Kepergian Mbah Rayi

Sosok itu memberikan kecupan di kening. Saya berurai air mata dan terus mengatakan “Jangan pergi”. Tapi sosok itu kemudian hilang perlahan sembari suara Arif sayup-sayup terdengar.. antara sadar dan masih bermimpi, bulir air mata keluar.

“Dlien, bangun, ada telpon dari Jakarta,” ujar Arif sambil merengkuh pundak dengan lembut. Saya yang tengah tertidur dan dininabobokan oleh sebuah mimpi pun terpaksa membuka mata.

“Hah, kenapa? saya gak mau bangun,” ujar saya. Entah kenapa ada bulir air mata yang keluar di sudut mata. “Saya bermimpi ketemu Mbah, by. Jangan bangunkan saya!” ujar saya kencang. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi.

“Telpon dari Hany, penting katanya,” katanya sambil mengarahkan handphone kearah saya yang masih menangis. Perasaan saya campur aduk. Ada perasaan tenang, tapi juga sedih. Entah kenapa.

“Mbak, tante Puni mau ngomong sama kamu, ” kata Hany sembari memberikan handphone ke Tante Puni. Ia adalah anak keenam dari Mbah Rayi dan Mbah Kakung. ‘Anak Ragil’ seringkali Mbah menceritakan Tante Puni. Tentang ketabahannya, tentang keikhlasannya, yang membuat saya salut kepadanya.

“Dlien, Mbah sekarang sudah sakratul maut, nafasnya sudah satu-satu. Keluarga sudah berembuk untuk mengikhlaskan Mbah, tapi kata Mbah Wat, Ibu seperti menunggu seseorang. Kami semua kepikiran kamu. Minggu lalu kamu janji sama Mbah untuk datang kan?” ujarnya panjang lebar. Saya tergugu di pelukan Arif. Tidak mampu mencerna kata-katanya dengan jelas. Tapi satu yang saya paham, bahwa Mbah menunggu saya… Jangan-jangan ini maksud dari mimpi tadi. Saya semakin menangis keras.

Ingatan saya kembali ke hari Minggu, 9 September 2018. Saya menelpon Mbah Rayi yang terbaring di ranjang rumah sakit. Kondisinya saat itu beliau masih bisa merespon kata-kata saya melalui video call. Saya ingat sekali saya berjanji kepada Mbah Rayi untuk datang dan menjenguknya. “Nanti Adlien datang ya Mbah. Kita pergi ke Pasar lagi, Mbah masakin aku lagi. Aku kangen sama masakan Mbah. Pengen lagi makan mie ayam, makan cenil yang kita beli di Pasar Mbah. Mbah jangan lupa jajanin aku lagi ya. Heheh,” ujar saya panjang lebar. Mbah memberikan anggukan dan tersenyum mendengar saya mengatakan hal tersebut. Sembari dibantu Mbah Titi dan Mbah Bandung di sisi Mbah Rayi. Hati saya pun bungah, saya punya harapan untuk bertemu Mbah Rayi di Depok lagi. Saya akan makan makanan enak lagi. Saya akan memeluk Mbah Rayi dan cerita tentang perjalanan saya selama setahun di Belanda. Saya akan pulang demi Mbah!

Ingatan saya buyar ketika mendengar suara Tante Puni lagi. “Dlien, kamu jangan nangis. Kalau kamu nangis kayak gitu, Mbah malah gak tenang. Kamu harus bilang ke Mbah bahwa kamu ikhlas kalau Mbah pergi. Kamu gak usah minta dimasakkin. Kamu harus bilang kalau kamu ikhlas. Tante kasih handphone tapi kamu gak boleh nangis,” ujarnya cepat. Saya masih belum mencerna dengan baik. Saya masih sesugukan kemudian mematikan handphone dengan kasar.

Saya benci harus mengikhlaskan. Saya belum dapat kesempatan bertemu dengan Mbah Rayi sejak setahun lalu. Cucu durhaka ini pun jarang sekali menelpon Mbah. Saya menelpon beliau hanya 4 kali selama setahun. Ya Allah, saya menyesal sekali… Padahal kalau saya di Bogor, saya akan mengunjunginya setiap minggu. Mbah selalu senang jika saya datang di rumahnya. Memijiti kakinya, menemaninya pergi ke pasar, duduk disebelahnya saat nonton acara Mamah Dedeh, dan jadi pendengar ceritanya yang setia. Mbah selalu mengatakan “Dlien, kamu harus jadi orang yang bermanfaat bagi negara, nusa bangsa dan agama, jangan tinggalkan shalat, banyak berdoa di sujud terakhir setiap kali shalat,” ujarnya begitu saat kami berpisah di Bandara Soekarno Hatta setahun lalu.

Dan sekarang saya harus mengikhlaskan sosok yang banyak memberikan petuah dalam hidup saya dengan semudah itu? No no no. Big no. Saya sempat mematikan HP, tak ingin dihubungi oleh keluarga diseberang sana. Arif memberikan penjelasan dengan hati-hati. Ia tak ingin melukai. Tapi tau apa dia tentang kedekatan saya dengan Mbah. Kami berbagi cerita, kami berbagi kisah. Tau apa Arif? Saya marah dan juga sedih. Saya hanya bisa menangis dan berharap telpon tadi tak pernah ada.

Saya membenci diri saya sendiri. Kenapa saya bisa sebegitu naif untuk berharap Mbah terus ada. Kenapa saya susah untuk melepaskan Mbah? Pikiran saya terus berputar tentang cerita dan kisah Mbah. Kebaikan Mbah pada orang lain, tak seharusnya saya memaksakan kehendak saya, padahal Mbah lagi dalam keadaan yang sedang payah dan harus diikhlaskan. Saya merapal Al Fatihah untuk menenangkan diri. Arif menyediakan segelas air putih.

Setelah dua puluh menit saya menenangkan diri. Akhirnya saya memberanikan diri untuk menelpon kembali. Bulir air mata sudah saya usap. Saya pun membisikkan kata-kata ke telinga Mbah melalui telpon “Mbah, Adlien ikhlas kalau Mbah pergi. Nanti Adlien pergi ke pasar sendiri. Nanti Adlien yang masak sendiri, Mbah. Adlien gak apa-apa kalau Mbah pergi, insya Allah Adlien ikhlas, Mbah. Mbah yang tenang yaa.. Insya Allah Adlien akan doakan Mbah terus,” ujar saya terbata-bata.

Setelah telpon itu, saya hanya bisa membaca doa dan membaca surat Yaseen. Saya masih percaya dengan keajaiban. Mbah selalu mengatakan “Alhamdulillah selama 20 tahun Mbah gak pernah sakit, dlien.” Jadi saya yakin ini hanya bayaran selama 20 tahun, dan setelahnya Mbah akan pulih seperti sedia kala.

Namun detik berganti jadi menit, menit berganti jadi jam. Saya mendapatkan video call dari seberang. Ayah. Beliau menghubungi saya agar saya bisa melihat bagaimana keadaan Mbah di saat terakhir. Seluruh cucu dan anaknya berada disisinya. Seorang dokter dan dua orang perawat berjalan menuju dipan Mbah. Dokter membuka mata Mbah dan melihat denyut nadinya. “Innalillahi wa innalillahi rajiun” terdengar menggema di dalam ruangan. Saya hanya bisa menangis lagi. Karena saya sudah berjanji bahwa saya ikhlas.

Satu ruangan ikut menangis. Saya bisa merasakan kesedihan yang mendalam ketika Mbah akhirnya pergi. Karena bagi kami Mbah adalah suri tauladan. Beliau yang membaktikan dirinya untuk menjadi guru hingga puluhan tahun lamanya. Kebaikannya dalam menyebarkan ilmu sudah menyebar seantero Indonesia. Anak muridnya di berbagai daerah ikut mendoakannya. Allahummagfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fu Anha.

Dan benarlah kata Khalil Gibran “Cinta tak menyadari kedalamannya, sampai tiba saat perpisahan”…

Mbah Rayi wafat di RS Hermina, Depok hari Jumat tanggal 14 September 2018 jam 15.00 WIB, dua hari sebelum saya tiba di Jakarta. Mbah meninggalkan 12 anak menantu, 37 cucu, dan 2 cicit. Kemudian dimakamkan pada hari Sabtu 15 September 2018 di sebelah makam Mbah Kakung di TPU Kalimulya 1. Mbah Rayi sudah menanti 20 tahun untuk akhirnya ‘bersanding’ kembali dengan Mbah Kakung. Mbah Rayi meninggal di hari yang sama dengan tanggal kelahiran di KTP.

 

Mbah, maafkan cucumu yang tak sempat merengkuh tanganmu. Yang tak sempat meminta maaf padamu atas kejahilan dan kenakalan saya semasa dulu. Mbah, Adlien kangen banget sama Mbah. Semoga Mbah Rayi dan Mbah Kakung berbahagia ya disana. Insya Allah kita akan bertemu suatu hari nanti. Aamin ya rabbal alamin. Al fatihah..

 

ditulis di A-15 Beringhem, Bennekom

8:11 AM, Friday 5 Oktober 2018

Tiga minggu setelah kepergian Mbah Rayi. Al fatihah..

You may also like

2 Komentar

  1. Semoga Almarhumah Mbah dimasukkan kedalam syurganya dan berkumpul dgn orang-orang Sholeh
    Aamiin.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.