Kisah Segelas Kopi Susu di Kedai Kopi

kopi dan roti goreng. Tapi sayangnya ga enak kalau sendirian #curhat
Sebab Tuhan selalu punya cara yang indah untuk membuat hambaNya selalu tersenyum meski dalam tangis sekalipun. Bukankah kopi itu akan terasa pahit jika tak berkolaborasi dengan gula. Gula juga tak akan terasa nikmat jika tak bercampur dengan kopi. Maka pahit dan manis itu adalah karya alam. – Dian Nafi
Kopi menjadi salah satu minuman yang merakyat. Dimana-mana kita bisa dengan mudah menemukan penjual kopi di jalanan. Mulai dari kopi hitam biasa, kopi susu, kopi tubruk, kopi Luwak, kopi Aceh, kopi Toraja, dan kopi yang baru saya dengar kopi Rarobang. Sangat banyak jenis kekopian yang ada di seluruh penjuru nusantara. Sejarah mencatat bahwa kopi hanya ada di Ethiopia dataran tinggi. Kemudian bangsa Arab mulai ekspansi bisnisnya hingga mencapai Afrika Utara. Dari sanalah biji kopi mulai ditanam secara massal dan mulai dikenal sebagai minuman dari Asia hingga Eropa. 
Untuk sejarah kopi di Indonesia sendiri dibawa oleh kolonial Belanda pada tahun 1696. Jenisnya saat itu adalah kopi arabika yang ditanam di daerah Jatinegara, yang menggunakan tanah pertikelier Kedaung yang kini lebih dikenal dengan nama Pondok Kopi. Kemudian kopi arabika ini menyebar ke daerah lainnya, hingga akhirnya menyebar ke pulau lainnya. 
Kebiasaan meminum kopi yang dibawa Belanda menjadi salah satu tradisi yang tetap dipertahankan hingga saat ini. Untuk di Negeri Para Raja-raja sendiri banyak bertebaran kedai kopi mulai yang berada di kota ataupun di pelosok daerah. Tapi kali ini saya akan menceritakan sedikit kisah tentang segelas kopi di daerah kota Ambon. 
Mungkin bagi penggemar kopi tubruk, nama Warung Kopi Tradisi Joas sudah dirapal setiap hari ketika memulai aktifitas. Terletak di Jalan Said Perintah, kedai kopi ini sudah mulai sibuk mulai pukul 7 pagi. Jika melihat bentuknya dari luar, terasa seperti kedai kopi kebanyakan, tak istimewa. Motor berjejeran, orang-orang berkumpul dan asap rokok yang mengebul. Inilah kedai kopi, bung
Pak Minggus, sosok dibalik segelas kopi susu yang enak. 😀
Suara gumaman dan tawa terdengar dari kedai yang dibagi menjadi tiga ruang. Ruang depan yang digunakan untuk pintu masuk, kemudian ruang tengah yang terdiri dari beberapa kursi dan sisanya adalah bagian belakang kedai yang lebih besar. Di bagian belakang kedai terdapat bar tempat barista meracik kopi. Sebuah pohon mangga terlihat menjulang di tengah ruangan, membuat kesan sejuk. 
Saya mendapatkan tempat duduk di ruang tengah. Di samping saya duduk keluarga yang menikmati sorenya. Tak selang berapa lama, seorang pramusaji datang dan menanyakan pesanan. Awalnya saya bingung untuk menentukan jenis kopi yang harus saya pesan. Karena beliau tidak memberikan daftar menu untuk dipilih. Spontan saya bertanya kopi apa yang paling sering dipesan di kedai ini. Ia pun menjawab, “Kopi susu, mbak”. Saya menyetujui pilihan mbak tersebut, saya memilih kopi susu dingin. 
Selama menunggu pesanan, saya menyempatkan untuk menemui barista yang ada di bar. Seorang bapak tua mencampur kopi bubuk dengan air panas. Ia terlihat sangat cekatan mengambil air yang sedang dijerang. Kemudian memasukkan krimer di dalam gelas. Ia memperkenalkan diri sebagai Pak Minggus yang sedang piket pada hari minggu ini. Ia adalah barista utama selain Pak Joas, sang pemilik kedai. 
Menurutnya biji kopi didatangkan dari dataran Sulawesi, karena di Maluku tidak terkenal dengan kopinya. Kedai kopi ini menggunakan biji kopi arabika dan robusta, kemudian dicampur rempah-rempah, sehingga rasanya lebih legit. Untuk menambah cita rasa, mereka menggiling sendiri biji kopinya. Sehingga mengetahui takaran bubuk kopi yang dibutuhkan untuk menciptakan segelas kopi nikmat. 
Di dalam barnya ada beberapa teko besi setinggi satu meter yang diletakkan di atas kompor. Kopi inilah yang akan disajikan ketika ada yang memesan. Pak Minggus akan memasukkan kopi tersebut di dalam gelas dan diberikan krimmer, tanpa gula. Inilah yang menciptakan rasa legit dan pahit yang tepat. Saya yang tak terlalu candu dengan kopi, tiba-tiba menjadi adiksi dengan kopi susu dingin ini. Takaran yang tepat antara kopi dan krimer, membuat saya tak berhenti mencecap. 
Penampakan depan Warung Kopi Joas
Menikmati kopi disini tak afdol jika tak menyertakan kudapan khas Ambon. Sebut saja pofertjes, sukun goreng, kasbi goreng, pisang goreng, roti goreng, pulut, dan gogos. Saya suka pofertjes, tektursnya mirip kue apem dan tidak terlalu manis, rasanya cocok di lidah. Tapi menurut teman yang sering ke Joas, menikmati kopi susu panas dan sepiring sukun goreng atau pisang goreng terasa lebih nikmat.
Karena sukun dan pisang sudah direndam di air garam sebelum digoreng, dan membuat terasa renyah. Selain itu porsinya besar dan bisa dinikmati bersama dengan teman. 
Kedai kopi yang sudah berdiri sejak tahun 2001 ini juga menjadi saksi sejarah bagaimana rekonsiliasi pasca kerusuhan berlatar agama. Setelah kerusahan menggempur Ambon, beberapa perwakilan dari pihak bertikai melakukan pertemuan di kedai-kedai kopi. Disanalah perbincangan mencari solusi dan kedamaian dimulai. Mulai dari aktifis, jurnalis, akademisi, pengamat dan berbagai profesi lain yang terikat untuk mencari kata damai. Slogan Kitorang Basudara rasanya bergema di kedai kopi ini…
Dan saat ini, kedai kopi ini tetap menyatukan semua kalangan, mulai dari anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, dan orang tua. Merekalah orang-orang yang terlibat langsung dan tidak langsung dengan konflik tersebut. Menyembuhkan luka dari trauma dan berusaha mendamaikan jiwa.  Semoga… 
ditulis di Harta Samudra, 23 Februari 2015 
6:57 PM sambil nunggu hujan yang mengguyur Ambon sore ini.
Note : Jangan pernah ke Warung Kopi Joas sendirian. Jangan pernah! Jangan pernah! 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *