Museum Blikon Blewut dan Sejarah Nusa Tenggara

Benda-benda bersejarah dari daratan Flores
Jika anda datang ke Nusa Tenggara Timur, lebih tepatnya di Pulau Flores, jangan lupa untuk wisata sejarah. Ada sebuah museum yang harus dikunjungi sebelum kembali ke rutinitas harian yang padat di kota asal. Museum Blikon Blewut yang sudah berdiri sejak 1949, menjadi salah satu tujuan para wisatawan dari seluruh penjuru dunia, namun lebih sering orang Eropa yang datang ke museum ini. Terletak di daerah Ledalero, Kab. Sikka menjadi sebuah lokasi wisata keagamaan. Selain museum, ada juga patung Bunda Maria yang sangat besar di daerah Nilo.
 
Bagian dalam museum
bagian luar museum (gedung baru)
Kata Bikon sendiri artinya lampau, sedangkan Blewut artinya sisa peninggalan masa lampau. Karena itu disini anda bisa menemukan koleksi peninggalan bersejarah. Menurut Pak Endi, nama museum Bikon Blewut diturunkan dari syair adat penciptaan semesta alam atau buana, versi Krowe-Sikka yang berbunyi :
Saing Gun Saing Nulun/ Saing Bikon Saing Blewut/ Saing Watu Wu’an Nurak/ Saing Tana Puhun Kleruk/ De’ot Reta Wulan Wutu/ Kela Bekong Nian Tana Lero Wulan. 
Sejak zaman purbakala, ketika bumi masih rapuh, ketika batu masih merupakan buah muda, ketika tanah masih seperti kuntum yang baru muncul, Tuhan di angkasa mencipta bumi, matahari, dan bulan. 
Karena itulah anda bisa menemukan fosil-fosil, pakaian adat, benda-benda porselen, alat musik khas Flores, kain tenun, anyaman dan juga uang-uang masa lampau. Kenapa kalian harus datang ke museum ini? Karena museum ini menyimpan sejarah transformasi manusia Floresniensis menjadi Homo Sapiens. Sebuah museum yang menjadi pengingat bahwa Pulau Flores bernama Pulau Nusa Nipa pada zaman dahulu. 
Pada 11 Juli 1998, Tim Ekspedisi Museum Ledalero yang dipimpin Piet Petu SVD dan Ansel Doredae SVD menemukan fosil tengkorak manusia raksasa (a mythical gigantic skeleton) di Lia Natanio, Ngada, yang terletak 12 kilometer dari lokasi penemuan fosil Stegodon di Ola Bula. Fosil itu kini sedang dipelajari atas dasar hipotesis bahwa besar kemungkinan fosil tengkorak tersebut mempunyai kaitan historis dengan fosil gajah Stegodon.
Theodor Verhoeven SVD pada 1954 juga menemukan fosil manusia purba penghuni goa di Liang Toge, bagian utara Kabupaten Manggarai yang berbatasan dengan Riung, Ngada. Fosil yang ditemukan jenis manusia kerdil. Usia diperkirakan di atas 40 tahun dengan tinggi badan cuma 146 sentimeter. Usia fosil itu diperkirakan 300.000 tahun SM.
Salah satu fosil tengkorak manusia purba
Yang sangat disayangkan, pernah ada sebuah fosil gading dari masa lampau yang dicuri pada tahun 2006. Hal ini menunjukkan bahwa koleksi bersejarah seperti ini masih butuh penjagaan ketat. Karena dari fosil-fosil ini, sejarah masa lampau bisa diketahui.
Jadi, tunggu apalagi untuk mengenal Flores lebih dekat? Lokasi museum ini tidak terlalu jauh dari Maumere kok. Hanya 10 km saja, jalanan pun sudah aspal halus. Jadi tidak perlu khawatir, selain pemandangan indah di sisi jalan menambah serunya perjalanan ke Musuem Bikon Blewut. 😀
This article dedicated to Mira yang udah nemenin jalan-jalan ke Museum Blikon Blewut. 😀
Ditulis di Café sebelah Gramedia Maumere
Jumat, 23 Mei 2014 12:28 PM 
kesendirian mengajarkan kita ketabahan
Me with Pak Endi, Penjaga museum sejak tahun 1984

Penutup jenazah Raja Sumba

You may also like

2 Comments

  1. hahah. ak kenal sama kak Nur, rumah mama angkatku di Wuring kak.Berapa lama di Maumere kak? saya 6 bulan tinggal disana pas tahun 2014. 😀
    Have fun disana kak. Enjoy Maumere. salam untuk kak Nur. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *