natal. Seragamnya warna orange seperti jeruk dan akan berteriak, “Pos, pos, pos”. Sepertinya saat ini sudah sangat jarang orang mengirimkan kartu pos untuk acara-acara besar seperti itu digantikan oleh Whatsapp, Line, Tele, dan Facebook.
Selain diorama, kita bisa menyaksikan mesin stensil, timbangan, gerobak angkut, cat timbul kering dan berbagai macam peralatan lainnya disini. Saya langsung membayangkan cara kerja para pegawai pos waktu itu. Pasti mereka sangat sibuk melayani ribuan orang setiap hari yang ingin mengetahui kabar orang-orang terkasih di pulau seberang. Peralatan seperti brievenbus dari zaman Belanda pun masih ada disini.
Museum Pos ini buka sejak pukul 09.00 WIB dan tu
tup pukul 16.00 WIB, kalau hari Sabtu hanya buka sampai pukul 13.00 WIB. Jadi pastikan waktu kalian jika ingin mengunjungi tempat ini. Oia, jika ingin punya perangko dengan wajah sendiri, bisa langsung membuatnya di Kantor Pos Buah Batu, Bandung.
Perjalanan pun kami lanjutkan ke Taman Lansia untuk bermain kartu dan membeli nasi uduk. Setelah itu, kami beranjak menuju Gedung Sate untuk sekedar berfoto. Segera setelahnya kami memesan Grab Car menuju Alun-alun Bandung. Tak lengkap rasanya jika ke Bandung tanpa menyentuh Alun-alun. Sayangnya hujan tiba-tiba menderas, dan kami terpaksa mengungsi ke dalam ruang parkir. Bermain kartu. Hahah.
abang Hello Kitty nya sedih banget mukanya. Hiks

meet up the leader dari PK lain. (PK-65 dan PK-57)

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, kami segera beranjak kembali ke Taman Lansia. Disana sudah ada beberapa teman PK lain yaitu Wisya, Ridwan, Teddy dan Aul. Mengobrol sejenak sambil minum Yoghurt Cisangkuy. Sayangnya waktu berjalan begitu cepat, kami pun harus segera berangkat. Diantar oleh Bapaknya Raiza menuju Stasiun Bandung, 1 jam sebelum keberangkatan. Tak disangka, kami bertemu dengan Pak Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup di Stasiun Bandung. Setelah berfoto, kereta Argo Parahyangan pun berangkat. Selamat tinggal Bandung. Sampai bertemu lagi..

ditulis di ISKINDO
11:56 WIB, 25 Agustus 2016
sambil masak sayur tumis wortel

 

keadaan Argo Parahyangan

 

look what’ve done!

 

pintu masuk Museum Pos

 

di depan brievenbus
di depan gedung sate

 

You may also like

5 Comments

  1. Waaah, museum pos. Saya pernah dengar nama ini waktu ada pameran museum di semarang. Kalau ke Bandungnya langsung sih belum pernah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *