Ketika Bahasa Ibu Mati

Sebenarnya tulisan ini adalah sebuah rintihan hati dan sedikit refleksi kepedulian terhadap bahasa daerah yang ada di Indonesia. 
Menurut catatan sebuah ensiklopedi terbitan tahun 2004, bahasa di Indonesia sekitar 725 bahasa ibu dan dialek di Indonesia. didominasi dengan bahasa Jawa (75 juta), Sunda (27 juta), Madura (mendekati 14 juta), dan Malay (10 juta). Bahasa lainnya digunakan oleh lebih dari 1 juta orang, dimulai dari Minangkabau, Bali, Bugis, Aceh, Batawi, Banjar, Sasak, Toba Batak, Chinese dengan beragam dialek, Makasar, Lampung, Dairi Batak, dan Rejang (Library of Congress – Federal Research Division, 2004).
Namun saat ini banyak kaum muda yang tidak mengerti lagi bahasa ibu mereka. Contoh sederhana adalah saya, hidup sebagai orang Indonesia dan mengaku memiliki darah Padang, Ambon, Jawa Tengah, namun tidak paham dengan bahasa tersebut. Saya tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai ketiga bahasa ibu dan ayah tersebut.  Karena memang di dalam keluarga, kita tidak dibiasakan menggunakan bahasa daerah. Belum lagi ketika saya kecil, saya tidak diajarkan kenapa saya harus belajar bahasa daerah. Saya pun bermalas-malasan belajar Bahasa Sunda, saat itu menjadi salah satu bahasa yang wajib dipelajari. Alhasil pengetahuan saya mengenai bahasa sunda saat ini sangat minim. 
Kekesalan saya terhadap diri saya karena tidak belajar bahasa daerah dengan baik memuncak ketika saya bepergian ke suatu daerah. Padahal di daerah tersebut banyak orang Bugis, namun saya selama lima tahun tinggal di Makassar tidak mempelajarinya. Saya hanya mampu mengucapkan logat Makassar yang sangat umum, seperti penggunaan “Ki, Mi, Ji, Ki, Di,” dan imbuhan lainnya. Itu sangat menyedihkan. 
baju Ambon. source : google

Saya harusnya bisa lebih baik daripada itu. Saat ini saya sedang tinggal di Ambon, mencoba mempelajari bahasa Uli Solamata yang sering digunakan di Tulehu, kampung Nenek saya. Namun sudah 10 bulan tinggal di Ambon, saya tetap tak mampu menggunakan bahasa tersebut dengan aktif. Hanya beberapa kata saja, seperti Pamana yang artinya makan. Hahaha. Makan adalah kalimat sakral yang harus kalian hafal jika bepergian di tempat baru. Soalnya ini masalah perut bro. 😀

Ini murni curhatan hati saya, tapi ternyata ada beberapa anak muda yang memiliki semangat untuk tetap mempromosikan bahasa daerah. Tengok saja akun @bolangmks yang memuat jokes-jokes alas Sulawesi Selatan. Saya bangga dengan cara mereka dalam mempromosikan bahasa daerah mereka. Salut! Mereka membuat bahasa dan logat Makassar jadi lebih dikenal. Dengan humor yang kental membuat mereka jadi dikenal. Saya suka Abu dan Tuming. Eh.. 
Selain dengan cara humor, ada beberapa anak muda kreatif di berbagai penjuru Indonesia yang memperkenalkan bahasa aslinya melalui desain kaos. Misalnya saja di anak muda Ambon yang membuat bahasa Ambon menjadi terkenal melalui kaos asli. Kaos-kaos ini banyak ditemui di toko-toko distro Ambon. Selain itu di Bandung dan Makassar juga memiliki kaos-kaos dengan bahasa asli. 
Tak banyak anak muda yang ingin mempertahankan bahasa daerah mereka. Apalagi di tengah bahasa Jakarta yang bertebaran di televisi. Sehingga ada cap bahwa, jika tidak bicara lo gue, maka akan dianggap ketinggalan jaman. Jadi jangan heran ketika kalian ke Ambon, seringkali ada beberapa anak daerah yang bicara lo gue. Hiks. Padahal beta suka sekali bahasa Ambon. 
Tulisan ini ditulis di Harta Samudra sambil dengar lagu Reminds Me of You milik Sam Smith yang berulang-ulang
Monday, 13 April 2015, 6:48 PM

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *