One Fine Day in Rotterdam

Sepanjang ingatan saya tentang Rotterdam adalah sebuah benteng di kota Makassar. Benteng yang menjadi simbol pertahanan kerajaan Gowa Tallo dan dibangun pada tahun 1545 masih berdiri dengan gagah. Hingga akhirnya benteng ini berganti nama menjadi Fort Rotterdam ketika Belanda berhasil menguasai daerah tersebut dan memaksa kerajaan Gowa Tallo untuk menandatangani perjanjian Bungayya. Dari sinilah benteng yang bernama asli Benteng Ujungpandang diganti menjadi Fort Rotterdam. Sang Gubernur Jenderal, Cornelis Speelman memilih nama ini sebagai cara untuk mengingat kota kelahirannya.

Dan sekarang ratusan tahun kemudian, saya datang di kota ini, Rotterdam. .

Sejarah Rotterdam

Rotterdam merupakan kota pelabuhan utama di provinsi South Holland. Dikenal sebagai kota dengan populasi terpadat kedua di Belanda setelah Amsterdam. Sejarah kota ini dimulai sejak tahun 1270, ketika sebuah dam (tanggul) dibangun di sungai Rotte. Setelah itu banyak orang yang mulai tinggal disini. Dan di tahun 1340, Rotterdam mendapatkan sebutan kota dari Count of Holland.

Ketika perang dunia ke 2 terjadi, kota ini pernah hancur sehancur-hancurnya. Pada saat itu Jerman melakukan pemboman di kota ini melalui pesawat udara. Peristiwa ini terjadi di tahun 1940 dan dikenang sebagai Rotterdam Blitz. Karena kejadian ini banyak tempat-tempat bersejarah yang hancur lebur.

Saat ini Rotterdam diubah menjadi kota dengan arsitektural yang lebih modern. Beberapa bangunan dibuat dengan arsitekturnya yang sangat unik. Perubahan bentuk kota ini membuat Rotterdam sebagai salah satu kota dengan pemandangan yang unik. Kalian bisa melihat beberapa arsitektur unik kota Rotterdam disini

Karena lokasinya yang terletak dengan laut Utara dan tepat di mulut kanal Nieuwe Maas yang mengarah ke delta sungai Rhein – Meuse – Scheldt, Rotterdam diakui sebagai kota pelabuhan tersibuk sedunia. Hingga akhirnya posisi itu lepas ke tangan kota Shanghai pada tahun 2005.

Perjalanan menuju Rotterdam

Perjalanan saya menuju Rotterdam awalnya karena ingin menjenguk teman koridor, Laura. Ia divonis mengidap penyakit langka yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Hal ini membuat kami berjanji untuk menjenguknya siang itu.

Kami menggunakan kesempatan terakhir untuk menggunakan Group Ticket dengan harga 10 euro untuk pulang pergi. Karena setelah tanggal 15 Januari, skema grup tiket akan sangat berbeda dan akan sangat menyusahkan bagi pelajar seperti kami yang tinggal di pinggir kota.

Perjalanan menuju Rotterdam memakan waktu sekitar 2 jam. Perjalanan dimulai dari Stasiun Ede-Wageningen kemudian kami harus berhenti di Stasiun Utrech dan menunggu kereta menuju Rotterdam. Sepanjang perjalanan saya hanya makan dan ngemil kue-kue yang dibawa Arif sebagai bekal di dalam perjalanan.

erasmus monument

Setelah perjalanan selama dua jam, kami segera menghubungi teman Daniel. Ia akan menjadi tur guide selama kami di Rotterdam. Namanya Santika. Ketika menunggu Santika, kami menemukan sebuah monumen untuk memperingati Erasmus. Yang namanya saat ini menjadi salah satu universitas ternama di seluruh dunia yaitu Erasmus University. Monument ini terletak dekat dengan gereja St Laurenskerk yang tetap berdiri ketika Rotterdam Blitz terjadi.

Melihat Arsitektur Rotterdam

Sebelum kami melihat-lihat kota Rotterdam, Santika mengajak kami ke sebuah restoran Indonesia yang bernama Anugerah. Sebuah papan berwarna merah putih menjadi penanda. Indonesisch Eethuis & Catering tertera di depan jendela rumah makan ini.

nyam!!

Rumah makan ini mengusung konsep Toraja. Karena itu banyak pola kayu ukir Toraja yang sering saya lihat di gereja Toraja. Pola ukir ini sangat khas karena berbentuk kotak-kotak dengan dominasi warna merah dan hitam. Selain itu ada boneka-boneka kayu khas Toraja yang pernah saya lihat di makan khas Toraja.

Setelah makan berakhir, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Rumah Sakit. Karena tujuan awal datang kesini adalah menjenguk Laura. Tapi sepanjang perjalanan kami melihat Kijk Kubus, Markthaal, Gereja saint Laurenskerk, De Calypso, De Bijenkorf, dan beberapa bangunan lain.

Jika datang kesini sangat wajib untuk mengunjungi Museum Maritim yang terletak di Leuvehaven 1 menjadi salah satu atraksi menarik. Disinilah pengunjung bisa mengenal kenapa kota ini dijuluki sebagai kota pelabuhan. Selain itu ada simulasi dengan pesawat dan kapal-kapal. 🙂

Kijk kubus
Maarkthal

Semangat untuk Laura

Setelah kami melihat-lihat kota, kami melangkahkan kaki menuju Rumah Sakit Erasmus. Disanalah teman kami dirawat. Ia divonis mengidap penyakit lupus, sebuah penyakit yang belum ada obatnya hingga saat ini. Padahal Laura merupakan teman yang sangat ceria. Saya seringkali bercanda tawa dengannya di pagi hari ketika sarapan ataupun di saat makan malam.

dari kami untuk Laura

Selama ini kami tak tahu bahwa Laura dirawat di Rotterdam. Karena kami mendapatkan libur dua minggu, jadi kami pikir Laura pergi ke Kolombia untuk liburan bersama keluarganya. Namun ternyata sakit tak bisa diprediksi kapan datangnya. Laura roboh tiba-tiba dan butuh alat bantu pernafasan untuk menjaga paru-parunya tetap berfungsi.

Ketika kami tiba disana, kakak Laura memberikan kabar yang kurang baik. Laura tak bisa ditemui karena kondisinya yang sedang lemah. Ia hanya meminta kami untuk berdoa untuk kesembuhannya Laura. Kami semua tak bisa berkata apa-apa. Perjalanan pulang menjadi perjalanan yang penuh dengan diam. .

Semoga ia baik-baik saja.

Wrap Up untuk Rotterdam?

Karena saya tak terlalu mengeksplore Rotterdam, membuat saya ingin kembali lagi ke tempat ini. Karena masih banyak bangunan unik yang belum saya eksplore. Kalau bisa dibilang, saya suka kota ini karena tertata dengan apik dan unik. 🙂

ditulis di Asserpark 10 C

10:32 CET 17 February 2018

sambil denger lagu The One – Kodaline

 

harga makanan di Anugerah
gak tau ini dimana
koridor 10 C dan Santika
Penampakan depan Anugerah
pasar bunga

Source : Sejarah Rotterdam Google

You may also like

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.