Mencari Keindahan di Maumere Lewat Internet


Ditemani lagu Coldplay – What If mengalun di dalam kamar sempit nan penuh dengan barang. Terlalu penuh. Buku di sisi kanan, lemari baju di sisi kiri. Saya sedang mengarduskan barang-barang yang sudah tidak digunakan. Tumpukan kardus di sisi pintu membuat saya termenung. “Haruskah secepat ini saya angkat kaki dari Makassar?”
Sebelum saya ditetapkan menjadi sarjana Ilmu Kelautan saya sudah mendapatkan tawaran pekerjaan. Namun saya harus siap ditempatkan di daerah yang sangat baru bagi saya. Maumere namanya. Terletak di dalam provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), berdekatan dengan Ende dan Larantuka. Jujur, saya belum pernah ke daerah tersebut. Kalau Nusa Tenggara Barat (NTB), bolehlah. Tahun 2012 saya pernah menginjakkan kaki di Lombok. 
Tapi soal NTT, saya hanya mendengar namanya disebut karena kekurangan air. Bukannya saya mengejek, tapi memang NTT dikenal sebagai daerah yang kekurangan air. Semoga itu berita bohong. Semoga NTT sebuah daerah yang baik-baik saja. Semoga ia bersahabat. Semoga ia indah dan menarik. Bagai perawan yang belum tersentuh. 
Saya melihat sisi baiknya. NTT akan saya jelajahi. Semoga saja memang ada waktu untuk menjelajahi bagian dari nirwana di sekujur tubuh nusantara. Saya harus membuat iterinary selama di Maumere. Ini belum seberapa. Saya akan menembus jalan-jalan untuk mencari surga-surga indah… Berikut adalah keindahan Maumere yang digambarkan oleh sebuah berita di portal maya.

Selamat datang Maumere.. 😀

1. Bukit Nilo
Letaknya sekitar 5 km dari Maumere. Nama sebenarnya Desa Nilo, bukit Keli. Namun orang menjulukinya Bukit Nilo.Di atas bukit, ada patung Bunda Segala Bangsa, atau patung Maria. Tingginya sekitar 18 meter. Belum termasuk fondasinya yang setinggi 28 meter. Beratnya sekitar 6 ton. Patung ini dibuat pada 2005.

Tempat ini tak hanya menjadi wisata religi bagi kaum nasrani. Orang nonnasrani pun datang untuk menikmati panorama indah. Dari atas bukit Nilo, Anda bisa melihat seluruh kota Maumere. Biasanya orang datang untuk melihat matahari terbit di sini.

2. Gereja Tua Sikka
Bangunan gereja ini sudah bertahan lebih dari satu abad di Sikka Natar. Didirikan pada 1899 oleh misionaris dari tarekat Jesuit dengan bantuan raja Sikka. Bentuk dan corak bangunannya yang tradisional dari abad XVIII-XIX. Dindingnya dihias dengan lukisan motif tenun ikat Sikka.

3. Museum Bikon Blewut
Museum ini yang terbesar di Nusa Tenggara Timur. Letaknya 10 Km dari arah kota Maumere yang berada di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Kecamatan Nita Kabupaten Sikka. Bikon artinya lampau, blewut artinya sisa-sisa peninggalan masa lampau. Berbagai koleksi peninggalan bersejarah masa lampau ada di sini. Fosil, pakaian adat, perhiasan, benda-benda porselen, alat musik, tenunan, anyaman dan ukiran, dan fauna.

4. Pasar Geliting
Pasar tradisional di Maumere ini jangan dilewatkan. Anda bisa membawa buah tangan dengan harga lebih murah ketimbang beli di artshop. Tapi, Anda mesti lihai tawar-menawar dengan para pedagang di sini. Soalnya kadang mereka menaikkan harga dua kali lipat.

5. Wisata Bahari
Berbagai macam tempat diving dan snorkeling yang menyajikan keindahan alam dan kekayaan biota lautnya ada di Maumere dan sekitarnya. Juga pantai-pantai di kabupaten Sikka. Biayanya beragam. Snorkeling sekitar Rp 200 ribu, diving sekitar Rp 700 ribu. (Baca artikel: Lima Wisata Bahari di Maumere)
6. Watubelapi
Watubelapi adalah satu dusun yang warganya membudidayakan kain ikat tenun. Mereka membuat kain ikat tenun secara tradisional, dengan alat pemintal dari kayu. Proses perwarnaan dan pembuatan motifnya pun secara alami dengan menggunakan tumbuh-tumbuhan. Pembuatan satu kain ikat tenun, melibatkan seluruh perempuan di dusun ini. Di sini, Anda bisa melihat proses pembuatan kain ikat tenun dari awal hingga akhir.

Tulisan menyenangkan
di kamar kecil dan diselesaikan di Laboratorium Toksikologi Laut
8 Januari 2014

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *