Merajut Kebersamaan Dalam Perbedaan

We all have a good time! 😀
“Kita berhasil mendapatkan kerjasama dengan pihak Trans Studio,” ujar seorang senior pada saat rapat persiapan kegiatan Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut medio 2010 lalu. Saya yang tidak pernah ke Trans Studio pun sangat senang, apa pasal? Karena saya bisa masuk Trans Studio gratis sebagai panitia diklat. 😀
Kegiatan yang mengumpulkan para jurnalis kampus seluruh Indonesia dihelat di Makassar. Saya ditunjuk sebagai salah satu panitia. Tema yang diusung adalah Jurnalisme Investigasi “Mengungkap Kasus Korupsi”, ketika kasus korupsi sedang marak ditanggulangi oleh KPK. Peserta datang dari berbagai daerah, berbagai suku, dan berbagai bahasa dengan satu tujuan, belajar jurnalistik. 
Kegiatan ini berlangsung selama 5 hari dimulai sejak tanggal 12 – 16 Oktober 2010, saya dan teman-teman panitia pun pontang-panting menyiapkan kegiatan ini. Agar teman-teman peserta merasa betah dan nyaman berada di Makassar. Seperti yang kita ketahui, Makassar dianggap sebagai kota yang keras dan kasar. Liputan mengenai kekerasan selalu menampilkan Kota Makassar sebagai salah satu kota yang terkenal kasar. Karena itulah, kami berusaha membuat agar semua peserta ikut membuang stigma negatif tersebut. Makassar tidak kasar, bung! 😀
smile! 😀
Ketika peserta datang satu per satu dari daerahnya masing-masing, saya mendengar cara bicara dan bahasa mereka yang beragam. Ada yang dari Medan, Banten, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat, Aceh, Palu dan beberapa daerah lain. Awalnya agak sungkan, tapi lama kelamaan kami mulai berbaur. Saya juga mengajarkan mereka bahasa Makassar, walaupun bahasa Makassar saya juga sangat pas-pasan. 
Tapi mereka tertarik untuk belajar karena menurutnya bahasa Makassar sangat unik. Setelah kursus singkat itu, tak jarang teman-teman mengucapkan kata di’ atau mi’ pada penempatan yang salah. Misalnya, “Sudahmi’makan?” dengan intonasi bahasa Sunda  atau “Lagi apaji’?” dengan intonasi bahasa Jawa yang medhok. Saya pun merasa melihat diri saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Makassar pada tahun 2008 lalu. Karena pada saat itu, saya juga selalu salah menempatkan imbuhan mi’, ji’, ki’, di’pada setiap percakapan. 
Tak hanya itu saja mereka juga menunjukkan minat untuk mencicip kuliner khas. Saya menunjukkan makanan khas Makassar yang sudah terkenal, seperti Coto Makassar dan Konro, sampai saat ini, masih banyak teman-teman peserta yang ketagihan dengan kuliner khas tersebut. Sayang, saya tak sempat menunjukkan makanan khas seperti Kapurung, Pallu Basa, Itik Palleko, atau penganan basah khas Sulsel lainnya. 
kartu pers beberapa pers kampus di Indonesia. 😀 (photo by Lana Molen)
Selama kegiatan berlangsung, kami menciptakan suasana tak berjarak antara peserta dan panitia. Sehingga menumbuhkan keakraban diantara kami. Jadi jangan heran jika hingga sampai saat ini, kami masih saling berkomunikasi. Sekedar catatan, ketika saya mengunjungi Banten bulan lalu, salah satu peserta dari bernama Luthfi mengajak saya berjalan-jalan keliling kota tersebut. Seru kan? Hubungan yang kami bangun selama tujuh hari cukup untuk membuat kami merasa dekat satu sama lain. 
Hingga tibalah saat malam perpisahan, pihak panitia membawa teman-teman peserta untuk melihat keindahan Kota Makassar.  Karena malam itu sedang malam minggu, maka jangan heran jika Makassar sedang dilanda kemacetan luar biasa. Setelah menembus kemacetan, kami membawa peserta menuju ikon Kota Makassar seperti Pantai Losari, Air Terjun Bantimurung dan Trans Studio. Kenapa harus Trans Studio? Karena menurut kami, wahana permainan terbesar di Sulawesi Selatan ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan ketika berkunjung kesini. Tak salah kami membawa peserta untuk bermain disini. Selain itu kami juga mendapatkan kerjasama dengan pihak Trans Studio. Terima kasih Trans Studio. 😀
seseruan dengan bom-bom car! 😀
Saya yang saat itu baru pertama kali ke Trans Studio benar-benar menikmatinya. Karena permainannya yang seru dan mengasyikkan.  Saya sampai dua kali mencoba wahana Dragon Tower, walaupun harus mengantri hingga puluhan menit. Maklum saja, saat itu sedang malam minggu, sehingga banyak keluarga dan pasangan ikut mengantri permainan ini. 
Selain Dragon Tower saya juga menikmati Roller Coaster. Tak pelak, saya mengantri dua kali untuk mencoba wahana ini. Tapi itu terbayar ketika menaiki wahana yang menantang dan terbilang ekstrem. Ada beberapa teman-teman yang ikut lari-lari demi mengejar waktu dan m
encicipi seluruh wahana di Trans Studio. Saya sempat berebut untuk naik bianglala dan bom-bom car. Hahaha. Saya benar-benar bahagia malam itu.
Setelah puas bermain dan waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 Wita, giliran kami menuju Pantai Losari untuk menikmati keadaan malam disana. Menikmati pisang epe sebentar dan teman-teman yang sudah kelelahan pun mulai bergegas untuk kembali ke bis untuk menuju mess. Karena beberapa dari mereka harus pergi dengan penerbangan paling pagi menuju kota masing-masing. 
Ingatan tentang Diklat Jurnalistik, persahabatan antara sesama jurnalis muda dan Trans Studio  seakan tidak bisa dipisahkan. Saya benar-benar berterima kasih kepada teman-teman panitia, teman-teman peserta, Universitas Hasanuddin dan juga Trans Studio. Karena kalian telah memberikan kesempatan untuk mengenalkan kehidupan Makassar yang tidak seperti dikatakan oleh media mainstream. Makassar rewako! 
Malam Perpisahan di Pantai Losari
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Connected” antara Trans Studio dan Connected
12 September 2014 3:06 PM

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *