Lamun Sehat, Duyung pun Selamat #DuyungmeLamun

Mari Berkenalan dengan Duyung

Dugong dugon atau yang jamak disebut dugong atau duyung ini memiliki panjang 3 meter dan memiliki berat ratusan kilo ketika sudah mencapai umur dewasa. Rekor terberat seekor duyung adalah 1.016 kilogram dengan panjang 4,06 m di India. Ia terlihat seperti ikan yang gemuk tapi tanpa sirip belakang. Seringkali orang mengganggap duyung seekor ikan karena ia bergerak dengan cara berenang. Cara berenangnya juga cukup unik. Ia menggerakkan ekornya yang pipih naik dan turun sehingga memberikan daya dorong baginya untuk berenang maju ke depan walaupun gerakannya sangat lambat.

Duyung memiliki  sepasang sirip yang tebal dan bertulang bagai lengan dan jari-jari, yang dapat berfungsi sebagai dayung penyeimbang bila berenang. Sirip tebal inilah yang ia gunakan saat mencari makan di dasar laut, sirip tebalnya dapat menopang tubuhnya untuk merayap ketika mencari makan (Nontji, 2015).

Duyung masuk dalam kategori hewan mamalia, karena ia menyusui anaknya yang masih bayi. Hampir sama dengan kasih seorang Ibu manusia, ibu duyung sangat akrab dengan anaknya hingga anaknya bisa mandiri dalam mencari makanan bagi dirinya. Di ketiak kedua siripnya terdapat puting susu, yang sangat penting untuk menyusui anaknya. Hewan ini sering terlihat berkelompok sekitar 2-5 duyung bersamaan sedang mencari makan di padang lamun.

 

infografis : adlienerz.com | images : google.com

Sejarah tentang Duyung di Masyarakat

Awalnya saya berpikir bahwa duyung telah punah dan hanya sekedar mitos, tapi ternyata ia masih ada. Saya baru mengetahuinya ketika pergi ke Sangihe, pulau terdepan Indonesia. Disanalah saya berkenalan dengan banyak nelayan dan mereka menceritakan tentang duyung ini. Sejak saat itu saya selalu berpikir bahwa duyung merupakan hewan endemik disana. Ternyata saya salah.. Ada beberapa tulisan yang mengatakan bahwa dugong bisa ditemukan di beberapa daerah di Indonesia.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah “dimanakah dugong dapat dijumpai di Indonesia?” Pertanyaan ini tak mudah dijawab karena kurangnya bukti ilmiah, selama ini belum ada survey menyeluruh tentang duyung di Indonesia. Hal ini lebih banyak berdasarkan anecdotal (cerita dari orang lain), cerita turun termurun atau fable (kisah binatang). Namun berdasarkan survey, saat ini duyung masih tersebar di daerah Sulawesi hingga Papua. Menurut Nontji dalam bukunya Duyung bukan Putri Duyung, ia mengatakan mungkin benar di suatu daerah pernah ada atau banyak dugong, tetapi kini sudah sangat jarang ditemui, atau mungkin malah telah punah di lokasi setempat.

Menurut Marsh (2002) misalnya menyebutkan bahwa pada tahun 1970-an diperkirakan jumlah populasi dugong di Indonesia adalah sekitar 10.000 ekor, sedangkan pada tahun 1994 diperkirakan sekitar 1.000 ekor. Namun ini tak bisa ditafsirkan sebagai bukti yang kongkrit berkurangnya populasi dugong, karena banyak didasarkan pada asumsi-asumsi dan informasi anecdotal. Dari berbagai informasi yang ada tampaknya terdapat kecenderungan umum bahwa jumlah populasi dugong di banyak daerah di Indonesia memang semakin mengalami penyusutan drastis meskipun sulit untuk dikuantifikasikan.

Contoh lain adalah tulisan dari de Iongh (2009) yang mengatakan bahwa adanya tulang-belulang dugong di pemukiman penduduk Pulau Siberut (sebelah barat Sumatra), yang digantung di rumah-rumah penduduk sebagai azimat untuk menolak bala, dan gading dugong yang diukir indah, yang merupakan simbolisasi leluhur mereka. Tetapi apakah sekarang dugong masih ada disana, merupakan pertanyaan yang belum terjawab dengan tuntas.

Selain itu kurangnya pendataan duyung secara langsung membuat informasi tentang duyung di Indonesia sangat sedikit. Kebanyakan duyung yang tertangkap oleh nelayan, seringkali tak didokumentasikan bahkan dikonsumsi oleh penduduk setempat. Misalnya saja kejadian yang baru-baru ini terjadi di Sulawesi Barat, seekor duyung jadi konsumsi warga. link : duyung terdampar

Pendataan yang bisa dilakukan kedepannya akan sangat membantu pemetaan lokasi duyung. Tak hanya itu, kedepannya bisa dilakukan sebagai penelitian kedepannya menggunakan teknologi transmitter migrasi duyung untuk melihat alur migrasi hewan ini. Sehingga lokasi duyung sendiri bisa mudah terpetakan untuk membantu proses konservasi duyung.

infografis : www.adlienerz.com | images : Nontji, 2015

Penyebutan Dugong di berbagai daerah

Dugong yang kita kenal memiliki nama yang berbeda-beda di setiap daerah. Pada awalnya, Duyung atau Duyong merupakan penyebutan dalam Bahasa Melayu. Namun lama-kelamaan nama inilah yang melekat pada penyebutan Dugong. Maka tak heran jika WWF dan DSCP membuat kampanye #DuyungmeLamun agar semakin banyak orang yang mengenal Duyung dan menghilangkan stigma mitos yang melekat dalam penyebutan duyung.

Sedangkan di tempat lainnya ada nama yang berbeda-beda, di Maluku Utara disebut Kobo, masyarakat Bajo menyebutnya sebagai Dioh. Di Pinrang, Sulawesi Selatan orang menyebutnya Bale Duyung. Di Sumatera banyak yang menyebutnya sebagai Babi Laut. Untuk di Sulawesi Barat dan Sulawesi Utara cenderung menyebutnya sebagai Lulung atau Dulung.

infografis : adlienerz.com | images : google.com

Interaksi antara Duyung dan Lamun di perairan

Duyung sendiri memiliki banyak fungsi selama ia tetap berada di laut. Karena duyung membantu persebaran bibit lamun ke beberapa daerah. Karena duyung selalu bermigrasi ke tempat-tempat baru, ia juga membawa bibit lamun ke tempat-tempat baru tersebut. Dalam kasus ini, hampir sama dengan fungsi lebah dalam proses penyerbukan pada bunga. Selain itu ia juga membantu menyuburkan tanah untuk lamun bereproduksi kembali, karena dugong mengais-ngais pasir dan membuat nutrient terus terbarui.

Dengan padang lamun yang sehat, hal ini membuat daerah nursery ground (tempat memijah) bagi ikan-ikan kecil dapat membantu ekonomi masyarakat. Ada beberapa jenis ikan komersial seperti ikan baronang, ikan kakap dan lainnya yang memijah di padang lamun.  Jika padang lamun hilang, bisa dipastikan ikan-ikan tak punya tempat untuk memijah untuk membuat generasi yang baru. Secara tidak langsung duyung membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat ketika ia tetap berada di laut.

Tak hanya itu, duyung pun bisa menjadi atraksi wisata edukasi perairan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Hal ini bisa dilakukan dengan harapa semakain banyak orang agar memahami pentingnya duyung tetap berada di lautan lepas.

Saat ini Bupati Alor telah mengeluarkan Peraturan Bupati mengenai pariwisata dugong di Alor. Menurut perspektif saya, pengeluaran peraturan ini sebuah kemajuan bagi Indonesia dlam melindungi dugong di alam liar. Bisa lihat peraturan baru tentang dugong disini.

Dalam hidupnya, duyung sangat suka memakan lamun-lamun jenis tertentu, misalnya : Halodule uninervsis, H. pinifolia, Syringodium isoetifolium. Halophila ovalis. H. spinulosa, Cymodocea rotundata, C. serrulata.Thalasia hemprichii dan Zostera capricorni (Preen, 1993 ; Lanyon et. al., 1989).

infografis : www.adlienerz.com | images : google.com
infografis : adlienerz.com | images : google.com

Konservasi Duyung di Indonesia

Dalam mencegah kepunahan duyung di perairan Indonesia, saat ini sudah ada beberapa undang-undang untuk melindunginya yaitu Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya. Selain itu, ada juga Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Namun nyatanya masih saja ada praktek yang tidak ramah lingkungan dan mengancam status kehidupan duyung di masa depan.

Masih banyak masyarakat yang menganggap duyung sebagai bahan makanan. Duyung juga berpotensi punah karena kesalahan manusia secara tidak langsung, misalnya membuangan sampah sembarangan, menghancurkan padang lamun karena aktifitas kapal.

