Laporan Ekologi Laut

 

I. PENDAHULUAN
A.           LATAR BELAKANG
            Laut Indonesia memiliki luas lebih kurang 5,6 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, dengan potensi sumberdaya, terutama perikanan laut yang cukup besar, baik dari segi kuantitas maupun diversitasnya (Nontji, 1987).
            Indonesia memiliki kelebihan lain dibanding negara-negara lain. Terumbu karang yang indah tumbuh dari ujung sampai ujung. Terumbu karang (coral reef) merupakan ekosistem dasar laut yang penghuni utamanya berupa karang batu.  Berbagai spesies dan bentuk karang batu ini bersama-sama dengan makhluk hidup lainnya membentuk suatu ekosistem.  Proses pembentukan terumbu karang memakan waktu yang lama dan selama itu pula ia dihuni oleh berbagai makhluk hidup lainnya. Arsitektur terumbu karang yang mengagumkan dibentuk oleh ribuan binatang kecil yang disebut dengan polip.  Dalam bentuk sederhananya karang dapat terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh tentakel. Dalam banyak spesies karang, individu polip berkembang menjadi banyak individu yang disebut dengan koloni. (Veron, 1995).
Di dalam terumbu karang, koral adalah kerangka ekosistemnya. Sebagai hewan yang menghasilkan kapur untuk kerangka tubuhnya, koral merupakan komponen yang terpenting dari ekosistem tersebut. Baik buruknya kondisi suatu ekosistem terumbu karang dilihat dari komunitas karangnya. Kehadiran karang di terumbu akan diikuti oleh kehadiran ratusan biota lainnya (ikan, invertebrata, algae), sebaliknya hilangnya karang akan diikuti oleh perginya ratusan biota penghuni terumbu karang. (Veron, 1995).
Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem dengan efisiensi yang sangat tinggi. Lokasinya yang dekat pantai mengakibatkan pertemuan berbagai komponen biotik yang memberikan banyak masukan dan menghasilkan energi yang besar. Disamping menghasilkan sedimen kapur pembentuk terumbu karang juga meningkatkan kompleksitas dan produktivitas ekosistem. Karang kadangkala disebut juga sebagai karang batu (karang yang keras seperti batu) atau karang terumbu (karang yang menghasilkan kapus pembentuk terumbu). Hal ini untuk membedakannya dengan karang lunak. Jika istilah karang digunakan secara sendiri maka itu mengacu pada karang batu atau karang terumbu, bukan karang lunak (Veron, 1995).
Karang mendapatkan makanan sebagian besar (>70%) dari alga zooxanthellae yang terdapat di dalam tubuhnya sedangkan sisanya ia dapat memakan plankton atau bahkan sedimen (Veron, 1995).
Kami melakukan praktek lapang kali ini, untuk dapat mengamati ekositem terumbu karang yang merupakan habitat bagi beragam biota mulai dari hewan avertebrata seperti bintang laut, krustacea, dan echinodermata. Praktek kali ini juga ingin mengetahui kondisi karang di Pulau Barrang Lompo. Dan bagaimana kehidupan hewan-hewan yang hidup diantara terumbu karang.
B.     TUJUAN DAN KEGUNAAN
      Adapun tujuan dari praktek lapang yaitu :
1.    Untuk mengetahui persentase penutupan be
rbagai jenis faktor biotik dan faktor abiotik pada ekosistem terumbu karang
2.    Untuk mengetahui hubungan antara jenis penutupan substrat dan keberadaan invertebrata pada ekosistem terumbu karang
            Sedangkan kegunaan diadakannya praktik lapang di Pulau Barrang Lompo Makassar adalah memberikan informasi tentang persentase jenis penutupan substrat dan keberadaan invertebrata pada ekosistem terumbu karang, serta hasil dari praktik lapang ini dapat dijadikan sebagai data pembanding untuk praktik berikutnya.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A.    Defenisi Ekosistem Terumbu Karang
            Istilah terumbu karang tersusun atas dua kata, yaitu terumbu dan karang, yang apabila berdiri sendiri akan memiliki makna yang jauh berbeda bila kedua kata tersebut digabungkan.  Istilah terumbu karang sendiri sangat jauh berbeda dengan karang terumbu, karena yang satu mengindikasikan suatu ekosistem dan kata lainnya merujuk pada suatu komunitas bentik atau yang hidup di dasar substrat. (Dedy, 2009).
Terumbu Reef  merupakan   endapan masif batu kapur (limestone), terutama kalsium karbonat (CaCO3), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain yang mensekresi kapur, seperti alga berkapur dan moluska.  Konstruksi batu kapur biogenis yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir. Dalam dunia navigasi laut, terumbu adalah punggungan laut yang terbentuk oleh batu karang atau pasir di dekat permukaan air (Dedy, 2009).        
Karang Coral disebut juga karang batu (stony coral), yaitu hewan dari ordo Scleractinia, yang mampu mensekresi CaCO3. Hewan karang tunggal umumnya disebut polip (Dedy, 2009).       
Karang terumbu merupakan pembangun utama struktur terumbu, biasanya disebut juga sebagai karang hermatipik (hermatypic coral). Berbeda dengan batu karang (rock), yang merupakan benda mati (Dedy, 2009).     
Terumbu karang  merupakan ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis-­jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis-­jenis moluska, krustasea, ekhinodermata, polikhaeta, porifera, dan tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis plankton dan jenis-jenis nekton (Dedy, 2009).
Terumbu karang merupakan keunikan diantara asosiasi atau komunitas lautan yang seluruhnya dibentuk oleh kegiatan biologis. Terumbu adalah endapan –endapan masif yang penting dari kalsium karbonat yang terutama dihasilkan oleh karang dengan sedikit tambahan dari alga berkapur dan organisme-organisme lain yang mengeluarkan kalsium karbonat (Nybakken, 1982)
            Ekosistem terumbu karang menempati area seluas 7.500 km2 dari luas perairan Indonesia. Terumbu karang merupakan ekosistem yang khas menempati suatu daerah tropis dengan produktifitas yang sangat tinggi, demikian pula dengan keanekaragaman biota yang ada didalamnya (Nybakken, 1982).
Menurut Nybakken (1982) peranan ekologis dari terumbu karang adalah terumbu karang penghalang melindu
ngi pantai dari hempasan ombak → mencegah terjadinya erosi pantai dan kerusakan lain yang diakibatkan oleh aksi gelombang, terumbu karang menyadiakan tempat tinggal, tempat mencari makan (feeding groud), tempat pengasuhan (nusery ground), dan tempat pemijahan (spawning ground) bukan saja bagi biota laut yang hidup di terumbu karang tetapi juga bagi biota laut yang hidup di perairan di sekitarnya.
B.          FAKTOR PEMBATAS
Kehadiran atau keberhasilan suatu organisme atau kelompok organisme bergantung kepada kompleksitas keadaan. Keadaan  manapun yang.mendekati atau melampaui batas-batas toleransi dinamakan sebagai faktor pembatas. Dengan adanya faktor pembatas ini semakin jelas kemungkinannya apakah suatu organisme akan mampu bertahan dan hidup pada suatu kondisi wilayah tertentu (Dedy, 2009).
1. Suhu
            Secara global, sebaran terumbu karang dunia dibatasi oleh permukaan laut yang isoterm pada suhu 20 °C,Terumbu karang tumbuh dan berkembang optimal pada perairan bersuhu rata-rata tahunan 23-25 °C, dan dapat menoleransi suhu sampai dengan 36-40 °C (Nybakken, 1982).
Perubahan suhu lingkungan akibat pemanasan global yang melanda perairan tropis di tahun 1998 telah menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90-95% (Dedy, 2009).
2. Salinitas
            Terumbu karang hanya dapat hidup di perairan laut dengan salinitas normal Umumnya terumbu karang tidak berkembang di perairan laut yang mendapat limpasan air tawar teratur dari sungai besar, karena hal itu berarti penurunan salinitas. Contohnya di delta sungai Brantas (Jawa Timur). Di sisi lain, terumbu karang dapat berkembang di wilayah bersalinitas tinggi seperti Teluk Persia karang salinitasnya 42‰  (Nybakken, 1982).
3. Cahaya Dan Kedalaman
Kedua faktor tersebut berperan penting untuk kelangsungan proses fotosintesis oleh zooxantellae yang terdapat di jaringan karang. Terumbu yang dibangun karang hermatipik dapat hidup di perairan dengan kedalaman maksimal 50-70 meter, dan umumnya berkembang di kedalaman 25 meter atau kurang. Titik kompensasi untuk karang hermatipik berkembang menjadi terumbu adalah pada kedalaman dengan intensitas cahaya 15-20% dari intensitas di permukaan (Nybakken, 1982).
3.Kecerahan
Faktor ini berhubungan dengan penetrasi cahaya. Kecerahan perairan tinggi berarti pentrasi cahaya yang tinggi dan ideal untuk memicu produktivitas perairan yang tinggi pula (Nybaken, 1982).
5. Paparan Udara
Paparan udara terbuka merupakan faktor pembatas karena dapat mematikan jaringan hidup dan alga yang bersimbiosis di dalamnya
(Nybakken, 1982).
6.Gelombang
Gelombang merupakan faktor pembatas karena gelombang yang terlalu besar dapat merusak struktur terumbu karang, contohnya gelombang tsunami. Namun demikian, umumnya terumbu karang lebih berkembang di daerah yang memiliki gelombang besar. Aksi gelombang juga dapat memberikan pasokan air segar, oksigen, plankton, dan membantu menghalangi terjadinya pengendapan pada koloni atau polip karang
(Nybakken, 1982).
7. Arus
            Faktor arus dapat berdampak baik atau buruk. Bersifat positif apabila membawa nutrien dan bahan-bahan organik yang diperlukan oleh karang dan zooxanthellae, Sedangkan bersifat negatif apabila menyebabkan sedimentasi di perairan terumbu karang dan menutupi permukaan karang sehingga berakibat pada kematian karang. Pertumbuhan karang dan perkembangan terumbu. Berdasarkan fungsinya dalam pembentukan terumbu (hermatype-ahermatype) dan ada/tidaknya alga simbion (symbiotic-asymbiotic) (Nybakken, 1982).        
Arus membawa oksigen yang dibutuhkan hewan-hewan terumbu karang. Kekuatan arus mempengaruhi jumlah makanan yang terbawa dengan demikian mempengaruhi juga kecepatan pertumbuhan binatang karang (Dedy, 2009).
C.         STRUKTUR KOMUNITAS
Menurut Veron (1995) berdasarkan penelitian untuk mengkaji struktur ekologi komunitas karang dan ikan karang menunjukan hamparan habitat terumbu karang dengan tipe gugusan terumbu tepi yang berbentuk flat (datar) dan slope (miring) serta karakteristik perairan laut landai dengan hamparan pasir putih dan banyak dimanfaatkan untuk aktifitas pariwisata. Kondisi terumbu karang dengan penekanan pada persentase tutupan karang batu atau hard coral menunjukkan kondisi terumbu karang termasuk ke dalarn kategori sedang sampai dengan baik. Sedangkan analisa terhadap keanekaragaman ikan menunjukkan bahwa family Acanthuridae, Chaetodontidae, dan Pomacentridae merupakan kelompok yang paling sering ditemukan di kawasan ini dengan jumlah individu yang relatif banyak. Struktur komunitas dapat ditujukan pada struktur biologi dari suatu komunitas, yang meliputi komposisi jenis, kelimpahan, perubahan temporal dan hubungan antar spesies dalam suatu komunitas (Veron, 1995).
Terminologi atau definisi ikan karang dimaksudkan pada jenis-jenis ikan yang ditemukan pada terumbu karang sampai pada kedalaman 100 meter, walaupun mungkin juga terdapat di dalam habitat yang lainnya (Veron, 1995).
Secara umum, ikan karang akan menyesuaikan pada lingkungannya. Setiap spesies memperlihatkan preferensi atau kecocokan habitat yang tepat yang diatur oleh kombinasi faktor ketersediaan makanan, tempat berlindung dan variasi parameter fisik. Sejumlah besar spesies ditemukan pada terumbu karang adalah refleksi langsung dari besarnya kesempatan yang diberikan habitat (Veron, 1995).
Gambar 1. Jejaring makanan di ekosistem terumbu karang.(Dwiko Handiko, 2009)
D.          ASOSIASI
            Terumbu karang bukan merupakan sistem yang statis dan sederhana, melainkan suatu ekosistem yang dinamis dan kompleks. Tingginya produktivitas primer di ekosistem terumbu karang, bisa mencapai 5000 g C/m2/tahun, memicu produktivitas sekunder yang tinggi, yang berarti komunitas makhluk hidup yang ada di dalamnya sangat beraneka ragam dan tersedia dalam jumlah yang melimpah. Berbagai jenis makhluk hidup yang ada di ekosistem terumbu karang saling berinteraksi satu sama lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, membentuk suatu sistem kehidupan. Sistem kehidupan di terumbu karang dapat bertambah atau berkurang dimensinya akibat interaksi kompleks antara berbagai kekuatan biologis dan fisik (Bengen, 2001).  
           
Peran alga simbion (zooxanthellae) dalam menyokong pertumbuhan karang
Hubungan yang erat (simbiosis) antara hewan karang dan zooxanthellae dapat dikategorikan sebagai simbiosis mutualisme, karena hewan karang menyediakan tempat berlindung bagi zooxanthellae dan memasok secara rutin kebutuhan bahan-bahan anorganik yang diperlukan untuk fotosintesis, sedangkan hewan karang diuntungkan dengan tersedianya oksigen dan bahan-bahan organik dari zooxanthellae (Bengen, 2001). 
              Secara umum interaksi yang terjadi di ekosistem terumbu karang terbagi atas interaksi yang sifatnya sederhana, hanya melibatkan dua jenis biota (dari spesies yang sama atau berbeda), dan interaksi yang bersifat kompleks karena melibatkan biota dari berbagai spesies dan tingkatan trofik. Berikut ini disajikan berbagai macam interaksi yang bersifat sederhana, yang dapat berupa persaingan (kompetisi), pemangsaan oleh predator, grazing, komensalisme dan mutualisme, beserta contohnya di ekosistem terumbu karang (Bengen, 2001). 
1. INTERAKSI SEDERHANA
A. Persaingan
Persaingan yang terjadi bisa berupa persaingan memperoleh ruang, persaingan antara karang batu (stony coral) vs karang lunak (soft coral), persaingan antara koloni karang batu dengan koloni bulu babi (Diadema sp), dan persaingan memperoleh makanan
B. Pemangsaan
Pemangsaan karang oleh predatornya (Acanthaster planci,  Chaetodontidae,  Tetraodontidae).
C. Grazing
        Pengendalian/pengaturan invasi ruang alga melalui konsumsi ikan herbivore atau hewan lain seperti Diadema antilarrum, jika populasi ini menghilang maka turf algae akan meningkat sehingga akan mematikan larva karang muda.
D. Komensalisme
Simbiosis bila salah satu mendapat keuntungan sementara yang lain tidak untung juga tidak rugi, contoh krustasea, moluska, cacing yang tinggal pada gorgonian dan crinoid. Ketiga kelompok hewan disebut sebelumnya mendapat tempat tinggal dan perlindungan dari musuh, sementara gorgonian tidak mendapat sesuatu, juga tidak kehilangan.
    E. Mutualisme
Simbiosis dengan kedua simbion mendapat keuntungan, contoh: Ikan dokter (Labridae) dan penyu. Ikan memakan parasit yang menempel pada punggung penyu. Shrimp goby (Amblyeleotris gymnocephala) dengan udang (Alpheus sp) yang obligat mutualisme.
F. Interaksi kompleks
        Mekanisme lain untuk mengkaji interaksi antar biota yang hidup di ekosistem terumbu karang adalah melalui jejaring makanan . Dibandingkan interaksi antar biota yang ada dalam persaingan, predasi, simbiosis mutualisme, dan simbiosis komensalisme, maka interaksi yang terjadi dalam sistem jejaring makanan di ekosistem terumbu karang merupakan interaksi yang kompleks.
            Secara garis besar tingkat trofik dalam jejaring makanan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok produsen yang bersifat autotrof karena dapat memanfaatkan energi matahari untuk mengubah bahan-bahan anorganik menjadi karbohidrat dan oksigen yang diperlukan seluruh makhluk hidup, dan kelompok konsumen yang tidak dapat mengasimilasi bahan makanan dan oksigen secara mandiri (heterotrof).
G. Produsen
Karang batu (zooxanthellae), alga makro, alga koralin, bakteri fotosintetik yang berada di ekosistem terumbu karang berfungsi sebagai produsen bagi organisme lain.
H. Konsumen
        Karang batu (polip), Ikan,  Ekhinodermata,  Annelida, Polichaeta, Krustasea, Holothuroidea, Moluska, dll.
            Karang batu dapat berperan ganda, sebagai produsen dan konsumen. Hal ini dimungkinkan oleh adanya endosimbiosis dengan zooxanthellae, yang di hari terang melakukan proses fotosintesis, sedangkan di hari gelap karang batu memiliki tentakel-tentakel bersengat (nematocyst) yang dapat dijulurkan untuk memangsa zooplankton
dan hewan-hewan renik lainnya.
            Di Indonesia terdapat 2,500 spesies molluska, 2,000 spesies krustasea, 6 spesies penyu laut, 30 mamalia laut, dan lebih dari 2,500 spesies ikan laut.  Luas ekosistem terumbu karang Indonesia diperkirakan mencapai 75.000 km2 yaitu sekitar 12 sampai 15 persen dari luas terumbu karang dunia. Dengan ditemukannya 362 spesies scleractinia (karang batu) yang termasuk dalam 76 genera, Indonesia merupakan episenter dari sebaran karang batu dunia.
E.   JENIS-JENIS PENUTUPAN SUBSTRAT
A. Alga
  Alga (jamak Algae) adalah sekelompok organisme autotrof yang tidak memiliki organ dengan perbedaan fungsi yang nyata. Alga bahkan dapat dianggap tidak memiliki “organ” seperti yang dimiliki tumbuhan (akar, batang, daun, dan sebagainya). Karena itu, alga pernah digolongkan pula sebagai tumbuhan bertalus. Perbedaan utama karang hermatipik dan karang ahermatipik adalah adanya simbiosis mutualisme antara karang hermatipik dengan zooxanthellae, yaitu sejenis algae uniselular (Dinoflagellata unisular), seperti Gymnodinium microadriatum, yang terdapat di jaringan-jaringan polip binatang karang dan melaksanakan fotosintesis.. Hasil samping dari aktivitas ini adalah endapan kalsium karbonat (CaCO3) yang struktur dan bentuk bangunannya khas. Ciri ini akhirnya digunakan untuk menentukan jenis atau spesies binatang karang (wikipedia , 2010).
B. Sponge
 Spons adalah hewan dari Porifera.  Tubuh mereka terdiri dari jelly seperti mesohyl terjepit di antara dua lapisan tipis sel . Sementara semua hewan memiliki sel terspesialisasi yang dapat berubah menjadi sel-sel khusus, spons yang memiliki keunikan beberapa sel khusus yang dapat berubah menjadi jenis lainnya, sering bermigrasi antara lapisan sel utama dan mesohyl dalam proses. Spons tidak memiliki saraf , pencernaan atau sistem peredaran darah (wikipedia, 2010).
        C. Hard coral
           Mencakup semua karang batu atau Scleractinia yaitu binatang laut yang eksklusif, mereka sangat mirip dengan anemon laut tapi menghasilkan kerangka keras. They first appeared in the Middle Triassic and replaced tabulate and rugose corals that went extinct at the end of the Permian . Karang keras merupakan istilah untuk kelompok karang yang memiliki kerangka luar (eksoskeleton). Karang keras berdasarkan skeleton (kerangka karang) menurut Veron (1995) diklasifikasikan sebagai berikut :
Filum: Cnidaria
   Kelas : Anthozoa
Subkelas: Hexacorallia
Ordo: Sclerectinia
Coenothecalia
Kelas : Hydrozoa
Ordo  : Mileoporina
Stylasterina
            There are two groups of Scleractinia:d.D. Rubble
                        Bagian karang berupa pecahan karang yang berfragmentasi menjadi potongan kecil-kecil. Rubble biasa ditemukan di terumbu karang  yang pernah di bom atau terkena bencana alam. (Arif, 2009).
                                                                                                                                       PpppppPBB                                                 E. Colonial corals found in clear, shallow tropical waters; they are the world’s primary reef -builders.Solitary corals are found in all regions of the oceans and do not build reefs.B   bbbbbBBBBbbbSoft coral
Termasuk Zoanthids tetapi tidak untuk gorgonia dan anemon. Karang lunak atau Alcyonaria merupakan jenis coelenterata yang tidak
kalah penting peranannya dalam pembentukan terumbu karang. Jika ditinjau dari
jumlah jenis dan ukuran koloninya menempati urutan kedua setelah karang
keras (Effendi, 2009).
·         gambar 3. Soft Coral Cladiella sptermasuk
F. Dead coral
                        Karang mati dapat berupa karang yang masih utuh maupun yang sudah menjadi puing-puing, Tetapi masih kelihatan baru, lubang koralit masih jelas, berwarna putih atau belum sepenuhnya (Effendi, 2009).
                        Jika dalam suatu ekosistem terumbu karang banyak terdapat dead coral maka bisa dipastikan bahwa terumbu karang itu sudah hancur. Ikan-ikan tidak akan hidup di sekitar terumbu itu lagi. Semakin kurang karang maka akan semakin kurang juga biota-biota laut yang bisa dilihat. Karena semua biota itu bersimbiosis dengan karang. seperti ikan, krustacea, annelida, bivalvia, dan lain sebagainya (Effendi, 2009).
G. Sand
Pasir adalah contoh bahan material butiran. Butiran pasir umumnya berukuran antara 0,0625 sampai 2 milimeter. Materi pembentuk pasir adalah silikon dioksida, tetapi di beberapa pantai tropis dan subtropis umumnya dibentuk dari batu kapur (Effendi, 2009).
H. Rock
                        Substrat keras baik yang terlihat jelas maupun yang tertutup lumut, teritip atau organisme lain. Bongkahan yang berdiameter lebih dari 15 cm masih masuk dalam kriteria ini (Effendi, 2009).
I. Others
            Semua jenis organisme yang sesil termasuk Anemon, tunicate, gorgonian atau jenis substrat yang lain termasuk dalam kriteria ini dan termasuk pula invertebrate. Terumbu karang didominasi oleh karang (coral) yang merupakan kelompok Cnidaria yang mensekresikan kalsium karbonat. Rangka dari kalsium karbonat ini bermacammacam bentuknya dan menyusun substrat tempat hidup karang lain dan ganggang (Arif, 2009).
Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata, mikro organisme, dan ikan, hidup di antara karang dan ganggang. Herbivora seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan karnivora (Arif, 2009).
III. METODOLOGI PRAKTIK
A.      Waktu dan Tempat
            Praktik lapang Ekologi Laut  ini dilaksanakan pada hari Sabtu , Tanggal 27 Maret  2010 di Pulau Barrang Lompo Makassar.  .
            Sedangkan analisis data sampel dilaksanakan di Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makssar
B.     Alat
Alat yang digunakan pada praktik lapang ini yaitu roll meter sepanjang 15 meter untuk mengukur panjang transek, sabak tujuh buah untuk mencatat data di dalam air, alat dasar untuk mempermudah pengamatan , dan alat tulis menulis untuk menulis hasil pengamatan.
C.     Prosedur Kerja
1.      Lokasi ditentukan berdasarlan keterwakilan data.
2.      Transek dipasang sepanjang karang yang dibutuhkan oleh pengambil data. Transek dipasang harus lurus dari titik awal sampai akhir.
3.      Setelah itu dibagi ke setiap orang posisi masing-masing. Alat dasar digunakan selama pencatatan. Alga (A), Sponge, (SP), Hard Coral (HC). Soft Coral (SC), Rubble (RB), Dead Coral (DC), Dead Coral Alga (DCA), Sand (SD), dan Rock (RC) yang harus dicatat oleh pengamat. Pengamatan dilakukan sepanjang transek yang telah dipasang.
4.      Selain itu, perlu juga dicatat seperti bulu babi, kima, bintang laut, dan lain-lain dalam lingkup transek yang telah dipasang sebelumnya.
D.     Analisis Data
Metoda transek garis menghitung besar persentase tutupan karang mati, karang hidup, rumput laut, dan jenis lifeform lainnya dengan rumus (English et al., 1997):
Kepadatan = Panjang total kategori (m)   
                                                100

 

 

% Penutupan = Panjang total kategori (m)   X 100%
                                          Panjang Transek (m)
Secara umum, baik buruknya kondisi terumbu karang ditentukan oleh tinggi rendahnya nilai persentase tutupan karang  hidupnya. Ada 4 (empat) kategori untuk menentukan kondisi terumbu karang menurut Australian Institute of Marine Science, yaitu: 1) hancur/rusak (0-24,9%); 2) sedang (25-49,9%); 3) baik (50-74,9%); dan 4) sangat baik (75-100%).
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. PERSEN PENUTUPAN SUBSTRAT
a. Stasiun I
Grafik 1 : Persentase penutupan substrat stasiun I
Nama Organisme
Jumlah
Linckia sp.
3
Simbio nudibranch
2
Spesimen
3
Tabel 1 : Jumlah organisme Invertebrata stasiun I
            Presentase penutupan substrat paling tinggi adalah Rubble menyusul dead coral. Dengan 43 % untuk rubble menunjukan kerusakan karang dalam tahap sedang. Karena menurut Jompa (2005) ada empat kategori untuk menentukan penutupan karang yang 1) hancur/rusak (0-24,9%); 2) sedang (25-49,9%); 3) baik (50-74,9%); dan 4) sangat baik (75-100%).
            Setelah itu bisa kita lihat penutupan dead coral sekitar 33 % yang berarti penutupan karang masih sedang. Disusul oleh Hard Coral sekitar 11 % yang masuk dalam kategori rusak.
Stasiun I bisa dikatakan sudah mulai hancur dilihat dari penutupan substrat yang dominan rubble dan dead coral. Menurut Effendi (2009) jika dalam suatu ekosistem terumbu karang banyak terdapat dead coral maka bisa dipastikan bahwa terumbu karang itu sudah hancur. Ikan-ikan tidak akan hidup di sekitar terumbu itu lagi. Semakin kurang karang maka akan semakin kurang juga biota-biota laut yang bisa dilihat. Karena semua biota itu bersimbiosis dengan karang. seperti ikan, krustacea, annelida, bivalvia, dan lain sebagainya
            Pada stasiun I ditemukan hewan avertebrata seperti Linckia sp., Simbio nudibranch, dan sepecimen yang tidak dikenali.
b. Stasiun II
Grafik 2 : Persentase penutupan substrat stasiun II
Nama Organisme
Jumlah
Diadema sp.
8
Mollusca
12
Spesimen
10
Tabel 2 : Jumlah organisme Invertebrata stasiun II
            Pada stasiun II persentase penutupan karang meningkat dibandingkan stasiun I penutupan hard coral di statiun ini sekitar 35% dan soft coral 15% ini menunjukkan bahwa penutupan karang distasiun ini dalam kategori sedang. Namun penutupan hard coral di statiun ini cukup tinggi sekitar 44% ini disebabkan akibat perubahan suhu dan kondisi lingkungan yang lain sehingga karang yang masih hidup di statiun ini mati. Penutupan rubble di stasiun ini sekitar 3% sangat berbeda jauh dengan stasiun I sekitar 43%. Hal ini disebabkan stasiun II sangat jauh dari aktivitas manusia yang dapat merusak karang.
            Karena penutupan karang di statiun II dikategorikan sedang maka organisme yang bersimbiosis langsung dengan ekosistem karang banyak seperti data yang didapatkan yaitu Diadema sp. yang jumlahnya 8, Mollusca berjumlah 12 dan Spesimen yang tidak dikenali berjumlah 10.        
c. Stasiun III
Grafik 3 : Persentase penutupan substrat stasiun III
Nama Organisme
Jumlah
LinckIa sp.
5
Diadema sp.
4
Mollusca
3
Tabel 3 : Jumlah organisme Invertebrata stasiun III
            Karakter penutupan pada stasiun III didominasi oleh rock sekitar 43 %. Hal ini sangat berbeda dengan stasiun II dan I yang didominasi oleh karang. Pada stasiun ini juga ditutupi oleh Sand sekitar 25 % dan Hard Coral sekitar 23 %.
            Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa organisme yang mendominasi berasal dari jenis Linckya sp. dengan jumlah organisme sebanyak 5 individu. Kemudian diikuti oleh Diadema sp. dengan jumlah 5 individu dan yang terakhir dari filum Mollusca dengan jumlah 3 individu.
d. Perbandingan stasiun I, stasiun II dan stasiun III
            Pada stasiun I dan III penutupan substrat yang mendominasi adalah sand, rock, dan rubble. Ketiga penutupan substrat tersebut adalah indikator bahwa kondisi karang yang berada di stasiun ini telah rusak berbeda dengan stasiun II penutupan substrat yang ada yaitu hard coral dan soft coral meskipun ada penutupan substrat dead coral tapi masih dikategorikan dalam kondisi yang sedang.
            Dlihat dari komunitas organisme yang ada pada stasiun I dan stasiun III sangat kurang ditemukan akibat karang yang ditempati organisme tersebut mencari makan telah rusak berbeda dengan stasiun II sangat banyak ditemukan organisme tersebut karena daerah tersebut masih baik untuk mencari makan atau menjadi daerah asuhan.
B. Persen Penutupan Substrat Biotik dan Abiotik
Grafik 4 : Persentase penutupan substrat biotik stasiun I
Grafik 5 : Persentase penutupan substrat biotik stasiun II
Grafik 6 : Persentase penutupan substrat biotik stasiun III
Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa kondisi penutupan substrat biotik dominan terdapat pada stasiun II. Kondisi tersebut sangat berhubungan dengan organisme invertebrata yang terdapat di daerah pengamatan. Semakin tinggi penutupan substrat biotik maka makin tinggi jumlah organisme invertebrata yang terdapat di daerah tersebut. 
Grafik 7 : Persentase penutupan substrat abiotik stasiun I
Grafik 8 : Persentase penutupan substrat abiotik stasiun II
Grafik 9 : Persentase penutupan substrat abiotik stasiun III
Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa daerah pengamatan yang paling tinggi jumlah penutupan substrat abiotiknya terdapat pada stasiun III. Hal tersebut juga ditegaskan dengan jumlah invertebrata yang ditemukan juga sedikit. Sehingga dapat diketahui bahwa kondisi karang pada stasiun III telah rusak.
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. SIMPULAN
            Dari praktek lapang kali ini dapat diperoleh bahwa :
a.      Pada stasiun I diketahui bahwa banyak rubble sekitar 43 % dikarenakan aktifitas manusia yang terlalu dekat dengan kehidupan karang, sehingga banyak karang yang patah karena bom atau aktifitas manusia yang lain.
b.      Pada stasiun II diketahui bahwa penutupan karang didominasi oleh dead coral sebanyak 43 %. Tidak terlalu banyak rubble seperti di stasiun I, dikarenakan stasiun II jauh dari aktifitas manusia. Masih banyak organisme karang yang hidup di stasiun ini.
c.      Sedangkan pada stasiun III banyak ditemukan rock sekitar  43 %. Organisme cuma ditemukan sedikit, paling banyak adalah dari spesies bintang laut.
B.     SARAN
Laboratoriumnya bisa lebih diperhatikan. Terima kasih juga buat asisten yang sudah membimbing.
LAMPIRAN
A. Stasiun I
Jenis Substrat
Ukuran (m)
Kepadatan /m
Persen Penutupan (%)
Alga
0,17
0,017
1,7
Sponge
0,1
0,01
1
Hard Coral
1,15
0,115
11,5
Soft Coral
0
0
0
Dead Coral
3,33
0,333
33,3
Rubble
4,3
0,43
43
Sand
0,95
0,095
9,5
Rock
0
0
0
Other
0
0
0
Jumlah
10
1
100
Biotik
Jenis Substrat
Persen Penutupan
Alga
1,7
Sponge
1
Hard Coral
11,5
Soft Coral
0
Other
0
jumlah
14,2
Abiotik
Jenis Substrat
Persen Penutupan
Dead Coral
33,3
Rubble
43
Sand
9,5
Rock
0
jumlah
85,8
B. Stasiun II
Jenis Substrat
Ukuran (m)
Kepadatan / m
Persen Penutupan (%)
Alga
0,28
0,028
2,8
Sponge
0
0
0
Hard Coral
3,58
0,358
35,8
Soft Coral
1,5
0,15
15
Dead Coral
4,33
0,433
43,3
Rubble
0,16
0,016
1,6
Sand
0
0
0
Rock
0
0
0
Other
0,15
0,015
1,5
Jumlah
10
1
100
Biotik
Jenis Substrat
Persen Penutupan
Alga
2,8
Sponge
0
Hard Coral
35,8
Soft Coral
15
Other
1,5
jumlah
55,1
Abiotik
Jenis Substrat
Persen Penutupan
Dead Coral
43,3
Rubble
1,6
Sand
0
Rock
0
jumlah
44,9
C. Stasiun III
Jenis Substrat
Ukuran (m)
Kepadatan /m
Persen Penutupan (%)
Alga
0,37
0,037
3,7
Sponge
0
0
0
Hard Coral
2,25
0,225
22,5
Soft Coral
0,4
0,04
4
Dead Coral
0,24
0,024
2,4
Rubble
0
0
0
Sand
2,45
0,245
24,5
Rock
4,29
0,429
42,9
Other
0
0
0
Jumlah
10
1
100
Biotik
Jenis Substrat
Persen Penutupan
Alga
3,7
Sponge
0
Hard Coral
22,5
Soft Coral
4
Other
0
jumlah
30,2
Abiotik
Jenis Substrat
Persen Penutupan
Dead Coral
0
Rubble
23,5
Sand
42,7
Rock
0
jumlah
66,2
DAFTAR PUSTAKA
Arif, 2009. Ekologi Laut. http://arifqbio.multiply.com/ journal/item/18/Ekologi_Laut. (28 Maret 2010)
Bengen, D.G. 2001. Slide Mata Analisis Ekosistem Pesisir dan Laut. Program     studi SPL, Institut Pertanian Bogor. Bogor.69
Dwiko Handoko, 2009. Ekosistem Terumbu Karang Pantai Pangandaran. http://blueseafer.wordpress.com/2010/03/31/ekosistem-terumbu-karang-pantai-pangandaran-jawa-barat/ (1 April 2010)
Nybakken, J. W., 1982. Biologi Laut, Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia. Jakarta.
Nontji, A., 1987. Laut Nusantara. Djambatan, Jakarta.
Veron, J. E. N.  1995.  Coral In Space and Time.  Australian Institute of Marine Science Cape Ferguson, Townsville, Quensland.
                       

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *