Tak Terasa Empat Tahun Berlalu

Nonton di Makassar Town Square di sela-sela kesibukan magang

Empat tahun, bukan waktu yang singkat. Diandaikan seorang anak, kita akan melihat ia membuka matanya, belajar tersenyum, menangis. Lalu diumur satu tahun, ia mulai belajar merangkak dan akhirnya bisa berdiri. Proses yang membuat seorang ibu tersenyum dan seorang ayah menjadi bangga. 
Di umur yang ketiga dan keempat, ia mulai bisa menulis dan membaca nama. Walau tulisannya masih berantakan bahkan mirip sandi yang diciptakan pada masa Maya atau bangsa Mesopotamia. Seorang anak sedang lucu-lucunya, bahkan menggemaskan. Semua orang akan mencubiti pipi gemuknya dan selalu berkata tentang kelincahan sang anak. 
Ah, itu pengandaian seorang anak. Tapi yang akan kuceritakan disini adalah sebuah persahabatan. Bukan! Lebih dari itu malah. Sebuah persaudaraan. 
Jualan untuk Dies Natalis di Pantai Losari
Lahir di sebuah rumah kecil. Dengan kakak, om, tante dan ayah yang selalu menyemangati untuk terus belajar. Di rumah kecil yang tidak kecil, namun tidak juga besar. Hangat dan nyaman. (untuk awalnya sangat tidak nyaman). Lama kelamaan rumah kecil itu menjadi rumah bagi orang-orang yang berjiwa besar, ingin maju dan terus berusaha. Rumah yang menampung ide-ide besar untuk perubahan bangsa. 
Dilahirkan, ah, salah, dikumpulkan oleh sebuah informasi untuk bergabung dengan keprofesian jurnalistik. Identitas namanya. Singkat, namun sarat makna. Saya, ketika itu masih berstatus mahasiswa baru di Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin. Tahun 2009, bulan April saat itu. Sedang sibuk dengan mata kuliah Widya Selam. 
Saya datang ke identitas untuk mencari informasi pendaftaran magang saat itu. Disambut oleh seorang kakak yang baik dan agak sangar (nama disamarkan). Kesan pertama, identitas angker. Namun, lama-kelamaan saya bisa merasakan aura untuk bergabung dengan serius. 
Teman-teman (awalnya mereka kuanggap teman biasa), yang saat itu saya temui di ruang kayu bertulis ruang diklat, notabene berstatus mahasiswa baru seperti saya. Dikumpulkan oleh seseorang bernama Yani, membuat saya jengah. Kenapa sebanyak ini? Kepala-kepala mereka masih ditumbuhi oleh sedikit rambut. Tak banyak, karena itulah siklus di kampus merah kami.
Saya jengah dan sedikit malu. Saya anak baru, sedangkan mereka sudah magang disini dari bulan februari. Mereka berpengalaman, sedangkan saya, menulis saja tidak bisa. Namun, lama kelamaan, saya pun bisa bersosialisasi dengan mereka. 
Yang saya ingat, perkenalan saya dengan Ummul Masir. Siang hari, ketika saya disuruh datang oleh Litbang, tiba-tiba seorang senior datang meminta saya untuk mencuci piring kotor di dapur. Terpaksa, saya menuruti perintahnya. Saya jarang mencuci piring, jadi saat itu bunyi benturan piring kaca dengan gelas besi membuat Kak Anti geleng-geleng kepala dan menyuruh Ummul untuk membantu saya. Dari situ perkenalanku dengannya. Berkesan, hingga saat ini. ๐Ÿ˜€
Lama kelamaan saya mulai mengenali teman satu persatu. Ada Satriani Muliyadi yang cerewet dan sok kenal, Mifda Hilmiyah yang pendiem dan terkesan cuek, Hery Pasaribu orang Medan yang mirip perempuan karena gossip yang tak henti-henti, Hasdinar yang suka sibuk dengan jerawatnya, Fadli Mustamin selalu bekerja keras hingga bau kakinya, Ilham Muhammad si cowok cool yang selalu kritis, Muhaimin yang rambutnya mirip Giring Nidji, Bahar anak arkeologi yang cenderung pendiam, Iksan anak kelautan yang suka main sama senior-senior, dan Arsyam Mawardi yang sangat alim. Itu teman-teman yang saya dapat ketika magang pada bulan April, sebenarnya masih ada beberapa nama yang saya tahu, tapi saya tidak mendapat kesempatan untuk mengenal mereka di keredaksian. Seperti Asma Amaliah, Erna Alimuddin, Fadli, Iton Roy, Orion, dan lain sebagainya. Juga teman yang saya dapatkan di bulan terakhir magang seperti Masdiana si anak hukum yang suaranya besar atau Nabila yang suaranya sering melengking. ๐Ÿ˜€
Magang di identitas tidak semudah yang saya bayangkan. Setiap hari saya akan ditagih berita untuk keredaksian, magang punya rubrik kampusiana dan kronik untuk diisi setiap edisi. Dan kewajiban kita adalah 3 kampusiana dan 2 kronik dikumpul setiap minggu. Berat, karena saya tidak pernah mewawancara orang. Tapi, karena intensitas dan semangat, saya pun belajar mewawancara. Saat itu, saya mewawancarai Ketua Panitia sebuah acara di FMIPA. Saya ingat, saya agak gugup saat itu. Apalagi logat Jakarta saya yang sangat kental, membuat kakak itu tertawa. โ€œAneh aja didengarnya,โ€ ujarnya ketika saya bertanya kenapa ia tertawa. 
Itu pengalaman pertama, lama kelamaan saya mendapatkan kesempatan berbicara dengan Ketua BEM, dosen, dan pada akhirnya seorang guru besar ketika magang. Namun ada beberapa saat saya butuh ditemani oleh teman magang lama. 
Keakraban diantara kami tercipta dengan cepat. Proses wawancara kepada narasumber semakin membuat kami terlatih. Bulan Agustus 2009, saya mendapatkan kesempatan untuk meliput kebakaran Laboratorium Farmasi. Itulah berita saya untuk pertama kalinya. Bangga bukan main. Tapi saat itu ada kesalahan input oleh Korlip, semestinya tertera M38 (kode magang) tapi yang muncul adalah M34 (kode Hery). Yasudah, yang pasti itu adalah berita pertama ku. Bahagia! ๐Ÿ˜€
Semenjak saat itu, saya mulai bersemangat jika mendapatkan rubrik civitas. Sebuah kebanggan jika bisa menyelesaikan tepat waktu dan redaktur memuji tulisan tersebut. Hahaha. ๐Ÿ˜€ namun selama menjadi magang banyak hal yang membuat saya membuka mata. Bahwa dunia tidak semudah apa yang kita pikir selama menjadi siswa SMA. Hidup pasti lebih keras daripada masa-masa menjadi siswa bahkan mahasiswa. Dan mungkin hidup tidak akan punya belas kasihan kepada orang-orang yang tidak berusaha. Jadi, saya berusaha semakin keras untuk mengasah kemampuan saya yang mungkin terpendam. Misalnya saja, membawakan acara (MC) di acara Dies Natalis Identitas ke 35 pada bulan Desember 2009. Itu adalah salah satu pijakan saya untuk menjadi seorang MC dan berani untuk tampil di muka umum. Sebelumnya saya sangat takut untuk berbicara di puluhan orang, tapi alhamdulillah saat ini, saya sudah berani tampil dihadapan ratusan orang (lomba nyanyi di Baruga bulan 6 November 2012)
Selain itu, saya pun belajar berdebat dan mengasah pengetahuan umum di setiap rapat redaksi. Menyampaikan argumentasi maupun menyanggah pendapat orang di rapat adalah sebuah pembelajaran yang ternyata sangat berguna hingga saat ini. Mata kuliah yang tidak saya dapatkan di Ilmu Kelautan seperti cara menyampaikan pendapat yang baik dan benar, memulai percakapan, menulis sebuah artikel atau membuat orang paham dengan apa yang kita katakan adalah pelajaran berharga yang saya dapatkan selama ber-Identitas. 

Kembali ke pokok tulisan, tentang persaudaraan. Pada akhirnya, masa magang yang indah harus diakhiri. Banyak teman-teman yang tidak bertahan di dalam identitas, seleksi alam Darwin bermain pada saat ini. Banyak teman yang berpindah ke lain hati atau memilih fokus di kuliahnya. Akhirnya tersisa saya, Hery, Fadli, Ummul, Ria, Dinar, Mifda dan Ilham yang masuk dalam box redaksi. Kami berhasil lolos seleksi untuk jadi Reporter Identitas. Status โ€œMagangโ€ kami pun dicabut seusai tahap screening. Wahh, tidak terasa 10 bulan di lalui. Masih banyak tahapan lain yang harus dilakukan ketika reporter. 
Dan perjuangan itu pun dimulai !
Reporter, adalah ujung tomba identitas sehingga bisa terbit tepat waktu setiap dua bulan sekali. Edisi awal dan edisi akhir. Reporter bisa dikatakan sebagai ujung pena, tidak ada ujung pena, maka pena pun tak berfungsi untuk menulis dengan baik. 
Itulah sebuah amanah yang sangat berat. Tugas magang yang berat tak seberat ketika saya menjadi reporter. Intensitas mencari berita tak sekedar berita kampusiana ataupun kronik. Tapi rubrik civitas bahkan laput menjadi lebih sering. Setiap minggu, saya selalu disibukkan dengan deadline berita. Tugas kuliah banyak yang dibantu oleh teman-teman angkatan. Sisanya saya kerjakan hingga tengah malam, tak boleh lelah! 

Walaupun lelah melanda, tapi perjuangan tak boleh usai. Acara-acara yang dikoordinir oleh reporter pun kami lakoni. Misalnya Diklat Dasar Jurnalistik tahun 2010, saya diberikan amanah untuk menjadi Ketua Panitia. Wah, sebuah tanggung jawab. Teman-teman bahu membahu untuk menyukseskan acara. Senior hanya membantu di perancangan acara, bukan di teknis acara. Otomatis kami bekerja keras. Tapi pengalaman untuk acara Anjangsana, Buka Puasa Bersama, dan Dies Natalis membuat kami terbiasa dan belajar memanajemen sebuah acara. 

Okelah, itu salah satu halangan. Dan bisa kami lewati. Tapi persaudaraan kami semakin kuat dari hari ke hari. Seperti bunga, ia semakin harum. Walaupun saya selalu kalasiโ€™ (bahasa Makassar : suka beralasan) untuk pergi jalan-jalan dan mengeluh. Tapi mereka tetap menerimaku dengan baik. Yang paling kuingat ketika saya mengeluh dengan keras dan Fadli menegurku โ€œBukan hanya kamu saja yang capek, dlien. Saya pun capek, tapi kuusahakan untuk tidak mengeluh dan kerjakan apa yang saya bisa,โ€ Jleebb. Nancep banget! Dari situ saya belajar untuk tidak mengeluh dan belajar untuk menerima. #thanks ya Fad…
Beberapa hal terus menerpa kami, tapi kami terus bertahan, hingga akhirnya masa Kak Dayat selesai. Digantikan kepemimpinannya oleh seorang wanita tangguh, Kak Ela. Kami pun berganti posisi menjadi seorang redaktur atau biasa disebut dengan editor. Posisi ini lebih sulit daripada seorang reporter. Penulisan berita kami diuji disini, karena mengedit berita ternyata lebih sulit dibandingkan dengan menulis berita. Tapi pekerjaan itu berhasil kami selesaikan. ๐Ÿ˜€
Dan pada penghujung tahun 2011, diadakan pemilihan redaktur pelaksana baru. Dan Satriani Muliyadi terpilih menjadi redpel baru dan posisi kami sekarang disebut dengan jajaran atas. Saya dan Ummul pun diamanakan jabatan Litbang. Fadli dan Mifda jadi Korlip, sedangkan Hery jadi Koordinator Online. Dinar mendapat jatah menjadi Litbang Data. Ckckck. Posisi-posisi sulit. 
Kami jalani dengan penuh dinamika. Mulai dari ketidakbecusan saya menjadi Litbang karena suka jalan-jalan, dan lain sebagainya. Hahaha. Dan akhirnya, masa wisuda pun menjadi salah satu hambatan. Hery lulus! Bulan Juli dia resmi menyandang gelar sarjana Pertanian. Dan itu terus berlanjut, Fadli pun resmi bergelar Sarjana pada bulan September. Dan sekarang kami pun harus bahagia melihat Ummul dan Mifda mendapatkan gelar tersebut. Dan mereka selesai ketika masa pengabdian berakhir. Tepat 4 tahun kita menyelesaikan masa di identitas. Sebuah masa yang tidak sebentar namun menyenangkan. Banyak hal yang menyenangkan maupun menyedihkan saya dapatkan di identitas. Sebuah tempat belajar yang akan terkena
ng hingga akhir hayat.

Acara Ramah Tamah Identitas ke- 38 sekaligus seremoni penyerahan jabatan dari Ria ke Mustafa. Semangat!
Thanks to Allah yang sudah menciptakan mereka, di sekitarku! ๐Ÿ˜€
#dibuat ketika Dies Natalis ke 38 (22 Desember 2012) sambil denger Lagu What a Wonderful World!
I see trees of green, red roses too
I see them bloom, for me and you
And I think to myself
What a wonderful world!!

You may also like

2 Comments

  1. kisah perjalanan hidup yang luar biasa mengharukan. Suatu penyesalan terbesar,ketika dahulu tak jadi mendaftar di Identitas tahun 2009 .saat itu teman2 ku menganjurkan u/membatalkan niatku masuk identitas dengan menyebarkan kabar2 yang tdk sedap ttg identitas.namun kenyataannya sangat berbeda jauh. ada kebersamaan,solidaritas,ada kekeluargaan dan banyak lagi. jadi iri ๐Ÿ™

  2. It's okay. toh, kamu saat ini juga mendapatkan tempat baru dan melahirkan kamu menjadi seorang penulis. ๐Ÿ˜€

    dimanapun tempatnya, yang penting kita bisa belajar.. ๐Ÿ˜€

    semangat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *