Melihat Proses Pengerjaan Jakarta MRT di Kedalaman 30 Meter

Dengan penduduk lebih dari 9 juta jiwa, Jakarta merupakan kota yang terus berkembang dari hari ke hari. Tingkat kepemilikian kendaraan bermotor juga sangat tinggi. Tercatat ada lebih dari 17.523.967 kendaraan bermotor di Jakarta (Samsat, 2014). Dan pertumbuhan kendaraan bermotor mencapai angka 9,5 persen per tahun, sekitar 4.000 motor. Sedangkan pertumbuhan jalanan hanya sekitar 0,01 persen (Antaranews, 2014).

Fenomena pertambahan kendaraan bermotor ini memungkinkan timbulnya gridlock di Jakarta. Gridlock merupakan kemacetan yang benar-benar membuat kendaraan tidak bisa berjalan. Hal ini mulai kita lihat di Jakarta, banyak jalanan yang benar-benar mengalami kemacetan dan tidak bisa bergerak selama beberapa jam. Jakarta sudah dinobatkan menjadi kota dengan kemacetan terparah di dunia.

Sudah beberapa cara dilakukan agar mengurangi kemacetan di Jakarta, misalnya sistem jalan satu arah, sistem ‘three in one’, nomor plat ganjil genap, dan beberapa cara lainnya, tapi toh macet tetap terjadi. Hingga tak heran jika kita sering mendengar lelucon “bukan Jakarta namanya kalau tidak macet,” . Macet di Jakarta sudah dianggap lumrah oleh banyak orang. Padahal banyak kerugian yang dihasilkan dari kemacetan. Bank Dunia menilai dengan kemacetan parah yang terjadi di Jakarta, sekitar 39,9 T hilang setiap tahunnya. Padahal dengan dana segitu besar, hal ini bisa dibuat untuk membuat fasilitas-fasilitas lainnya.

Sebenarnya sudah banyak yang bisa menduga, Jakarta butuh Mass Rapid Transit (MRT) untuk menjadi solusi kemacetan. Kurangnya publik transportasi yang baik membuat banyak masyarakat lebih memilih untuk mempunyai kendaraan pribadi. Jika publik transportasi diperbaiki, masyarakat akan memilih sebuah moda transportasi yang cepat, murah dan mudah.

Jakarta MRT menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kemacetan dan mencegah gridlock di Jakarta. Tahun 2009, pembangunan MRT mulai disosialisasikan dan di tahun 2013 pengerjaan groundbreaking diresmikan oleh Pak Jokowi. Padahal ide pembangunan MRT ini sudah dimulai sejak 20 tahun yang lalu. Namun karena banyaknya alasan, salah satu alasan utama penundaan dalam mengatasi masalah ini adalah krisis ekonomi dan politik 1997-99 yang membuat ide ini tertunda. Pembiayaan MRT ini didanai oleh kerjasama pemerintah Indonesia dengan pemerintah Jepang.

dibawah bundaran HI ada terowongan untuk MRT
masuk ke bawah tanah

Hingga akhirnya saat ini pembangunan MRT sudah memasuki 67% dan akan beroperasi pada tahun 2019. Tepatnya pada bulan Maret 2019. Yeay! Saya berkesempatan melihat proses pembangunan MRT yang terletak di kedalaman 30 meter dibawah Jakarta. Kami memasuki jalur pembangunan fase 1 di Bundaran HI. Jalur ini akan digunakan MRT hingga ke Lebak Bulus. Nanti jika ini sudah jadi, waktu tempuh dari Bundaran HI ke Lebak Bulus hanya memerlukan waktu 30 menit saja. Keren bukan? Setelah pembangunan fase 1, pihak Jakarta MRT akan melanjutkan pembangunan fase 2 dari Bundaran HI ke Kampung Bandan.

Nanti akan ada dua tipe jalur yang dilalui oleh MRT, jalur di bawah tanah dan jalur di atas tanah. Jalur di bawah tanah ini terletak di kedalaman 30 meter. Awalnya saya kepikiran bagaimana jika Jakarta banjir dan rel terendam? Ternyata pihak Jakarta MRT sudah memiliki mekanisme penghadangan banjir. Sehingga para penumpang tak perlu khawatir jika banjir datang. Sedangkan jalur di atas tanah akan dibangun jauh lebih tinggi daripada jalan biasa. Hal ini membuat penumpang tak perlu khawatir terjebak macet seperti Transjakarta. Hehehe

Jalur yang dibangun ini mencapai 16 kilometer dari Bundaran HI ke Lebak Bulus. MRT akan melewati 7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah. Akan ada 16 armada MRT yang dioperasikan dan diharapkan mampu menampung hingga 1.800 penumpang setiap set nya. Keren bukan? Oia, kedepannya MRT akan disinergikan dengan moda transportasi publik yang lain seperti Kereta Api dan Transjakarta. Sehingga memudahkan penumpang untuk menyambung kendaraan lain setelah menaiki MRT. Mudah bukan?

bentuk terowongan yang rencananya akan dibangun sebagai stasiun
pekerja yang masuk menggunakan APD. WAJIB!

Harganya berapa? Hmmm. pihak Jakarta MRT belum bisa memberitahu harga pastinya. Karena mengenai masalah harga masih didiskusikan. Tapi mereka mengatakan harganya tidak akan jauh dengan harga tiket moda transportasi publik lainnya. Duh semoga harganya sama deh dengan tiket kereta api. heheh. 🙂

Semoga proses pengerjaan MRT berjalan lancar dan bisa digunakan tepat waktu. 🙂

 

ditulis di Kantor Kak Agus

22:35 WIB 22 Mei 2017

sambil denger lagu Malibu-Miley Cyrus

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *