Kenangan yang Tak Berlalu di Salahutu

Bang, Hayati sudah di Salahutu, bang.. 
Kota Ambon ibu negeri tanah Maluku
di pinggir laut tempat beta bersatu

Dilihat dari jauh Gunung Salahutu
beta ingat beta dahulu di situ

-Lirik lagu Gunung Salahutu (Charel Hehanusa)

“Dlien, ayok kita ke Salahutu. Ak udah dapat channel untuk manjat Saluhutu. Sebelum kamu pergi nih,” Saya ingat sekali perbincangan saya dengan Kak Erna, coordinator Instanusantara Amboina di Lapangan Merdeka ketika ada Ambon Expo. Kami berdua memutuskan untuk menunggu Jessica (salah satu anggota IN Amboina) datang dari Pelatihannya di Makassar dan kemudian kami akan muncak.

Saya saat itu agak sangsi dengan keadaan tubuh saya. Dengan berat badan sekitar 64 kilogram, saya sangat jarang untuk berolahraga. Seringkali saya hanya mengayuh sepeda dari rumah ke Kota Ambon untuk membeli sesuatu. Sisanya saya tak pernah berolahraga, hanya tidur-tiduran di kamar ataupun duduk di depan laptop.
Gunung Salahutu adalah salah satu puncak tertinggi di Pulau Ambon. Dengan ketinggian 1083 mdpl, dibutuhkan waku sekitar 7 jam untuk tiba di puncak. Mungkin bagi yang sudah sangat berpengalaman, jarak yang ditempuh bisa dipersingkat. Bagi kami yang belum terlalu jago, kami termasuk lama dalam menempuh perjalanan.
tim Salahutu huha!
Oia, tim kami terdiri dari 9 orang yang dipertemukan dalam perjalanan ini. Kak Erna, Fuad, Hendra, Bibon, Jessica, kak Dian, Bang Maman, Muthiah, dan saya sendiri. Fuad kami tunjuk sebagai team leader bersama Bang Maman, karena mereka berdua sudah berpengalaman dalam menaklukkan puncak Salahutu.
Sabtu, 23 Mei, kami pun mulai melakukan perjalanan ke Salahutu. Titik kumpul kami di pintu masuk air terjun Waai, desa Waai. Dari Kota Ambon, bisa ditempuh sekitar 40 menit dengan menaiki angkot jurusan Waai atau Liang, biayanya 10 ribu. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.20 WIT.
Setelah berdoa yang dipimpin oleh team leader, kami pun mulai menyusuri bukit menuju pos pertama yaitu Kali Mati. Tempat ini kami beristirahat dan membuka bekal, karena ada beberapa anggota yang belum sarapan. Nasi kelapa menjadi menu utama, yaitu nasi yang dimasak dengan santan dan diberikan lauk pauk seperti ikan goreng dan serondeng (parutan kelapa yang sudah diberi bumbu). 😀
Perjalanan pun dilanjutkan, medan mulai terlihat berat. Jalanan mulai menanjak dan menyempit. Tujuan kami adalah pos Rumah Cengkeh. Sepanjang perjalanan saya selalu membuat lelucon tentang Hayati. Sampai semua anggota perjalanan memanggil saya “Hayati”.
Tak terasa, lebih dari satu jam perjalanan kami pun tiba di Rumah Cengkeh. Kami sudah bisa melihat Tulehu dari atas. Melepas lelah sejenak, dan waktu sudah menunjukkan pukul 15.40 WIT. Tak terhitung berapa kali kami harus beristirahat mengambil nafas. Karena memang hampir semua anggota bukan anak gunung. Hanya Fuad, Maman dan Hendra yang sering naik gunung. Saya? Hmmm. Saya hanya penikmat ketinggian bukan pendaki. 😀
pos Rumah Cengkeh
Fuad mulai berkomando untuk terus bergerak, karena sudah mulai sore. Kami harus melewati dua bukit lagi untuk mencapai pos selanjutnya di Waitasoi. Kami menghabiskan waktu sekitar 4 jam lebih untuk mencapai puncak. Ada satu pos yang kami lewati sebelum tiba di puncak, yaitu pos Tujuh Jaga. Menurut Fuad, daerah tersebut agak ‘angker’. Jadi dibutuhkan orang yang berpengalaman untuk camp di Tujuh Jaga.
Saya sangat suka dengan medan Gunung Salahutu, pohon pinus masih sangat rapat. Vegetasi hutannya juga sangat beragam. Beberapa kali saya melihat Pohon Kayu Putih, tapi sepertinya berbeda dengan pohon kayu putih di Pulau Buru. Maman beberapa kali menjelaskan pohon-pohon yang kami temui. Selain itu beberapa kali pula anggota tim terjatuh karena medan yang lumayan licin. Hal ini dikarenakan tanah tidak terkena sinar matahari.
Alhamdulillah, pukul 18.52 WIT kami pun tiba di Puncak Salahutu. Ketika kami tiba, ada tim lain yang sudah menyiapkan minuman hangat. Karena saat kami tiba di puncak, gerimis mulai datang. Saya beberapa kali mengigil kedinginan, untungnya Ene*gen hangat mengisi perut kami sebelum Fuad dan Maman mulai memasak makan malam.
Fuad, Maman, Hendra, Bibon dan dibantu oleh tim lainnya mulai membangun tenda. Sedangkan saya? Bergelung di dalam jaket. Dingin euy. Udah lama gak kena angin dingin seperti ini. Pemandangan tertutup oleh kabut, butiran air membasahi baju. #alahlebay
Tak butuh waktu lama bagi para pendaki professional tersebut untuk membangun tenda. Kami pun segera memindahkan barang dan mulai memasak makan malam. Saya ingat, Fuad dan Kak Erna memasak mie rebus dan kornet. Kami pun bercengkrama sambal bercerita tentang pendakian yang sudah kami lalui. Dan sepertinya saya akan mimpi indah malam ini. 😀
Minggu, 24 Mei, saya terbangun karena kedinginan. Harusnya saya menyediakan jaket lebih. Keluar dari tenda, saya pun terpukau dengan panorama alam yang tersaji. Semburat jingga muncul di ufuk timur. Saya bisa melihat kerlap kerlip lampu dari Negeri Tulehu. Tiba-tiba saya merindukan Nenek… #alfatihah
Kami pun bergegas mengambil gambar dan saya mulai terduduk melihat gambaran langit yang sangat indah. Awan terlihat begitu dekat dan bisa digenggam oleh tangan. Dan saya mulai menitikkan air mata. Bahagia. Ternyata saya masih mampu diberikan kekuatan untuk bisa mencapai Salahutu sebelum saya meninggalkan Ambon.
Dan saya akan yakin kenangan Salahutu tak akan pernah berlalu..
PS : Akses perjalanan dari Ambon ke Negeri Waai
Naik angkot jurusan Liang atau Waai dari Terminal Mardika, bayar 10 ribu. Turun di pintu masuk air terjun Waai. Dari pintu masuk air terjun Waai, tidak akan ada penunjuk jalan ke Kali Mati. Jadi harus bertanya sama orang sekitar.

Ditulis di Rumah Mbah, Depok
23:38 PM Selasa, 22 Juli 2015

nulis ini pake laptop pinjeman, jadinya foto-foto tidak terlalu lengkap. hiks. doakan semoga saya bisa punya laptop sendiri. aamin ya rabbal alamin..

You may also like

3 Comments

  1. assalamualaikum , dekat ini sy ada agenda mau k salahutu, mau tanya, akses k sana, bgmn jalurnya n urus perijinan bgmn klo mau k sana?
    salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *