Potret Kehidupan Penambang Emas di Pulau Buru


foto keadaan penambang liar di Gunung Botak, Pulau Buru (sumber : google)

Ingat dengan Tetralogi Buru yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ketika di pengasingan dan menjadi tahanan politik? Buku sejarah yang disamarkan menjadi novel saksi bisu zaman orde baru. Pulau Buru yang terletak di sebelah barat Pulau Seram menjadi terkenal karena novel tersebut. Saya pun tertarik dengan kehidupan di Pulau Buru saat ini. Karena Pulau Buru dikenal bukan hanya soal novelnya, namun karena emas. 
Pulau ini pernah menjadi sasaran manusia untuk mendulang emas  Para pencari emas datang dari mana-mana menuju Gunung Botak. Dari Sulawesi, Jawa, Kalimantan, Maluku hingga daratan Sumatera. Mereka sama-sama punya tujuan yang sama, emas. Sejak ditemukan emas di Gunung Botak, Pulau Buru pada pertengahan tahun 2011, banyak orang berbondong-bondong datang ke tempat tersebut.
Beruntung, pada kedatangan saya ke Pulau Buru, saya bertemu dengan Pak Aldi, salah seorang mantan penambang emas. Menurut Pak Aldi, ia pernah mendapatkan 500 gram emas sekali menambang. Itu ketika awal-awal penambangan dimulai. Tapi saat ini jangan berharap untuk mendapatkan jumlah sebesar itu. Sangat sulit mendapatkan emas, “mungkin emasnya sudah habis,” ujarnya.
Pak Aldi bercerita mengenai awal ia ikut menambang. Ia datang dari Pulau Seram bersama dengan teman-temannya. Harapannya satu, ia bisa mendapatkan emas yang banyak untuk keluarga di kampung. Ia menceritakan kehidupan di tambang, para penambang menggunakan kantong plastik yang sudah diisi udara oleh blower. Kemudian mereka masuk ke dalam gua untuk menggali emas. Gua yang sudah digali kemudian ditopang oleh kayu atau besi. Jika plastik sudah kehabisan udara karena blower mati, otomatis penambang bisa wafat di dalam tambang. “Katongsudah sering dengar dorangcerita-cerita begini di lokasi penambangan,” imbuhnya. Para penambang yang meninggal di lokasi penambangan, tidak dimakamkan secara layak. Karena para penambang mencari emas hingga ke dalam tanah, sehingga jika mereka tertimbun oleh tanah yang mereka gali, penambang lain tak mungkin mengangkat mereka ke atas. 
Selain kematian karena faktor kecelakaan kerja, ia mulai berkisah mengenai Suku Gunung yang menempati daerah penambangan. Suku yang masih tergolong primitif dan belum mengenal teknologi. Bahasanya pun belum menggunakan bahasa Indonesia. Suku ini masih menggunakan tombak sebagai senjata utama. Menurut Pak Aldi pernah ada penambang yang meninggal karena ditombak oleh suku ini. Alasannya bermacam-macam, mulai dari pencurian yang dilakukan penambang di hunian suku gunung, atau karena pelanggaran adat. 
Ketika emas sedang marak di Pulau Buru, banyak penjual yang menaikkan harga hingga berkali-kali lipat. Jangan pernah berharap mendapatkan nasi bungkus harga 10ribu. Pedagang bisa menjual sebungkus nasi dengan harga 50 ribu. Bukan hanya nasi saja yang naik, namun semua harga-harga barang di sekitar lokasi tambang. Jadi jangan heran pada saat itu satu liter bensin bisa dihargai hingga 20ribu. Karena para pedagang merasa bahwa penambang memiliki banyak uang hasil dari penjualan emas. 
Saat ini lokasi tambang tak menjanjikan banyak emas. Para penambang yang sudah tidak mendapatkan emas mulai meninggalkan tambang satu per satu. Pak Aldi awalnya masih berusaha bertahan di tengah kondisi kesulitan emas. Namun hingga akhirnya ia merasa bahwa emas disini sudah habis, ia pun banting setir menjadi nelayan kembali. Uang yang ia dapatkan di lokasi tambang sudah habis ia gunakan untuk bersenang-senang. (Sssttt.. disana ada juga tempat prostitusi bagi penambang). Ia tidak menyangka jika emas akan habis dengan cepat, sehingga ia tidak memiliki persiapan yang memadai. 


Potret lokasi tambang saat ini menyisakan lara. Gunung yang tandus ini mempunyai lubang-lubang sisa penambangan. Masyarakat menyebutnya “lubang tikus”, karena banyaknya lubang dan mirip seperti tempat tinggal hewan pengerat. Yang paling parah adalah jejak merkuri yang ditinggalkan para penambang. Karena untuk mencuci emas dari tanah, para penambang menggunakan merkuri di sekitar aliran sungai. Air yang telah bercampur merkuri langsung menuju laut tanpa ada saringan yang memadai. Alhasil tingkat merkuri di laut Pulau Buru menunjukkan angka yang tergolong tinggi.
Penggunaan air raksa atau zat berbahaya merkuri oleh para penambang ilegal ini, kini menimbulkan dampak buruk yang cukup luas. Misalnya saja enam ribu hektare sawah yang tersebar di dataran Waeyapo, Kabupaten Buru, rusak dan terancam musnah. Selain itu ribuan hektare lahan kayu putih yang menjadi primadona Kabupaten Buru, kini rusak parah, selain itu tiga belas titik air  sungai yang ada di Kabupaten Buru, kini diduga telah tercemar air raksa atau zat mercuri. Tak hanya itu pula mercury ini juga diduga  telah mencemari laut di Teluk Namlea, Kabupaten Buru yang menjadi tempat mata pencaharian nelayan setempat.
Saat ini Pemerintah Pulau Buru telah melarang kegiatan penambangan di Gunung Botak. Hal ini dilakukan setelah banyaknya laporan kecelakaan kerja yang terjadi disana. Namun menurut beberapa orang masih ada penambang liar yang mencoba peruntungan di sisa-sisa Gunung Botak. Mereka masih berharap mendapatkan emas sebesar pertama kali, walaupun harus “kucing-kucingan” dengan pemda setempat dan bermain dengan kematian.
Ditulis di kantor Harta Samudera setelah diendapkan begitu lama di dalam laptop kesayangan
Senin, 15 September 2014 3:11 PM

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *