Saya Berbeda, Siapa Takut?

Don’t let someone change who you are, to become what they need” – Anonim
Nick Vujicic, seorang pria dengan tagline “No Arms, No Legs, No Worries!” berhasil mengagetkan saya di sebuah saluran TV Swasta. Pria ini tidak memiliki tangan dan kaki. Ia masih terus memotivasi orang di sekitarnya. Ia lahir dengan anggota tubuh yang tak lengkap. Dokter mendiagnosa bahwa Nick terkena penyakit Tetra Amelia yang sangat langka. 
Nick Vujicic. see, he still smiling… πŸ˜€
Kedua orangtuanya menerima Nick dengan hati yang lapang apapun kekurangan anaknya. Ia memiliki telapak kaki kecil di bagian kiri pinggangnya. Orang tuanya mengajarkan Nick untuk bisa berjalan, bermain bahkan menulis dan mengetik di keyboard. Nick memanggil kaki kecilnya “My Chicken Drumstick”
Nick bukannya tak pernah mendapatkan perlakuan yang tak menyenangkan dari teman sebayanya. Pernah pada umur 8 tahun ia ingin bunuh diri. Tapi dengan cinta kasih dan dukungan dari orang tua dan kerabat terdekatnya ia memilih untuk terus maju. Hingga pada usia 12 tahun ia mendapatkan artikel yang bercerita tentang seseorang cacat dan mendedikasikan hidupnya untuk membantu orang lain. Terinspirasi dari cerita itulah, Nick membuka yayasan nirlaba “Life Without Limbs” untuk bisa memotivasi orang lain pada usia 17 tahun. 
Ketika melihatnya saya merasakan gelombang optimis menerjang. Saya pernah mengalami masa yang paling buruk ketika menginjak masa Sekolah Dasar. Di sekolahkan di sebuah sekolah swasta ternama membuat saya minder dan tak punya teman. Keluarga saya tinggal di sebuah desa kecil, dengan jalanan penuh dengan lumpur. Ketika hujan mengguyur Kota Bogor, saya butuh plastik hitam untuk melindungi sepatu saya agar tidak berlumpur saat masuk ke kelas. Selain itu kulit saya yang lebih gelap daripada yang lain membuat mereka selalu mengolok-olok. 
Tak hanya itu saja, karena saya merasa tak punya tempat di sekolah membuat saya mencari tempat perlindungan lain. Saya selalu bolos, takut ke sekolah. Saya selalu berbohong kepada orang tua ketika mereka menanyakan keadaan sekolah. Hingga akhirnya pembagian raport di akhir caturwulan, orang tua selalu kaget mendapati banyaknya nilai merah di raport dan banyaknya absennya saya dari kegiatan sekolah. Kelas 4, saya nyaris tidak naik kelas. Beruntung ayah dan bunda memindahkan sekolah saya ke daerah Depok. 
Teman-teman di sekolah ini berhasil membuat saya kembali menjadi anak yang lebih ceria. Karena mereka bisa menerima perbedaan yang ada pada diriku. Walaupun masih ada satu atau dua anak yang selalu mengejek kekuranganku. Tapi semua berakhir dengan baik. Saya bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. πŸ˜€
Sempat menjadi orang minder dan tak memiliki teman, membuat saya sekarang lebih bersyukur ketika ada seseorang yang mau menjadi teman saya. Karena saya tahu rasanya tak memiliki teman sama sekali. Hikmahnya adalah saya tak memilih teman, semua orang akan saya temani dan saya akrabi. Saya tak ingin ada batasan untuk berteman. πŸ˜€
Yang bisa saya petik dari perjalanan hidup Nick Vujicic adalah selalu melihat sisi positif. Apa yang kita lalui pasti akan mampu kita hadapi. Karena Allah SWT tidak memberikanmu cobaan yang melebihi daya tampung mu. πŸ˜€
Saya berhasil melewati masa sulit ketika SD, masih banyak tantangan besar menghadang di luar sana. Namun hal itu tidak akan menyurutkan mimpi saya untuk BERMIMPI BESAR dan bersiap untuk menjadi PEMIMPIN!! πŸ˜€

Yang paling penting dalam hidup adalah, jangan pernah biarkan orang lain mengubahmu. Tetap menjadi apa yang kamu pikir itu baik untukmu. πŸ˜€
Ditulis di Identitas sehabis hujan gerimis, 3 November 2013 setelah melihat video ini  .

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *