Buku Harian Sayang

Kebiasaan menulis diari sudah muncul sejak saya duduk di bangku SMP. Saat itu buku tebal bergambar beruang menjadi teman setia sebelum tidur. Diari turunan dari Bunda yang sudah tak digunakan sebagai catatan hariannya, selalu ku isi dengan curahan hati tentang menyongsong hari. Kegiatan dari bangun pagi, perjalanan ke sekolah, kegiatan di sekolah, hingga ku tertidur selalu dicatat. 
Petualangan setiap sore di kampung ku menjadi catatan rutin di buku harianku. Mulai dari mencari kepiting di sisi sawah yang sedang menguning atau bermain lumpur di kampung sebelah. Belum lagi adegan adu jotos dengan tetangga rumah yang selalu mengusik. Perjalanan mencari seekor buaya di sungai kecil atau pencarian kami yang terkadang aneh-aneh dan berbau klenik. 
Itu hanya sebagian kecil, petualangan ku di sebuah warnet bilangan Jakarta juga terekam jelas di buku itu. Belum lagi pertengkaranku dengan Ketua Kelas 2 E pada musim hujan. Atau ketika cowok yang kusuka bercerita tentang perempuan yang ia kagumi. Ah, masa-masa SMP yang indah. 
Pun kebiasaan menulis itu terus kutanamkan hingga aku beranjak masuk di SMA. Diari beruangku penuh! Ia diganti. Tapi diari bergambar bebek yang aku tulisi dari kelas 2 SMA hilang. Aku agak lupa tentang diari itu. Dan akhirnya aku membeli sebuah buku tulis tebal. Gambarnya tikus. Bersampul biru muda. 
Disitu aku mulai menulis kegiatan harianku. Mulai dari cowok yang aku sukai karena otaknya, teman-teman yang gila, bahkan guru yang suka berfilsafat. Kenangan yang patut dikenang dan tak boleh terlupakan. Masa SMA lebih tak terlupa!
Semua kegiatan yang dulu aku lakukan menjadi sangat menarik ketika aku baca kembali saat ini. Tak terasa lima tahun berlalu. Namun setiap kali membacanya, diriku seperti terlempar kembali ke masa-masa itu. Dan diari itu terus menjadi kenangan terindah untukku. 
Namun kegiatan menulis buku harian sempat terhenti karena aku yang tak punya tempat tinggal tetap. Pindah dari kost teman ke teman yang lain, membuat aku tak berani menulis buku harian. Sejak ada blog, aku mulai menuliskan kisah harian. Namun tak berbentuk buku harian, tapi lebih seperti puisi. Jadi orang tak mengerti siapa, apa dan kapan aku menjalani cerita itu. 
Akhirnya kegiatan itu terhenti hingga tahun ini. Aku diberikan sebuah buku diari sebagai hadiah ulang tahun oleh Bunda tersayang. Sampulnya merah muda, gambarnya tak menarik. Bukunya tebal dan bergembok. Terima kasih Bun, engkau selalu tahu. πŸ˜€
Awalnya saya selalu mengisinya, namun lama kelamaan ia kosong. Dan bulan lalu aku sudah berjanji untuk mengisinya kembali. Memenuhi lembar kertasnya dengan cerita tahun-tahun terakhir masa kuliahku. Karena InsyAllah tahun depan, gelar mahasiswa sudah tak kusandang. Buku harianku sayang…
#ditulis ketika menulis buku harian di kamar (25/12/2012 22:39)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *