Merindu Pulang di Pangkuan Ibunda

Full Team in White! ๐Ÿ˜€
Menjadi anak rantau bertahun-tahun di pulau seberang menjadi terasa sangat menyedihkan. Ketika semua teman-teman pergi berkumpul bersama keluarganya, dan kita hanya sendirian. Selalu ada kerinduan yang  menyeruak ketika menyebut kata โ€œrumahโ€. Perjalanan panjang seakan tiada berarti jika sudah bersandar pada pangkuan ibunda. Bercerita apapun yang sudah dilalui selama setahun belakang. Membuat kenangan yang abadi di dalam ingatan. 

Biasanya saya akan menyetel lagu โ€œSatu Pagi di hari Rayaโ€ dari Raihan dan Nowseeheart berulang-ulang. Menyedihkan sih, tapi paling tidak melegakan mendengar lirik lagu ini. Dan ingat bahwa saya tidak sendirian menjadi seorang perantauan… 
Gema takbir di pagi raya | Ku teringat kampung halaman | Aku di perantauan | Tak kuasa menahan sebak
Gema takbir di pagi raya | Kurindukan ibu di sana | Keluarga sanak saudara | Hanya doa kukirimkan 

Tapi lupakan!! Tahun ini menjadi tahun yang berbeda.. setelah 2 lebaran terakhir menikmati lebaran di Kota Daeng, kali ini saya mendapatkan kesempatan untuk berlebaran di rumah tercinta. Bogor, kota Hujanโ€ฆ ๐Ÿ˜€

Selama seminggu sebelum pulang, saya selalu tertawa-tawa sendiri dan terus menerus melihat kalender di meja kantor. #oranggila. Dan hingga akhirnya datanglah tanggal 25 Juli, saya sudah berkemas sejak tanggal 20 Juli. ๐Ÿ˜€ jadi semuanya sudah siap dan tinggal dibawa ke bandara Pattimura. Perjalanan jauh dari Ambon menuju Jakarta menjadi hal yang paling saya nantikan. Walaupun bawa barang-barang berat, seakan hilang jika mengingat sebentar lagi saya akan tiba di rumah. Di pangkuan Ibundaโ€ฆ 
Pernah dengar ungkapan โ€œOrang yang terlihat kuat, namun lebih rapuh di dalamโ€. Saya adalah salah satu orang tersebut. Boleh saja saya terlihat kuat dan sok keren, tapi saya selalu luluh di pelukan Bunda. Bahkan kadang, rasa-rasanya saya ingin menangis di dalam pelukan beliau. Terlebih lagi jika Bunda menambahkan bonus cium pipi dan elusan di rambut. 
 
Saya paling suka jika bunda mengelus rambut saya. Sambil tidur di pangkuannya dan bercerita tentang kehidupan singkat yang kadang menjadi bahan perbincangan hangat. Tangan beliau yang mengelus akrab terkadang saya rindukan jika sedang di rantau. Ibunda saya adalah tipe orang ramah dan hangat serta mudah bergaul kepada siapa saja. Perlu dicatat, beliau pun sangat ingin tahu apa yang dilakukan anak-anaknya. Jadi jangan heran jika beliau sampai kenal teman-teman SMA dan SMP saya, bahkan teman kuliah. 
Selain Bunda, saya juga terkadang merindukan sosok Ayah. Walaupun beliau tak memiliki hubungan intens dengan saya seperti Bunda. Tapi Ayah mengerti apa yang ada di dalam pikiran saya. Beliau memiliki visi dan pandangan yang lebih humanis dan retoris dibandingkan Bunda. Jadi, jika ingin berbincang mengenai hal-hal yang berbau filsafat ataupun diskusi sosial, Ayah lah tempat terbaik untuk menjadi teman diskusi.
Sepertinya mereka berdua adalah dua mahluk yang diciptakan Allah SWT untuk menjadi penenang dan pemberi ketenangan. Sehingga rumah menjadi hal yang paling saya rindukan jika berada ribuan kilometer dari mereka. 
Selain mereka berdua, saya pun merindukan kegilaan bersama adik-adik saya. Milzam yang sok cool, Hany yang suka teriak-teriak ga jelas kalau digangguin, Majid yang selalu dibilangin jangkung, Azizah yang selalu berkolaborasi dengan Maulana untuk membuat penuh handphone dengan foto-foto mereka berdua. Mereka menjadi sebuah kerinduan lainnya jika ada di rumah. :D
with Datuk (keluarga Padang)
this is my sepupu-sepupu dari keluarga bunda
with my Nenek Yam (keluarga Ambon)
with Mbah Rayi tercintah (keluarga Jawa)
Alhamdulillah, tahun ini saya dapat merasakan kehangatan keluarga dan berkumpul bersama. ๐Ÿ˜€ Apalagi tahun ini ada tripod baru yang saya beli di malam takbiran. Jadi saya bisa mengumpulkan foto-foto edisi lebaran bersama keluarga besar. #senangbanget
Alhamdulillah, mudik kali ini benar-benar menyenangkan. Thanks untuk kamera Nikon D3100 dan tripod tercintah. Semoga betah yaaa.. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Curhatan ini ditulis agar saya tidak melupakan kisah ini. Selain itu curhatan ini masuk dalam kumpulan tulisan #tentangpulang komunitas Travel Blogger Indonesia (TBI). Sila dibuka-buka tulisan teman-teman TBI yang berbicara #tentangpulang ๐Ÿ˜€

kak Indri Juwono – Cirebon : mudik dan perut yang manja
kak Olive Bendon –  Merangkai serpihan kenangan di Peunayong
kak Danan Wahyu Sumirat – Mudik Rindu Rumah
kak Bobby Ertanto – Tradisi Mudik di Keluarga Batak
kak Vika Octavia โ€“ Pulang, Mengenang Kakek
kak Farchan N.Rachman โ€“ Kepulangan yang Agung
kak Yofangga โ€“ Ibu, Aku Pulang
kak Fahmi Anhar โ€“ Tradisi Lebaran di Kampung Halaman
kak Parahita โ€“ Mudik atau Tidak adalah Pilihan
kak Rembulan โ€“ Yogyakarta, Pulangnya Saya
kak Tekno Bolang โ€“ Tentang Pulang
kak Matius Teguh Nugroho โ€“ Selalu Ada Jalan Untuk Pulang
kak Taufan Gio โ€“  Lebaran Terakhir Bersama Nenek
kak Eka Situmorang-Sir โ€“ Pulang Adalah Kamu

ditulis di Depok, 5 Agustus 2014

dan diperbaharui di Ambon, 12 Agustus 2014
๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *