Laporan Praktek Lapang Sedimentologi Pulau Bauluang

 

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material yang ditransport oleh media air, angin, es, atau gletser di suatu cekungan.  Delta yang terdapat di mulut-mulut sungai adalah salah satu contoh hasil dan proses pengendapan material-material yang diangkut oleh air sungai, sedangkan bukitpasir (sand dunes) yang terdapat di gurun dan di tepi pantai adalah pengendapan dari material-material yang diangkut oleh angin (Mahatma, 2009)
Sedimentasi yang terjadi di wilayah pesisir terjadi pada muara-muara sungai. Pola-pola sedimentasi tergantung pada pola pergerakan air, apabila gerakan air horizontal tinggi, sedimen akan tetap dalam bentuk larutan. Namun bila gerakan air perlahan sehingga tidak cukup energi untuk menjaga agar sedimen tetap larut maka akan terjadi proses pengendapan bahan-bahan sedimen. Selain itu energi gerakan air juga berpengaruh terhadap ukuran bahan-bahan sedimentasi yang akan diendapkan. Tingginya proses sedimentasi ini akan berdampak kembali pada manusia itu sendiri seperti terganggunya transportasi laut karena telah terjadi pendangkalan, terjadinya pengurangan lahan/areal, dan sebagainya (Darsef, 2003).
Studi tekstur sedimen di dalam sedimentologi umum digunakan untuk mengetahui  ukuran dan persentase butir, proses sedimentasi serta arah transpor sedimen. Transportasi sedimen di pantai merupakan proses yang perlu diperhatikan, karena angkutan sedimen dapat merubah kodisi mintakat pantai. Ukuran partikel-partikel sedimen ini sangat berbeda tergantung dari sifat fisik yang dimiliki oleh partikel-partikel tersebut. Untuk mengetahui ukuran butiran sedimen maka perlu dilakukan analisis dengan berbagai macam metode. Oleh karena itu, maka dianggap penting untuk melakukan praktek lapang sedimentologi untuk dapat mengetahui cara analisis penentuan distribusi dan arah penyebaran sedimen dengan melihat ukuran butiran sedimen.
B. Tujuan dan Kegunaan
Adapun tujuan dari pelaksanaan praktek lapang sedimentologi adalah untuk mengetahui jenis butiran sedimen melalui Metode Ayakan dan Pipet, mengetahui kandungan bahan organik sedimen, mengetahui kandungan kapur sedimen, dan untuk mengetahui tekstur sedimen.
Sedangkan kegunaan diadakannya praktek lapang sedimentologi adalah untuk mengetahui hubungan antara ukuran butir dengan beberapa proses sedimentasi, dan dapat mengklasifikasikan metode pipet dan pengayakan pada penelitian mahasiswa.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pada praktikum sedimentologi laut adalah analisis butir-butir sedimen yang meliputi tekstur dengan menggunakan satuan segitiga tekstur, kandungan bahan organik, sortasi, pengendapan, profil sedimen, kekeruhan dan kandungan kapur, hubungannya dengan lokasi pengambilan sedimen serta faktor-faktor yang mempengaruhi sedimentasi yang terjadi di lokasi pengambilan sedimen.
 
III. METODE PRAKTIK
A.     Waktu dan Tempat
Praktek lapang sedimentologi ini dilakukan pada hari  Sabtu-Minggu 6-7November 2010, bertempat di desa/pulau Bauluang, Kec. Tana Keke, Kab. Takalar, pulau Bauluang.Sedangkan analisis sampel dilaksanakan pada hari Kamis dan Jumat, 18-19 November 2010 di Laboratorium Geomorfologi dan Manajemen Pantai, Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
B.     Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum sedimentologi laut pada pengambilan sampel sedimen adalah: Sendok semen atau skop untuk pengambilan sampel sedimen. Kantong sampel dan kertas label. Spidol permanen dan kamera. Alat yang digunakan pada analisis sampel sediemen adalah: Timbangan digital untuk menimbang berat sampel sedimen. Satu set saringan (Sieve Net) untuk mengayak sampel sedimen. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu. Talam-talam/kertas licin (pembungkus nasi), Kuas, sikat, lap dan sendok. Beaker glass volume 50 ml, cawan petri dan cawan porselin. Pipet volume 10 mL, kalkulator dan alat tulis menulis. Kertas semilog, Tanur, Desikator dan hot plate. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah: pada analisis untuk penentuan besar fraksi pasir (sand), sampel sedimen dan aquades. Untuk analisis kandungan kapur (CaCO3), HCl pekat.
C.   Prosedur Kerja
1.    Metode pengambilan sampel sedimen di Lapangan
Prosedur kerja yang dilakukan dalam pengambilan sample sedimen secara langsung pada daerah pinggiran pantai adalah :
a.   Menentukan posisi stasiun pengambilan sampel
b.   Menyiapkan alat yang digunakan untuk pengambilan sampel
c.   Melakukan pengambilan sampel dengan menggunakan skop
d.   Masukkan sampel ke dalam kantong sampel
e.   Menentukan posisi tiap sub stasiun.
2.    Metode Analisis Besar Butir Sedimen
a.   Metode Ayakan kering
Metode ini digunakan untuk mendapatkan fraksi pasir (sand).  Adapun prosedur kerjanya adalah:
1)  Sampel sedimen yang diperoleh di lapangan dikumpulkan sesuai dengan lokasi masing-masing sampel, kemudian dicuci dengan air aquades (untuk menghilangkan bahan organik terapung) setelah itu dimasukkan ke dalam beaker glass.
2)  Sampel sedimen dikeringkan dengan bantuan sinar matahari sehingga sampel sedimen betul-betul kering.  Hindari tiupan angin jika pengeringan di udara bebas.
3)  Sedimen kering tersebut diambil dan kemudian ditimbang untuk dianalisis ±100 gram sebagai berat awal.
4)  Sampel dimasukkan kedalam ayakan unutk diguncang secara merata selama minimum 10 menit untuk sempurnanya pengayakan, sehingga didapatkan pemisahan ukuran masing-masing partikel sedimen berdasarkan ukuran ayakan.
5)  Sampel dipisahkan dari ayakan (untuk antisipasi tertinggalnya butiran pada ayakan disikat dengan perlahan).
6)  Hasilnya kembali dihitung untuk mendapatkan berapa gram hasil masing-masing tiap ukuran ayakan.  
b.   Metode Pipet
Metode ini digunakan untuk mendapatkan fraksi debu (silk) dan lempung (clay).  Adapun prosedur kerjanya adalah:
1)  Menimbang 100 gram sampel sedimen yang telah dicuci dan dikeringkan.
2)  Sampel tersebut kemudian dimasukkan ke dalam beaker glass, kemudian dituangkan larutan 10 ml 0.01 N Natrium Oksalat dan 5 ml 0.02 N NaCO3 (Natrium Karbonat).
3)  Sampel sedimen kemudian dikocok, bila masih terjadi penggumpalan partikel-partikel sedimen, ditambahkan lagi zat kimia tersebut secukupnya kemudian dikocok kembali (sampai tidak terjadi penggumpalan).
4)  Sampel tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung silinder 1000 ml, kemudian ditambahkan aquades hingga tepat pada angka 1000 ml.
5)  Setelah 7 meni
t 44 detik, sampel sedimen diambil dengan menggunakan pipet pada kedalaman 10 cm sebanyak 20 ml kemudian disaring dengan menggunakan kertas saring yang telah dipanaskan dalam oven selama 1 jam dan telah diketahui beratnya (berat kertas saring kosong diukur terlebih dahulu).
6)  Selanjutnya kertas saring tersebut dipanaskan di dalam oven selama 2 jam, didinginkan di dalam desikator kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan digital, hasil dari berat tersebut kemudian dikurangi dengan berat kertas saring kosong, sehingga hasil dari pengukuran tersebut diketahui sebagai berat sampel berukuran 0.002 mm (partikel debu).
7)  Setelah 2 jam 3 menit, sampel diambil pada kedalaman 10 cm sebanyak 20 ml dengan menggunakan pipet dan disaring dengan menggunakan kertas saring yang telah dipanaskan di dalam oven selama 1 jam dan telah diketahui beratnya.
8)  Selanjutnya kertas saring tersebut dipanaskan di dalam oven selama 2 jam, didinginkan kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan digital, hasil dari berat tersebut kemudian dikurangi dengan berat kertas saring kosong, sehingga hasil dari pengurangan tersebut diketahui sebagai berat sampel ukuran 0.0005 mm (partikel lempung).
3.    Prosedur Kandungan Bahan Organik dan CaCO3
a.    Kandungan Bahan Organik Sedimen
Adapun prosedur kerja dari kandungan bahan organik dari sedimen sebagai berikut:
1)      Menimbang berat cawan petri.
2)      Menimbang berat sampel sedimen yeng telah dikeringkan sebanyak kurang lebih 10 gram dan mencatatnya (cawan petri + sampel kurang lebih 10 gram) sebagai berat awal.
3)      Memanaskan dengan tanur pada suhu 600oC selama kurang lebih 3 jam.
4)      Setelah mencapai 3 jam keluarkan dari tanur dan dinginkan dengan menggunakan desikator.
5)      Menimbang kembali sampel (cawan petri + sampel terbakar) yang sudah dipanaskan sebagai berat akhir.
b.    Kandungan CaCO3 Sedimen
Adapun prosedur kerja kandungan kapur (CaCO3) dari sedimen adalah sebagai berikut:
1)      Menimbang berat beaker glass.
2)      Menimbang sebanyak 5 gram sampel sedimen yang telah dikeringkan.
3)      Menambahkan se
banyak 5.5 ml HCl pekat pada sampel yang telah ditimbang.
4)      Menguapkan HCl pekat yang telah ditambahkan pada sampel hingga sampel kembali kering di atas hot plate pada ruang asam.
5)      Menimbang kembali sampel sedimen yang sudah kering tersebut, kemudian hasilnya sebagai berat akhir.
6)      Untuk menentukan berat standar melakukan hal yang sama seperti di atas, tetapi 5 gram sampel sedimen diganti dengan 5 gram CaCO3 murni.
D.   Analisis Data
1.    Perhitungan % berat sedimen pada metode ayakan kering
  Berat hasil ayakan
% Berat =                                     x 100 %
                  Berat awal
2.    Perhitungan % berat sedimen pada metode pipet
Berat hasil pemipetan
% Berat =                                     x 100 %
                  Berat awal
3.    Perhitungan % berat kumulatif
% Komulatif = % Berat 1+  % Berat 2
4.    Perhitungan sortasi sedimen
S = √Q1/Q3
5.    Perhitungan kandungan bahan organik sedimen
kandungan bahan organik = ± ( Baw – Bc) – (Bak – Bc)
                                        Berat BO
% bahan Organik =                               x 100%
                                   Berat sampel
      Dimana : Baw = Berat awal ( gram)
                      Bak = Berat akhir ( gram)
                      Bc = Berat cawan( gram)
6.  Perhitungan Kandungan CaCO3 pada sedimen
      Berat akhir = Berat setelah penambahan HCl – Beratbeaker glass
   Berat akhir – Berat awal sampel
% CaCO3 =                                                        x 100 %
                              Berat awal sampel
% CaCO3
% Berat =                    x 5 Gram
                      100

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.     Gambaran Umum Lokasi
Praktik lapang sedimentologi dilaksanakan di pulau Baluang, desa Mattirobaji, Kecamatan Mappakasunggu, Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan dan dapat ditempuh ≤ 3 jam dari pusat kota Makassar. Lokasi pengambilan sampel kelompok IV berada di sebelah Timur yang secara geografis terletak pada S:05045706’’ dan E:119023690’’ dan lokasi pengambilan sampel sedimen terdiri dari tiga stasiun yaitu : 1). Daerah Supratidal (SPT) yang melihat struktur sediemen yang terdiri dari lapisan permukaan, tengah dan dasar sedangkan yang melihat perlapisan terdiri dari kedalaman 40, 80 dan 120 cm. 2) Intertidal (IT) yang terdiri dari pasang tertinggi (intertidal), daerah mangrove dan daerah lamun. 3). Subtidal yang terdiri dari daerah surut terendah.
Jumlah penghuni pulau ini kurang lebih 105 Kepala Keluarga yang sebagian besar mata pencahariannya adalah nelayan. Pulau ini di banyak ditumbuhi pohon kelapa dan mangrove baik secara alami maupun melalui konservasi. Warna pasirnya putih kecoklatan dan disepanjang pinggiran pantai, banyak terdapat tumbuhan laut menjalar, dan dapat pula dilihat gundukan-gundukan pasir pada saat air laut surut yang merupakan hasil dari pembongkahan organisme. Perairan cukup jernih dan banyak terdapat organisme invertebrata (seperti bintang laut), vertebrata seperti (ikan ampifrion), ekosistem lamun, dan ekosistem karang. Kondisi arus cukup tenang baik pagi, siang maupun sore hari saat praktik berlangsung. Pulau ini juga merupakan lokasi DPL karena terlihat berbagai zona, yaitu zona inti, zona penyangga dan zona jalur hijau.

 

Berdasarkan hasil analisa yang diperoleh di dalam laboratorium melalui pengamatan atau hasil analisa melalui metode ayakan, sampel dari setiap titik pengambilan sampel diketahui bahwa masing-masing partikel tersebut memiliki ukuran yang berbeda.
Pada sampel di daerah supratidal sedimen lebih di dominasi oleh pasir halus. Hal ini terbukti dari metode ayakan sedimen, dimana sekitar 50% sedimen didominasi oleh sedimen dengan ukuran 0,25 mm. Untuk di daerah intertidal, sedimen dengan ukuran 0,25 mm juga lebih mendominasi, ditandai dengan nilai persen beratnya sebesar 48,266%. Pada sampel sedimen yang diambil di daerah mangrove sekitar 33,948% juga di dominasi oleh sedimen dengan ukuran 0,25 mm, diikuti  22,745% untuk ukuran 0,5 mm. Untuk sampel yang diambil di daerah lamun lebih di dominasi oleh sedimen dengan ukuran 0,5 mm dengan persen beratnya 30,512%.
Untuk sampel sedimen dari daerah subtidal didominasi oleh sedimen dengan ukuran 0,25 mm dengan persen berat sekitar 35,283% dari persen berat total. Sampel sedimen yang diambil dari daerah lamun dan subtidal mempunyai tekstur sedimen yang relatif kasarUntuk sampel sedimen khusus yang diambil di salah satu titik dari daratan pulau, yang cukup jauh dari garis pantai, diambil 3 contoh sampel sedimen yang berbeda, terdiri atas sedimen lapisan A yang berupa pasir hitam, lapisan B yang berupa pasir putih, dan lapisan C yang berupa batuan pasir. Untuk lapisan A yang berupa pasir hitam lebih di dominasi oleh sedimen dengan ukuran 0,5 mm dengan persen beratnya 59,729% dari persen berat total. Untuk lapisan B yang berupa pasir putih didominasi oleh sedimen dengan ukuran 0,25 mm dengan persen berat 55,566%. Dan untuk lapisan C berupa batuan pasir didominasi oleh sedimen dengan ukuran 0,5 mm dengan persen berat 38,068% dari persen berat total.
Sesuai dengan skala Wentworth, menurut ukuran sedimen menunjukkan bahwa pada lokasi pengambilan sampel sedimenditemukan jenis sedimen pasir dengan ukuran pasir sedang (Medium sand) yang lebih mendominasi, hal ini dikarenakan lokasi pengambilan sampel merupakan daerah yang pengaruh angin, arus dan gelombangnya cukup besar.
Untuk hasil analisa bahan organik (BOT) dapat disimpulkan bahwa kandungan bahan organik terbanyak terdapat pada sampel sedimen yang berasal dari lapisan sedimen batu pasir, diikuti lapisan supratidal 80 cm, lapisan Intertidal dan yang terendah terdapat pada daerah subtidal. HalIni dikarenakanpeisisir pantai pulau bauluang memang banyak mendapat suplai bahan organik, yang berasal dari buangan yang berasal dari darat.
Untuk hasil analisa kandungan CaCO3 pada sampel sedimen di laboratorium memperlihatkan bahwa persentase tertinggi terdapat pada lapisan supratidal 80 cm dengan persentase berat CaCO3 sebesar 23,340%, diikuti lapisan C sebanyak 18,300%, dan lapisan daerah pasang tertinggi yakni intertidal dengan persen berat CaCO3 sebesar 14,060%. Kadar CaCO3 pada sedimen menggambarkan tingkat kesuburan sedimen tersebut. Menurut harkat CaCo3 yang telah ditentukan Hendry D. Foth maka masing-masing nilai harkat pada ketiga lapisan di atas termasuk dalam kategori sedang.
V. SIMPULAN DAN SARAN
A.   Simpulan
Berdasarkan praktek dan analisa laboratorium yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.    Bentuk dan ukuran material butiran pasir sedimen yang lolos pada saringan  kurang dari 0,063 mm rata-rata ± 1 gr setiap daerah pada pada analisis metode ayakan kering yang berbentuk silt (debu), clay (lempung) maupun dissolved material (material terlarut).
2.    Nilai persen berat tertinggi kandungan bahan organik total yaitu pada sampel sedimen lapisan C yaitu sebesar 12,840%. Sementara untuk lapisan supratidal 80 cm, intertidal, dan subtidal, nilai persen kandungan bahan organik totalnya secara berturut-turut adalah 6,940%, 5,200%, dan 3,220%. Dari hasil analisa dapat ditarik kesimpulan bahwa suplai bahan organik yang terbesar berasal dari darat.
3.    Nilai persen kandungan kapur (CaCO3) tertinggi terdapat pada lapisan supratidal 80 cm. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesuburan di daerah supratidal lebih baik dari lapisan C dan kawasan Intertidal.
4.    Struktur endapan sedimen yang paling dominan adalah pasir. Hal ini dapat kita lihat dengan menggunakan segitiga tekstur.

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *