Ketika Harapan Pupus di Sebatik #5

Sebatik, sebuah pulau terluar, tapi saya menyebutnya Beranda Depan Indonesia. Garis perbatasan terletak disini. Kita memperebutkan daerah kedaulatan kita. Kenyataan di lapangan adalah, banyak masyarakat Sebatik lebih memilih untuk menjadi “bagian” dari negara tetangga kita, Malaysia. Cerita ini adalah cerita asli, kisah kakak beradik yang terpisah dengan jalan masing-masing. 
Sebut saja Pak Rahman, umurnya sudah 40 tahun. Sudah lebih dari 20 tahun ia hijrah ke negeri jiran. Disana ia menjadi pedagang barang kelontong yang di impor masuk ke Sebatik. Saya berkesempatan berbicara dengannya ketika bertemu di sebuah rumah panggung. Rumah keluarganya di Sebatik Barat, Pak Ali nama saudaranya. Ngobrol dengan mereka berdua sangat menarik. Perbincangan yang menurut saya sangat keren untuk menjadi bahan pertimbangan para petinggi negeri Indonesia.
Beliau adalah orang asli Bugis, di Tanah Bone ia lahir. Orangtuanya adalah Bone – Soppeng. Tahun 1973 ia merantau di Kalimantan Timur, mengikuti saudaranya yang bekerja sebagai pedagang. Ia pun ikut membuka usaha di Sebatik. Dulu Sebatik tidak seramai saat ini. Hanya ada beberapa rumah yang berdiri disini. Dominasi penduduk disini adalah suku perantau, Bugis. Sisanya adalah penduduk asli Kalimantan, yaitu suku Tidung. 
Ia memulai usaha dari bawah, menjadi nelayan lalu menjadi pedagang. Lama kelamaan ia memiliki uang lebih untuk membuka usaha di Tawau. Sebuah kota  besar, bagian dari Malaysia. Hanya berjarak selempar pandangan, bisa dicapai dengan waktu tempuh 20 menit saja. Ia membuka usaha, dan akhirnya karena desakan ekonomi, ia memilih berganti kewarganegaraan. Saat ini ia memiliki Identity Card (IC), sejenis Kartu Tanda Penduduk di Indonesia. 
Ketika saya tanya alasan ia pindah ke Malaysia, ia hanya menjawab “Mungkin disana tempat rezeki saya, nak,” ujarnya sambil tersenyum. Saya melirik ke jam tangan mahal yang dipakainya, berbeda dengan saudaranya yang tinggal di Sebatik, Pak Ali. Lelaki paruh baya ini tetap menjadi nelayan sekaligus petani rumput laut. 
Iseng saya pun bertanya, “kenapa bapak tidak ikut pindah ke Tawau, disana kan hidup lebih terjamin?”. Pak Ali hanya menjawab, “ istri saya masih tetap mau di Sebatik, nak. Walau hidup pas-pas an, saya masih lebih senang hidup disini,” jawabnya sambil tersenyum, getir.
Setelah selesai berbincang dengan kedua kakak beradik itu, saya pun pamit. Masih terekam jelas di memori, Pak Ali tersenyum. Saya yakin ada arti dibalik senyum itu, entah senyum karena masih menganggap Sebatik sebagai tanah kelahiran atau senyum dengan arti lain. Hanya dia dan Allah SWT yang bisa mengartikan senyum getir itu. 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *