Impian (Kepada Semua Pejuang di Luar Sana)

Sesuatu yang bernama impian itu pasti besar. Sampai-sampai menurut kita sangat sulit untuk diraih, membuat berdebar-debar, hingga muncul perasaan mungkin atau tidak? Jika tidak seperti itu dan impiannya terlihat mungkin untuk diraih, berarti apa yang diimpikan masih kecil. Dan itu sebenarnya bukan impian karena impian tidak ada yang kecil – Anonim
Saat seorang manusia bermimpi akan sesuatu hingga di dalam dirinya merasa impian itu begitu tinggi, sampai-sampai merasa seolah-olah tidak mungkin, maka percayalah manusia bisa menjadikannya mungkin dengan bantuan-Nya.
Sudah terlalu banyak kisah di sekitar kita tentang orang-orang yang dulunya bukan siapa-siapa dan kini menjadi seseorang. Dunia ini sungguhlah kumpulan cerita. Cerita-cerita yang seolah-olah tidak realistis dan tidak mungkin terjadi pada kita. Nyatanya itu terjadi pada orang lain, mengapa tidak pada kita?

Orang-orang bisa masuk kampus yang begitu besar dan terkenal, di dalam atau luar negeri. Seorang yang memiliki impian akan fokus pada tujuan dan ketika melihat orang lain mencapainya, ia akan belajar bagaimana cara melakukannya. Bukan sibuk sakit hati atau putus asa seolah-olah impiannya direbut orang lain. Tidak akan ada yang bisa merebut impian kita kecuali diri kita sendiri yang membunuhnya. 
Impian itu mestilah setinggi langit. Bahkan untuk mencapai bulan pun manusia membutuhkan waktu bertahun-tahun mempersiapkan teknologinya. Lihatlah bagaimana kesungguhannya. Dan sesuatu yang dulu dikira dongeng kosong telah menjadi kenyataan, bukan? Kita telah menyaksikan foto bumi kita sendiri dari bulan hari ini. 
Impian itu mestilah di antara bintang-bintang. Sebab ia tidak akan peduli siang malam, tidak peduli hujan badai, bintang-bintang tetap berada di atas awan. Di langit yang tinggi dan bersinar terang benderang. 
Impian itu jika semakin terasa tidak mungkin justru menjadi semakin menyenangkan. Sudah terlalu banyak orang yang merasa kalah oleh keadaan. Tidakkah mereka sadar bahwa mereka sendirilah yang tidak mengusahakan impiannya? Takut mewujudkannya. Takut pada konsekuensi jalan yang dia ambil lalu mengambil jalan aman – jalannya orang kebanyakan. Mereka menggantung impian yang hanya setinggi langit-langit kamar dan semua orang bisa meraihnya. Meraih impian yang sama. 
Bermimpilah yang lain. Hingga mungkin cemooh orang akan menjadi sarapan pagi kita, cibiran orang akan menjadi makan siang, dan ketidakyakinan orang lain menjadi camilan. Kita tidak perlu membuktikan impian kita kepada orang lain. Cukup buktikan pada diri kita sendiri bahwa kita bisa melebihi apa yang kita pikirkan. Dan selalu ada Allah di setiap hal yang kita yakini baik. 
Impian itu pastilah sesuatu yang mendebarkan. Seolah-olah alam semesta hendak menggagalkannya. Kita hanya tidak tahu bagaimana Allah dan semesta ikut serta mewujudkannya, kita hanya melihat luarannya. Percayalah, impian kita yang terlihat tidak mungkin itu adalah hal yang berharga.
Bangunlah dan wujudkan. Kesempatan hidup kita hanya sekali, itu pula kita bisa menjadi berarti. Dan kita tahu bahwa tidak ada yang mampu mengubah takdir kecuali doa. Dan Allah akan mengubah nasib kita selama kita mau dan bergerak untuk mengubahnya. 
Dan jika ternyata impian kita tidak juga terwujud sementara kita sudah begitu keras mewujudkannya. Percayalah. Dia mungkin sedang berencana menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Dia melihat usaha dan doamu, kan? 
-Kurniawan Gunadi-
P.S : Ini adalah salah satu essai milik Kurniawan Gunadi dalam bukunya Hujan Matahari. Saya menuliskan kembali esai ini dan memasukkannya ke dalam blog saya. Hal ini dikarenakan tulisan ini mengandung makna yang sangat dalam tentang impian. Bahwa semua orang berhak bermimpi dan memiliki impian yang tinggi. Impian akan mati bukan karena orang lain, tapi mati di tangan kita sendiri. Tiada orang yang bisa membunuhnya, kecuali dari belati kita sendiri. Jadi jangan takut bermimpi. 
Semangat, dlien. Semangat semua teman-teman yang sedang mengejar scholarship! 
Ditulis ulang di rumah tercinta sambil denger lagu Love Yourself – Justin Bieber
23:46 WIB 5 Februari 2016

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *