Cerita Rumah Sakit #3 (Makna Sebuah Kehilangan)

Setelah puas tidur di rumah seharian, saya kembali lagi ke rumah sakit. Namun saya tidak melihat wajah-wajah yang biasanya menemani saya di ruang tunggu. Kebersamaan yang terbangun selama seminggu, membuat saya hafal siapa saja yang sudah disebut sebagai pasien lama dan pasien baru. 
Saya pun berteman dengan salah seorang anak pasien. Namanya kak Sisca, terpaut dua tahun umurnya diatas saya. Dia sudah menunggui Ayahnya sejak 3 minggu yang lalu. Menurut pengamatan saya, ia dan ibunya sudah termasuk dalam jajaran penghuni terlama ruang tunggu lantai 3. Selain mereka berdua, ada juga dua ibu-ibu lainnya yang setia menunggu suaminya. 
Kak Sisca selalu berusaha tegar, namun ketika ia keluar dari ruangan perawatan, matanya sembab. Kadang ia tak tahan, airmatanya tumpah dan terisak-isak keluar dari ruangan tersebut. semua keluarga pasien lama berusaha menguatkannya dan memberikan wejangan penting bagi seorang penjaga pasien “Jangan menangis, nak. Kalau dia melihat kamu menangis, ia akan sedih dan malah kehilangan semangat,” ujar ibu-ibu yang duduk di bangku paling depan. 
Walaupun kak Sisca berusaha tersenyum dan tabah menemani ibunya di ruang tunggu selama nyaris sebulan, namun takdir tak bisa ditolak. Keadaan Ayahnya semakin menurun dari hari ke hari. Kak Sisca dan ibunya bergantian melihat keadaan beliau. Mereka bahu membahu saling menguatkan. Dan hingga akhirnya kemarin pagi, Ayahnya pergi. Ketika sudah menuju ruang operasi. Setelah berjuang melawan penyakit jantung dan tumor yang tumbuh di jantungnya. Sang Ayah kembali ke Sang Khalik. 
Sayangnya saya sedang tidak di rumah sakit ketika Kak Sisca dan ibunya pulang menghantar Ayahnya ke rumah. Semoga kak Sisca kuat dan tabah menerima kepergian sang Ayah. Aamin..

Beda cerita dengan dua orang yang sering saya ajak bicara, suami-suami mereka sudah bisa masuk ke ruang perawatan. Artinya mereka sudah dinyatakan lebih baik dan menuju ke tahap kesembuhan. Sama seperti Datuk saya yang akan pindah ke ruang perawatan dalam waktu dekat. Beliau sudah melepas alat rekam jantung dan terlihat lebih segar dua hari terakhir. Semoga ia bisa kembali pulang dan duduk bersama kami, keluarga yang sangat mencintainya..

Ditulis sambil denger lagu Don’t Expect Me to Be Your Friend – Lobo
Ditulis di Ruang Tunggu Intermediate Rumah Sakit
Rabu 9 September 2015, 10:16

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *