Menyusuri Jejak Sejarah di Gunung Padang

Perjalanan kami mulai dari Stasiun Bogor dan menaiki angkutan umum berwarna hijau. Mobil berjalan lambat merayapi kemacetan di sekitar Botani Square. Setelah itu kamipun harus melanjutkan hingga tiba di Terminal Ciawi. Dari terminal Ciawi, perjalanan dilanjutkan dengan bis antar kota.

Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam, akhirnya kami menginjakkan kaki di Cianjur. Dari terminal Pasir Hayam, masih harus dilanjutkan dengan angkota nomor 43 hingga di Bebedahan. Tibanya di Bebedahan, kami pun harus menempuh perjalanan dengan ojek. Sekitar 9 km dari tempat awal. Hingga akhirnya kami tiba di Situs Megalitik Gunung Padang. 
Situs ini terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Menjadi kontroversi karena BETALAB, Miami, USA pada pertengahan 2012 menunjukan umur dengan kisaran antara 13.000 sampai 23.000 tahun lalu. Kemudian, hasil carbon dating dari lapisan tanah yang menutupi susunan batu kolom andesit di kedalaman 3-4 meter di Teras 5 menunjukkan umur sekitar 8700 tahun lalu. Sebuah penemuan besar yang membuat geger para arkeolog. Hal inilah yang mendorong saya untuk melihat langsung sebuah penemuan bersejarah. 
Selama perjalanan dari Bebedahan menuju situs kami disuguhkan pemandangan hamparan kebun teh yang hijau. Udara tanpa polusi yang sangat bersahabat. Saya pun berbincang dengan tukang ojek yang membawa saya. Dia mengatakan situs megalitik Gunung Padang dulunya digunakan sebagai tempat pemujaan. Ada tiga fungsi pemujaan di situs tersebut, jika ingin bisa mengaji pergi ke teras depan (teras mesigit). Jika ingin bisa bermain alat musik pergi ke balai musik yang ada gong besar. Jika ingin kaya pergi ke teras bagian atas. Namun setelah situs ini dikenal oleh masyarakat, tidak ada yang pergi kesana lagi untuk melakukan pemujaan. 

batu berbunyi
Tiket masuk ke situs hanya 2 ribu rupiah. Kami menaiki tangga yang lumayan tinggi. Cukup untuk membuat seseorang terengah-engah. Sesampainya diatas kami disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Kami pun berfoto-foto tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi di situs ini. Hingga akhirnya seorang guide yang dipanggil Abah, menjelaskan bahwa situs ini ditemukan pada tahun 1914 oleh peneliti dari Belanda. Hingga pada tahun 1979 dijadikan sebagai cagar budaya. Menurutnya pada tahun 1966, pernah ada kayu besar yang menimpa situs ini hingga batu-batunya berantakan. Jadilah situs ini hanya bongkahan-bongkahan kayu besar.

batu gong
Hal yang membuat saya penasaran adalah darimana datangnya batu-batuan tersebut. Abah menjelaskan beberapa kemungkinan munculnya batu-batu tersebut. “Ada kemungkinan dari perut bumi, jadi ketika gunung meletus, batu tersebut muncul,” ujarnya dengan menggunakan bahasa Sunda. “Kemungkinan kedua adalah batu-batu tersebut berasal dari meteor jatuh,” tambahnya lagi. Ia pun menunjukkan pada kami batu yang bisa menimbulkan bunyi-bunyian. Jadi ketika batu tersebut dipukul, ada suara seperti besi. Abah mengatakan batu berbunyi tersebut berasal dari Andesit. 

Abah pun menjelaskan tentang batu-batu berdiri yang ada di situs. “batu yang berdiri teh biasanya disebut Lingga perumpamaan laki-laki, sedangkan yang tidur itu disebut Yoni perumpamaan sosok wanita. Batu tegak disebut Menhir, kalau yang tidur itu disebut Dakon,”ujarnya dalam bahasa Sunda yang sangat cepat. Kami bertiga agak sulit mengikuti alur pembicaraannya.
Lelaki yang sudah lebih dari 20 tahun menjadi guide disini menjelaskan tentang teras musik. Dulunya di teras ini digunakan sebagai teras musik. Gong warna kuning menjadi pertanda bahwa manusia zaman dulu menggunakan musik sebagai hiburan. Selain itu Abah juga menjelaskan tentang teras masigit. Dari sini biasanya orang zaman dulu sembahyang dan menjadikan Gunung Gede Pangrango sebagai kiblatnya. 

Tak lupa ia menjelaskan tentang adanya kemungkinan ruang bawah tanah. Ia pun menunjukkan sebuah tanda adanya kemungkinan tersebut. Misalnya saja undakan kedua digunakan semacam semen, sehingga lebih rekat. Dibandingkan bagian lain yang tidak menggunakan semen. Kemungkinan tersebut membuat ahli arkeologi datang ke tempat ini dan menelitinya. 

Kami terus mengabadikan momen di atas sini. Terus bermunajat kepada Allah SWT atas keindahan yang diciptakanNya. Lestarikan tempat-tempat bersejarah. Kalau bukan kita, siapa lagi??

Tajurhalang, 16 September 2013

How to get there :
Dari stasiun Bogor naik angkot 03 menuju Baranangsiang (Rp. 3000)
Dari Baranangsiang naik angkot 01 menuju terminal Ciawi (Rp. 3000)
Setelah itu naik bis menuju Cianjur. Biasanya ada beberapa bis yang menuju ke Cianjur, bisa naik bisa Parung Indah, Marita, Doa Ibu atau Karunia Bakti (Rp. 20000)
Turun di Terminal Pasir Hayam, Cianjur. Naik angkot 43 yang warna abu-abu dan bagian bawahnya berwarna pink cerah menuju ke Bebedahan (Rp. 5000)
Setelah itu naik ojek menuju situs megalitikum di Gunung Padang (Rp. 25000)
Tiket masuk ke situs Rp. 2000

tangga menuju teras atas

 

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *