Mengenal Wuring dan Masyarakat Bajo (part 1)

Pasar Wuring

Mendengar kata Wuring, mayoritas masyarakat Maumere langsung mengingat sebuah desa yang pernah dipindahkan ke daerah Nangahure. Desa pesisir yang pernah dipindahkan pada tahun 1991 ketika tsunami melanda daerah Nusa Tenggara Timur. Wuring dikenal sebagai tempat tinggal masyarakat Bajo yang berprofesi sebagai nelayan. Dimana Wuring masuk dalam Kabupaten Sikka yang berjarak kurang lebih 2 km dari Kota Maumere. 

Di tempat inilah saya tinggal selama lima bulan dan masuk dalam kehidupan masyarakatnya. Suku Bajo adalah suku yang dikenal sebagai suku nomaden yang hidup di atas laut, sehingga disebut dengan gipsi laut. Mereka dikenal sering berpindah-pindah tempat dan dikenal sebagai penjelajah lautan. Namun seiring berkembangnya zaman, banyak suku Bajo berpindah tempat dan akhirnya menetap di suatu wilayah. Karena itulah banyak suku Bajo yang tersebar di berbagai daerah, misalnya Sulawesi, Kalimantan, hingga di Filipina.  
salah satu sisi Wuring

Sama dengan cerita suku Bajo yang lainnya, ada komunitas suku Bajo yang akhirnya menetap di Maumere. Mereka akhirnya membangun komunitas dan perkampungan nelayan di Maumere. Menurut cerita, tanah ini diberikan oleh orang kerajaan Maumere yang bersahabat dengan tokoh Bajo ketika sebelum masa kemerdekaan. Akhirnya beranak pinak dan kemudian menjadi sebuah perkampungan nelayan seperti yang bisa kita lihat saat ini. 

Mengenal suku Bajo di Wuring seperti mengenal suku Bugis kebanyakan. Karena mungkin masih sama-sama dari Sulawesi. Namun jika suku Bugis berasal dari Sulawesi Selatan, suku Bajo berasal dari Sulawesi Tenggara. Namun untuk di masyarakat Wuring, kebanyakan suku Bajo berasal dari daerah Bone. Hahaha. Afiliasi turun temurun kayaknya. 😛
Wuring menjadi salah satu daerah wisata bagi wisatawan luar negeri. Jangan kaget jika anda sering melihat bule yang datang dan pergi di daerah ini. Mereka tertarik dengan komunitas nelayan di Maumere. Selain komunitas nelayan, di Wuring juga ada pelabuhan tersibuk di Kabupaten Sikka. Karena setiap harinya ada kegiatan bongkar muat barang dari kapal-kapal yang datang dari Makasaar.
Hampir semua suku Bajo di Wuring menggantungkan hidupnya di laut. Karena itulah mayoritas masyarakat di Wuring berprofesi sebagai nelayan. Saat ini banyak nelayan yang berfokus untuk mencari ikan tuna, penangkapan ikan tuna mulai menjadi trend di tahun 2002. Karena ikan tuna merupakan produk ikan yang paling menjanjikan di antara semua jenis ikan lainnya. Sebelum ikan tuna menjadi trend penangkapan, nelayan disini masih menggunakan bom dan bius untuk menangkap ikan. Namun saat ini dengan adanya modernisasi alat tangkap, sudah semakin jarang menemukan nelayan nakal yang menggunakan bom dan bius. 
Hantu Laut
Orang Bajo mempercayai bahwa laut itu memiliki “penghuni”, mereka menyebutnya “hantu laut”. Sehingga dulu ada cara-cara yang mereka lakukan sebelum turun ke laut. Namun lama kelamaan proses tersebut sudah mereka tinggalkan. Sulit untuk menemukan nelayan yang mau melakukan prosesi turun laut sebelum memancing. 
anak-anak habis mandi di laut

Namun masih ada beberapa hal yang dipercaya oleh masyarakat Bajo hingga saat ini, yaitu cara pengobatan sederhana yang memanggil “hantu laut”. Mereka percaya jika seseorang sakit maka ada “hantu laut” yang merasuki tubuh si sakit. Selain itu pengobatan juga dilakukan dengan mandi air laut. Jika seseorang sakit, dipercaya untuk menyembuhkannya hanya perlu mandi air laut. Karena itu jangan pernah heran jika anak kecil umur 1 tahun sudah pandai berenang. Berbeda dengan saya yang baru mahir berenang ketika umur 18 tahun (pas kuliah semester 2). Karena menurut mereka air asin merupakan obat yang paling manjur. Jika sakit batuk, flu, demam dan lain sebagainya, mereka akan berendam di air laut.

Perempuan Perkasa
perempuan penjual ikan

Selain itu hal menarik lainnya adalah perempuan di Wuring dikenal sebagai perempuan perkasa. Mereka mampu mencari nafkah sendiri bagi keluarganya. Pemandangan yang lumrah ketika sore hari, perempuan-perempuan Wuring sedang berjualan ikan di pasar. Mereka yang bertugas menjual ikan hasil tangkapan suaminya. Jadi ada sebuah pembagian porsi kerja di dalam keluarga. Setelah suami mencari ikan, sang istri akan menjual hasil tangkapan suami di pasar. Sang suami akan menjaga anak-anak mereka ketika istri sedang menjual ikan. Sebuah ikatan kuat dan saling mendukung. 

Kerjaan ini mereka lakoni agar ada pemasukan tambahan bagi keluarganya. Karena selama ini hanya ikan tuna yang langsung laku dijual. Ada pembeli dari luar Wuring atau biasa disebut Papalele (laki-laki) dan Mamalele jika perempuan. Biasanya papalele dan mamalele membeli ikan tuna (bengkunis) dan cakalang saja. Karena kedua jenis ikan tersebut yang memiliki harga tinggi di pasar lokal.  
Jadi jika seorang nelayan mendapatkan ikan dari jenis lain seperti ikan pedang, ikan teri, cumi dan lain sebagainya hanya bisa dijual oleh sang istri nelayan. Harga ikan ditentukan dari musim ikan. Biasanya jika musim hujan datang, harga ikan bisa melambung. Tapi jika musim kemarau dan ikan sedang banyak maka bisa dipastikan ikan menjadi sangat murah.

to be continued 

ditulis di kamar kost Wuring
8 Juni 2014 tapi baru dipublikasi 16 Juni 2014
ayooo, menulissss 😀

generasi masa depan Wuring

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *