Menelusuri Dusun Pasir Madang, Tenjo

Matahari sudah mulai naik ke peraduannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 WIB. Telpon berdering dua kali. Nama Renita muncul di layar handphone. Ia mengingatkan untuk hadir tepat waktu. Pagi itu, kami Tim Menyapa Indonesia dari PK-69 berjanji untuk bertemu di Stasiun Sudimara. Perjalanan kali ini adalah Menelusuri Dusun Pasir Madang, Tenjo, Bogor. 
Apa sih Menyapa Indonesia itu? Kegiatan yang diadakan oleh Awardee beasiswa LPDP setiap angkatan. Kontribusi yang bisa diberikan langsung ke masyarakat entah dalam bentuk kegiatan pembangunan, pemeriksaan kesehatan, pembangunan rumah baca, dan lain-lain. Tapi yang harus diingat, setiap daerah memiliki masalah dan membutuhkan solusi yang berbeda. Karena itu, kami melakukan Survey ke Dusun Pasir Madang. Maka ini adalah perjalanan pertama dan menjadi tantangan bagi kami.

menunggu di stasiun Sudimara
Perjalanan dari Tanjung Barat ke Sudimara membutuhkan waktu sekitar 50 menit. Di Stasiun Sudimara sudah ada teman-teman menunggu. Renita, Rahmad, Hendra dan Ratih sudah siap disana. Sembari menunggu Pudy dan Samson, kami melakukan beberapa persiapan. Kami segera mencari cemilan untuk diperjalanan. Ratih sudah membawa Lemon Cake untuk teman perjalanan. Yummy.. 
Kami memulai perjalanan pukul 8.10 WIB dengan hati senang karena ada Lemon Cake. #eh. Rahmad kami daulat sebagai supir perjalanan. Padahal ia menderita insomnia parah dan baru tidur siang hari. Tapi demi mensukseskan Survey Menyapa Indonesia, ia bersedia menjadi supir. Hebat! Sepanjang perjalanan kami saling mengakrabkan diri. Karena ini menjadi salah satu pertemuan pertama kali dengan teman-teman. 
Dusun Pasir Madang terletak di Desa Bojong, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor. Pasti kalian bertanya-tanya, kenapa harus berangkat dari Stasiun Sudimara yang notabene berada di Tangerang? Karena sebenernya daerah ini lebih dekat dicapai dari daerah Tangerang. Perjalanan ditempuh sekitar 4 jam dari Sudimara. Jika ingin menggunakan kendaraan umum, teman-teman bisa naik Commuter Line jurusan Tenjo. Dari sana naik Ojek ke Dusun Pasir Madang, bayar 20 ribu. Lebih cepat dan lebih murah. 
Masih lumayan
Menggunakan mobil sewaan, ketika masuk di Desa Babakan, kami agak khawatir dengan jalanan yang hanya terdiri dari campuran batu kali dan tanah. Dan benar saja, di depan kami ada sebuah truk yang terjebak di dalam lumpur. Menurut sang supir truk, ia membutuhkan waktu lama hingga truk bisa berjalan. Kami pun memutuskan untuk berjalan kaki ke Dusun Pasir Madang. Sekitar 30 menit melewati sawah, kerbau yang sedang istirahat, dan rumah penduduk yang berjauhan jaraknya, akhirnya kami pun tiba di Dusun Pasir Madang. 
sawah
Dusun yang terdiri dari dua bagian ini memiliki 60 KK dikelilingi oleh sawah dan hutan milik Perhutani. Pertama kali, saya berpikir bahwa masyarakat disini berprofesi sebagai Petani, namun ternyata mereka berprofesi sebagai Buruh Tani. Mereka hanya mengurus sawah milik orang lain. Pembagian penghasilannya pun hanya 5:1, para buruh tani hanya mendapatkan 1 bagian dari keuntungan. Sehingga padi yang mereka dapatkan hanya cukup untuk makan selama beberapa hari. Masa panen pun hanya 2 kali dalam setahun. Karena dusun ini seringkali dilanda kekeringan hingga 7 bulan lamanya. 
Kami berkenalan dengan Pak Yamin, ketua RT di Dusun Pasir Madang. Berdasarkan penuturannya, jika sedang tidak menjadi buruh tani, para kepala keluarga menjadi buruh penebang kayu. Penghasilan mereka tidak menentu. Jika musim baik, mereka bisa mengantongi hingga 1 juta per bulan. namun jika sedang tidak beruntung, uang yang didapatkan lebih kecil daripada itu. 
Pak Yamin juga mengatakan bahwa para pemuda di dusun ini lebih sering mengadu nasib di ibu kota menjadi pekerja konveksi. Gaji yang didapatkan sekitar 750 ribu per bulan. “Kalau masih muda, banyak yang pergi ke luar dusun, kalau sudah berkeluarga banyak yang memilih untuk menetap di dusun, bekerja serabutan tapi bisa terus tinggal bersama anak istri,” ujarnya sambil tertawa renyah. Duh, ini ngena banget. Haha. 
Kami terus berdiskusi dengan Pak Yamin dan istrinya. Dari percakapan saya dengan Pak Yamin membuka mata saya bahwa ternyata sebuah dusun yang dekat dengan kota besar (Tangerang) masih ada yang tidak terjamah oleh pendidikan. Penduduk Dusun Pasir Madang banyak yang tidak melanjutkan sekolah ke SMP, sejak tahun 2010 baru ada 5 anak yang masuk SMP. Dan mereka pun tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Hiks. Banyak alasan kenapa mereka tidak melanjutkan lagi, salah satunya karena tidak adanya uang dan jarak sekolah yang sangat jauh. Untuk mencapai SMP As-Salam, sekolah swasta terdekat adalah sekitar 1 jam perjalanan dengan berjalan kaki.
Ternyata sudah ada beberapa kegiatan sosial yang berjalan disini. Saya salut dengan teman-teman FKIP Uhamka yang membangun Rumah Baca Al-Iqro yang berdiri di depan rumah Pak Yamin. Mahasiswa-mahasiswa tersebut memberikan banyak buku bacaan bagi anak-anak di Dusun Pasir Madang. Hal ini meningkatkan minat baca anak-anak kecil yang tinggal di dusun tersebut. 
Tim survey Menyapa Indonesia PK-69
Hasil dari diskusi kami, para penduduk tidak bisa menggunakan hasil panen mereka karena terbatas untuk konsumsi sehari-hari. Karena itu kami lebih memfokuskan pada pengembangan kemampuan dan kapasitas penduduk. Doakan kami bisa berhasil dalam melakukan pendampingan ke depannya. 
Ditulis di Ruangan Bougenville, Wisma Hijau
9:48 WIB Senin, 9 Mei 2016
Sambil denger lagu Angkatan PK-50 yang dinyanyikan oleh Tasya Kamila, diputar saat pembukaan oleh PIC PK LPDP, Pak Mohammad Kamiluddin. 

 

 

 

 

 

 

 

 

You may also like

Leave a Reply