Para Pahlawan Keluarga di Pulau Buru


ibu-ibu dan anak-anak membantu para nelayan untuk mendorong kapal

 

Menjelajah di Pulau Buru bagian utara membuat saya semakin kagum dengan mahluk Tuhan bernama Ibu. Mereka adalah para pejuang keluarga selain Bapak sebagai kepala keluarga. Di saat para kepala keluarga berjuang mencari ikan agar bisa mengepulkan asap dapur, para ibu ikut membantu sebisa mereka. Ikut masuk menjadi penopang ekonomi keluarga dan menjadi sumber kekuatan seluruh anaknya. 
Di saat musim ikan tuna sedang ramai, para ibu membantu mendorong perahu suami mereka ke laut. Doa pun teriring bersama keberangkatan kapal di pagi buta. Mereka sudah mempersiapkan bekal makan siang dan sebotol besar air segar agar sang suami bisa mencari ikan dengan tenang tanpa khawatir takut lapar. Begitupun di saat suami pulang dan mendaratkan kapal di pantai. Para istri nelayan akan mendorong kapal ke tambatan yang sudah mereka sediakan. 
Sedari pagi, ada beberapa wanita yang sudah menjunjung baskom di kepalanya. Mereka membawa hasil masakan mereka, entah nasi kuning yang dibungkus kecil dan dihargai 2000 ribu per bungkus. Atau kasbi gepeng, pisang goreng dan roti yang menjadi teman minum teh di pagi hari. Mereka menjajakan dari rumah ke rumah. Setiap ibu hanya memiliki satu jenis jualan dan memiliki spesialisasi. Sehingga orang sudah mengenal apa yang mereka jual, jika wajah mereka muncul di ujung jalan. 
mereka membawa jualannya sambil membawa anak
Selain itu setiap ibu-ibu sudah memiliki suara khas untuk memanggil para pembeli. Ada yang seperti bernyanyi, ada yang hanya berteriak dengan kencang, bahkan ada yang berdiri di depan rumah untuk menawarkan barang. Semuanya memiliki ciri khas masing-masing. Sehingga ketika pagi, saya tinggal memilih penganan apa yang saya makan di pagi hari. Karena di tempat saya tinggal, Desa Wamlana, penduduk desa jarang sekali makan nasi di pagi hari. Mereka memilih untuk minum teh atau kopi ditemani kudapan yang dijual oleh ibu-ibu tersebut. 
Para ibu-ibu itu menjual juga hasil kebunnya di atas kepala mereka. Saya malah sempat membeli jamur dari pohon kayu putih yang bisa dimakan mentah. Mereka memetiknya di hutan kayu putih. Karena saat ini sedang musim hujan, sehingga jamur tersebut tumbuh subur di pohon kayu putih. Harganya juga bervariasi, biasanya orang di desa membeli dari nominal 5000 hingga 10000. Jika dimakan mentah, rasanya seperti kacang, jika dimasak rasanya seperti hati ayam. 
Tak hanya menjadi pedagang, banyak para ibu-ibu yang memilih pergi ke kebun. Biasanya mereka menanam kasbi (singkong), cabai, durian, coklat, pisang, jambu, dan lain sebagainya. Jika hasil kebun sedang panen, ada beberapa yang bisa mereka jual. Hasil kebun ini seringkali menyelamatkan mereka di saat musim sedang tidak baik untuk turun melaut. Karena suami mereka tidak mendapatkan ikan, mereka akan menggantungkan hidup pada hasil kebun. Makanan seperti rebusan daun singkong, singkong, jamur, rebung, kelapa, daun melinjo, dan lain sebagainya akan tersedia di meja. Selain itu bahan bakar masih menggunakan kayu, sehingga semua hal terpenuhi untuk bisa makan. 
Seorang istri nelayan memiliki peran penting untuk berinisiatif agar seluruh keluarga bisa makan walaupun tidak ada uang sama sekali. Mereka yang mengusahakan agar anak-anak dan suami mereka tetap makan. Selain itu banyak keluarga nelayan yang menyekolahkan anak mereka hingga ke jenjang perguruan tinggi.  Saya membayangkan betapa hebatnya seorang perempuan di pesisir Pulau Buru. Karena itu saya sangat menghormati para ibu di pulau Buru. Ketika paradigma banyak orang dibangun bahwa ‘kerja keras milik laki-laki’ dan menjadi pahlawan keluarga. Tapi di pulau ini kerja keras sudah diterjemahkan oleh para perempuan disini. 
Ditulis di Kantor MDPI, Waprea, Pulau Buru
11:42 WIT
2 Januari 2017 sambil denger lagu Matchbox – Unwell

You may also like

Leave a Reply