Karena itulah, untuk mencegah kepunahan duyung di Indonesia ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai manusia. Beberapa hal yang bisa kita lakukan demi #duyungsehat :

  • Perhatikan keberadaan lamun di sekitar anda. Jaga kelestariannya dengan tidak membuang sampah, tidak menaruh jangkar di atas lamun, dan tidak melakukan penimbunan di kawasan lamun (reklamasi)
  • Berhati-hatilah saat mengemudikan perahu di daerah di mana dugong berada atau migrasi. Hal ini diharapkan bisa mengurangi tabrakan antara kapal dan dugong.
  • Jika dugong berada di kawasan turis jangan berenang terlalu dekat, jika ingin melihat mereka, mereka harus didekati dengan perlahan dan tenang dan tidak dikejar.
  • Hentikan atau kurangi perburuan duyung. Pembunuhan dugong bertentangan dengan hukum di banyak negara. Memastikan bahwa hukum dipatuhi akan membantu dugong bertahan hidup.
  • Jangan membuah jaring ikan secara sembarangan, karena ada kemungkinan dugong bisa terjerat jaring tersebut.
  • Jika dugong ditemukan dalam jaring, segera lepaskan. jangan bawa ke daratan apalagi dimakan.
  • Jangan membuang sampah, terutama plastik, ke laut karena ada kemungkinan plastic terurai menjadi mikro plastic dan masuk ke dalam saluran pencernaan dugong
  • ikut mengkampanyekan penghentian perburuan duyung demi daging, minyak, taring dan air matanya.
sumber : adlienerz.com

Inisiatif dalam upaya menyelamatkan duyung

My Dugong – Papua New Guinea

Proyek ini membantu masyarakat dengan memberikan micro finance bagi nelayan agar tidak melakukan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Mereka juga membantu nelayan agar menggati alat tangkap yang tidak ramah lingkungan menjadi ramah lingkungan (artisanal fisheries). Dengan pemberian bantuan, diharapkan masyarakat tidak mengonsumsi duyung lagi di kehidupan sehari-hari. Karena duyung menjadi salah sumber makanan, sehingga dibutuhkan alternatif sumber makanan sebagai pengganti duyung.

Dugong Friendly Seafood – Mozambique

Saat ini sertifikasi perikanan yang menjanjikan bahwa cara penangkapannya tidak menyakiti mahluk hidup tertentu menjadi sangat menjanjikan. Seperti yang telah dilakukan oleh Dolphin Safe untuk menjamin keselamatan lumba-lumba saat ditangkap oleh nelayan. Bagi nelayan yang mendapatkan sertifikat tersebut dijamin tidak menyakiti lumba-luma dalam proses penangkapan ikan di laut. Target penjualan ikan yang mendapatkan sertifikasi ‘dugong-friendly’ adalah turis-turis yang makan di restoran seafood.

Proyek Konservasi Dugong dan Lamun (DSCP) – Indonesia

Untuk di Indonesia sendiri sudah ada salah satu upaya dalam konservasi dugong dan lamun yaitu menghadirkan Proyek Konservasi Dugong dan Lamun (Dugong and Seagrass Conservation Project atau DSCP). Proyek yang dibiayai oleh Global Environment Facility (GEF) yang dimulai bersama United Nation Environment Programme – Convention on the Conservation of Migratory Species (UNEP-CMS) bekerjasama dengan Mohammed bin Zayed Species Conservation Fund (MbZ). Karena dugong tersebar bukan hanya di Indonesia, ada beberapa negara yang ikut masuk dalam proyek besar ini yaitu Indonesia, Madagaskar, Malaysia, Mozambik, Kepulauan Solomon, Timor Leste, Vanuatu, dan Abu Dhabi.

DSCP sendiri bertujuan konservasi dugong dan lamun di berbagai daerah dengan mengedepankan 4 prioritas pendanaan yaitu incentivs, research, policy, education and awareness. Saat ini DSCP sudah melakukan program yaitu Community based conservation and management of dugong and seagrass habitat in Bintan, Alor, Tolitoli and Kotawaringin Barat, Indonesia (ID3) dan Improving national awareness and research of dugong and seagrass in Indonesia (ID2). Kedua program ini dibuat untuk meningkatkan kepedulian masyarakat lokal dengan dugong dan lamun, meningkatkan kapasitas penelitian tentang dugong dan lamun, membuat metodologi standar dan guidelines untuk carbon ekosistem budget dan metodologi penelitian berstandar nasional untuk dugong. Selain itu diharapkan bisa meningkatkan database dugong dan lamun di Indonesia sehingga dugong bisa dikonservasi secara menyeluruh.

Salah satu program DSCP untuk mengenalkan masalah dugong dan lamun adalah melalui lomba blog yang sedang saya ikuti ini. Dengan memberikan lebih banyak informasi kepada masyarakat tentang dugong diharapkan berkurangnya misinformasi mengenai dugong dan lamun. Selain itu, DSCP juga memberikan beberapa poster yang sangat menarik ataupun video sebagai media edukasi kepada masyarakat.

sumber : https://www.facebook.com/dscpindonesia

Saran untuk Program DSCP Indonesia

Apa yang dilakukan oleh DSCP Indonesia sudah sangat bagus, dari sinilah saya ingin memberikan beberapa saran yang telah saya lihat dari berbagai sudut pandang dalam melakukan kampanye.

  1. Mengajak local heroes untuk mengkampanyekan tentang dugong. Hal ini mungkin agak sulit untuk mengidentifikasi di setiap daerah, tapi dengan cara seperti ini bisa meningkatkan awareness bagi orang yang lain. Misalnya saja Pak One yang ‘berteman’ dengan dugong di Alor. Local Heroes bisa jadi role model bagi masyarakat sekitar dalam melindungi populasi dugong dan juga kesehatan padang lamun. Ataupun mengajak partisipasi masyarakat secara aktif dalam melaporkan keberadaan duyung. Misalnya saja Pak Masrie yang melaporkan keberadaan duyung di Sulbar melalui media sosial
Duyung diarak dan dimakan. sumber : FB Yusri Masrie
  1. Membuat komunitas peduli dugong. Mencontoh cara GenPi dalam menyuarakan keindahan pariwisata Indonesia melalui media sosialBisa dicoba cara GenPi, yang sangat aktif dalam menyuarakan keindahan pariwisata Indonesia di media sosial.
  2. Membuat media interaktif tentang dugong dan lamun yang bisa diajarkan di sekolah bagi anak-anak. Produk interaktif bukan hanya video, foto ataupun tulisan, tapi dibarengi dengan games-games edukatif dan interaktif untuk anak-anak. Karena masa depan dugong dan lamun juga menjadi masa depan mereka. Selain itu memperkenalkan kelas-kelas interaktif (e-learning) di dalam website DSCP, misalnya saja website milik IEF yang berisi content-content mengenai Development Goals
  3. Membuat sertifikat dugong-friendly dalam skala lokal untuk produk-produk seafood yang dijual di ibukota Jakarta. Menyasar segmen pasar menengah ke atas, sertifikasi ini bisa dikolaborasikan dengan program WWF yaitu Seafood Saver.
  4. Memberikan awareness kepada nelayan mengenai mitigasi dan pencegahan ketika dugong secara tidak sengaja masuk ke dalam jaring mereka.
  5. Memberikan rambu-rambu bagi duyung jika duyung terlihat di suatu kawasan agar masyarakat tidak mendekat ataupun menangkap dugong tersebut. Hal ini telah diterapkan di beberapa kawasan seperti Australia ataupun Hawai ketika ada hewan mamalia laut yang mendekat di garis pantai.
papan peringatan untuk anjing laut di Hawai

Semoga dugong tetap lestari karena ia membantu ekosistem padang lamun untuk tetap sehat. Jika Lamun Sehat maka Duyung pun Selamat dari kepunahan. Mari bantu DSCP untuk terus mengkampanyekan keselamatan duyung #DuyungmeLamun . Demi Lamun Sehat, Duyung Selamat

 

ditulis di Forum Library

19:10 CET Thursday, 24 May 2018

sambil baca-baca tentang tuna fishery

 

 

References :

Preen, A. 1993. Dugong : cultivation grazers of sea grass (Abstrak) Sirenews 20 : 14- 15.

Lanyon, J.M., C.J. LIMPUS and H. MARSH 1989. Dugong and turtles : grazers in the sea grass system. In : Biology of sea grass : a treatise on the biology of sea grass with special responses to the Australian region (A.W.D. Larkum, A. J. McComb and S.A.Shepeedek. Elwsevier Science Pulb. Amsterdam : 610 – 634.

DSCP (2017) retrieved on 24 May 2018 from : http://www.dugongconservation.org/about/mission/

Nontji, A. (2015) Dugong bukan Putri Duyung retrieved from : http://oseanografi.lipi.go.id/datakolom/Dugong%20Bukan%20Putri%20Duyung.pdf. on 24 May 2018

de Iongh, H. H., M. Hutomo, M. Moraal and W. Kiswara. 2009 a. National conservation strategy and action plan for the dugong in Indonesia. Part I. Scientific Report, Institute of Environmental Sciences Leiden and Research Centre for Oceanography, Jakarta: 38 pp.

Marsh, H., H. Penrose, C. Eros, and J. Hugues. 2002. Dugong Status Report and Action Plan for Countries and Territories. UNEP. Early Warning and Assessment Report Series: 162 pp.

 

Dan berikut ini adalah bonus video dari senior yang berada di Papua (kak Rehvqi)

Video_2

 

You may also like

3 Komentar

  1. terima kasih mbak atas apresiasinya. mantapp. mari kita sosialisasikan dugong agar lebih banyak orang yang mengetahui tentang hewan lucu ini hehe

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.